Jumat, 31 Mei 2013

Berkarakter Sesuai Pedoman

Membangun Karakter dasar dalam Islam

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوباً وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ
أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ -١٣-
QS Al Hujurat: 13

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ
QS. Al-Qalam : 4

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً
QS Al Ahzab: 21

Mu’awiyah bin al-Hakam radhiallahu ‘anhumengungkapkan kekagumannya terhadap Rasulullah saw: “Aku tidak akan melihat seorang pendidik sebelum beliau dan sesudahnya yang lebih baik dari beliau.” (HR Muslim no. 836)

مَا رَأَيْتُ مُعَلِّمًا قَبْلَهُ وَلَا بَعْدَهُ أَحْسَنَ تَعْلِيمًا مِنْهُ رواه مسلم

*****************
Jangan Menyerah

Kalau kita menyerah menyelamatkan anak didik kita, lalu siapa yang akan membelanya?

Kalau kita kehilangan cara mengajak anak didik kembali pada kebaikan, lalu siapa yang akan melakukan?

Kalau kita putus asa mengajak mereka kembali mengejar surga yang Mahatinggi, siapa lagi?

*****************
TWG (President Teachers Working Group "Herry Nurdi")

JIKA KAU MAMPU, JADILAH BESAR

Jika Mampu, Jadilah Besar,,,!!!

Jika kau mampu, jadilah sesuatu yang besar, menggelora, mengubah, mewarnai, bahkan mencipta sejarah. Jika kau mampu, kau harus menjadi yang tinggi, atau yang dalam sekali, agar besar manfaatmu untuk manusia dan alam ini.
Tapi jika kau tak mampu, tak mengapa. Jadi kecil saja, setitik, mungkin tak nampak, bahkan tak terasa. Tapi kau mandiri, tak merepotkan sesama, dan tak menimbulkan kerusakan di tempat kau berada. Jika kau tak mampu, jadi kecil pun tak apa, asal kau tak mengganggu, apalagi menjadi penghalang ketika kebaikan dan kebenaran ditegakkan.

Maka, jika kau mampu, jadilah jalan yang besar, tempat banyak orang memanfaatkanmu untuk menempuh perjalanan menuju tujuan. Pergi dan kembali, dengan baik dan selamat, tiba di tempat.
Tapi jika kau tak mampu, tak mengapa. Jadi saja jalan setapak, yang bahkan hanya bisa dilewati seorang saja, mungkin itu dirimu sendiri. Tapi jadilah jalan setapak yang menuju tujuan, tak sesat di tengah jalan. Maka kau telah menolong lainnya dengan cara tak menjadi beban yang memberatkan.

Maka, jika kau mampu, jadilah lampu besar yang benderang. Memberi sinar dan mengusir kegelapan, bahkan bercahaya menampakkan pemandangan. Kau buat sekitarmu, menikmati terang dan tak dirundung pekat kegelapan.
Tapi jika kau tak mampu, tak mengapa. Jadi saja lentera kecil, meski sinarnya temaram tapi itu berguna untuk dirimu agar tak sesat di tengah kegelapan. Mungkin tidak seterang lampu besar, mungkin tidak sebenderang sinarnya, tapi lentera itu insya Allah menjagamu agar tak dirundung kegelapan.

Maka, jika kau mampu, jadilah hujan dan bandang, dengan airnya kau gerus semua kebathilan dan kemunkaran. Maka jadilah badai dan gelombang, yang akan kau gunakan kekuatannya untuk memerangi keburukan.
Tapi jika tak mampu, tak mengapa. Kau jadi saja setetes embun di ujung-ujung daun. Menyegarkan mata yang memandang, dan menghapuskan dahaga rumput-rumput yang meski liar, tetap memerlukan sentuhan. Jadilah setitik air yang melampangkan harapan serta kehidupan.

Jika Kau Tak Mampu,,,

Jika kau tak mampu menjadi besar, tak mengapa. Jadi kecil saja, mandiri, tak menjadi beban, dan tak pula menjadi penghalang. Itu pun, cukup sudah, di ujung perjalanan kita akan bertemu sebagai orang-orang yang dipersatukan dalam kebaikan. Insya Allah. Aamiin!

****************************
TWG (Teachers Working Group), President TWG "Herry Nurdi"

Selasa, 28 Mei 2013

misteri

Setiap perjumpaan akan mengalami perpisahan
setiap yang sakit akan mengalami kesembuhan
setiap kelahiran akan mengalami kematian

Rabu, 22 Mei 2013

Sepanjang Hidup

Aku bersyukur kau di sini kasih
Di kalbuku mengiringi
Dan padamu ingin ku sampaikan
Kau cahaya hati
Dulu ku palingkan diri dari cinta
Hingga kau hadir membasuh segalanya
Oh inilah janjiku kepadamu

Reff:

Sepanjang hidup bersamamu
Kesetiaanku tulus untukmu
Hingga akhir waktu kaulah cintaku cintaku
Sepanjang hidup seiring waktu
Aku bersyukur atas hadirmu
Kini dan selamanya aku milikmu
Yakini hatiku kau anugerah
Sang Maha Rahim Semoga Allah berkahi kita

Kekasih penguat jiwaku
Berdoa kau dan aku di Jannah Ku temukan kekuatanku di sisimu
Kau hadir sempurnakan seluruh hidupku
Oh inilah janjiku kepadamu

Repeat reff

Yakini hatiku bersamamu ku sadari inilah cinta
Tiada ragu dengarkanlah Kidung cintaku yang abadi

Repeat reff

::():: Maher Zain ::()::

****‡****★****‡****★*****‡****★****

~[]°`°[]~ Untuk Suami ku kelak ~[]°`°[]~

Selasa, 21 Mei 2013

Koreksi Hati


Jika kita membicarakan hati, apa yang terlintas di benak kalian saudaraku....?

Ada yang mengatakan bahwa hati tidakl lepas dari berbagai macam perasaan atau emosi. Yaa,,, pendapat itu tidak salah, tapi yang perlu kita ingat bahwa hati kita di ciptakan oleh Alloh dengan rasa yang berbolak balik, hari ini A, besok B, besoknya lagi C, bahkan bisa ke A atau ke B lagi.

Mengapa demikian???

Hidup ini tidak akan pernah lepas dari Sang Maha Kasih yaitu Alloh Azza Wajallah. Apapun yang terjadi, semua atas kehendak NYA. Mintalah petunjuk kepada Sang Maha Mengetahui, Sang Maha Bijaksana, Segala puji bagi NYA.

Membicarakan masalah hati, coba hati-hati dengan suara hati,,,!!!

Jangan suka bermain hati,,,!!!

Jagalah hati,,, janganlah kau nodai, jagalah hati,,, lentera hidup ini, (syair K.H. Aa Gym)

Yaa,,, kita harus menjaga hati kita sendiri, dengan demikian kita bisa menjaga hati orang lain.
Sebaliknya, orang yang tidak bisa menjaga hatinya maka dia pun tidak bisa menjaga hati orang lain. Biasanya orang seperti ini tidak bisa mengoreksi dirinya sendiri, bicaranya ngasal, merasa benar, hingga dia tak sadar lisan dan perbuatannya menyakiti orang lain. Na'uzubillah min zhalik

Oleh karena itu sahabatku,,,,
Cek lah hati kita,,, koreksi setiap harinya,,, bersihkan dengan dzikir kepada NYA,,, semoga kita selalu dalam petunjuk NYA. Aamiin,,,,

Yukk jadi orang baik,,,! :-) 


Kamis, 16 Mei 2013

Zuhud

Mukhallad bin Al Husain “Zuhud terhadap dunia: mengambil yang halal”

Think Positive

Berkata Qatadah rahimahullah – Jangan kau katakan “aku dengar” padahal sebenarnya kau tidak mendengar, dan jangan kau katakan “aku melihat” padahal kau tidak melihat. Sesungguhnya Allah akan bertanya kepadamu tentang itu semua

Belajar dan Mengajarkan Al-Qur'an

Diantara pintu-pintu dakwah yang paling besar adalah memperdengarkan kepada manusia firman Allah

Obat Hati

Berkata sebagian ahli ilmu, obat hati ada 5 : membaca Al Qur’an dan mentadabburinya, mengosongkan perut, shalat malam, berdoa dari sihir, duduk bersama orang-orang shalih

Rabu, 15 Mei 2013

SUNNAH LOVER

Assalammu'alaikum

~::~Berbagi Indahnya Sunnah~::~

Bapak dan Ibu yang ananda sayangi, kalau di sana ada orang tua yang melarang putrinya untuk menikah dengan laki-laki shalih pilihannya hanya karena belum mapan, tidak punya pekerjaan tetap, atau ingin mencari menantu PNS walaupun tidak baik agamanya sehingga menolak pelamar yang shalih padahal mereka berdua sudah sama-sama cocok.

Hal ini adalah bukanlah tindakan yang tepat bahkan membahyakan seorang anak. Allah Ta’ala berfirman : وَأَنكِحُوا الأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ “ Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (untuk menikah) dari hamba-hamba sahayamu laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. “(Qs. An Nur’ : 32 )

Dan Rasulullah shallahu ‘alahi wasallam bersabda : “ Jika datang kepada kalian seorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia (dengan anak kalian). Jika tidak, maka akan terjadi fitnah dibumi dan kerusakkan yang besar “ (HR. At Tirmidzi, Al Baihaqi dan ini lafadznya, dihasankan oleh syaikh al AlBani)

Bapak dan ibu yang ananda sayangi, menikah adalah perkara yang sangat baik terkandung didalamnya kebaikkan dan manfaat yang sangat banyak termasuk menyegerakan untuk menikah, diantaranya dengan menikah seseorang menjadi terjaga dari maksiat dan yang lainnya. Bahkan menikah yang hukumnya sunnah (dianjurkan) bisa menjadi wajib pada kondisi jika seseorang mampu untuk menikah dan khawatir jika tidak menikah akan terjatuh kedalam perbuatan maksiat maka hukumnya menjadi wajib. Maka bukan alasan yang dapat dibenarkan jika di sana ada orang tua yang menghalangi anaknya untuk segera menikah hanya karena alasan ingin agar selesai studinya dulu.

Lihat diantara teladan kita, salah seorang sahabat Rasulullah shalallhu ‘alahi wasallam dan seorang bapak dari seorang putri, yaitu Umar Bin Khatab Radhiyallahu ‘anhu mencarikan calon suami untuk putrinya agar segera untuk dinikahi. “ Bahwasannya ketika Hafshah binti Umar menjanda karena (suaminya yang bernama) Khunais bin Hudzaifah As Sahmi meninggal di Madinah, dan ia termasuk dari kalangan sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Umar bin Khaththab berkata : ‘ Aku mendatangi Utsman Bin Affan untuk menawarkan Hafshah kepadanya lalu Utsman menjawab : “ Aku akan melihat urusanku. Lalu aku (Umar) menunggu selama beberapa malam dan kemudian Utsman bin Affan mendatangiku. Ia berkata : “ Telah jelas bagiku untuk aku tidak menikah pada saat ini. “ Umar berkata : “ Kemudian aku mendatangi Abu Bakar As Shidiq, aku katakan kepadanya,“ Kalau kamu mau, aku akan menikahkanmu dengan Hafshah binti Umar. Lalu Abu Bakar terdiam tidak memberikan jawaban kepadaku sama sekali. Sehingga aku lebih tersinggung kepadanya daripada kepada Utsman. Kemudian aku (Umar) menunggu beberapa malam lalu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam melamarnya dan aku menikahkan Hafshah dengan beliau.” Setelah itu Abu Bakar mendatangiku dan berkata : “ Mungkin kamu marah kepadaku ketika kamu menawarkan Hafshah kepadaku dan aku tidak memberikan jawaban sama sekali kepadamu.” Aku katakan : “ Benar” , Abu Bakar berkata : “ Sebenarnya tidak ada yang menahanku untuk memberikan jawaban terhadap tawaranmu kepadaku. Hanya saja aku mengetahui bahwasannya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam pernah menyebut namanya, dan tidak pantas untuk aku menyebarkan rahasia Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, kalau saja Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam meninggalkannya maka pasti aku akan menerimanya.” (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari) Bapak dan ibu yang ananda sayangi, tentu semua orang tua insya Allah menginginkan kebaikkan untuk anaknya, ingin anaknya senang dan bahagia. Kebahagiaan seseorang adalah dengan mengikuti pentunjuk Rasulullah shalallahu alaihi wasallam dalam semua aspek kehidupan. Diantaranya tentang masalah menikah. Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Sesungguhnya sebenar-benar perkataan adalah Kitabullah (al-Qur’an) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad (as-Sunnah). Seburuk-buruk perkara adalah perkara yang diada-adakan (dalam agama), setiap yang diada-adakan (dalam agama) adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di Neraka.” (HR. Ahmad di shahihkan oleh Syaikh al AlBani dan Syaikh Muqbil dari sahabat Abdullah Bin Mas’ud )

Dan Rasulullah shallahu ‘alahi wasallam bersabda : “ Jika datang kepada kalian seorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia (dengan anak kalian). Jika tidak, maka akan terjadi fitnah dibumi dan kerusakkan yang besar “ (HR. At Tirmidzi, Al Baihaqi dan ini lafadznya, dihasankan oleh syaikh al AlBani)

Dari dua hadist ini dapat kita ketahui bahwa termasuk petunjuk Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam adalah menikahkan anak putri kita jika ada seorang yang shalih, baik agama dan akhaknya datang melamar putri kita, baik yang dilamar putri kita yang pertama atau yang kedua. jika tidak maka akan terjadi fitnah (kerusakkan).

Maka dari sini dapat kita ketahui kelirunya jika disana ada orang tua yang bersikukuh tidak mau menikahkan putrinya dengan laki-laki shalih pilihannya hanya karena dia melangkahi kakaknya yang belum menikah. Sehingga bapaknya melarang anaknya menikah dengan orang yang hendak melamarnya dengan alasan kakaknya belum menikah, dengan alasan tidak boleh melangkahi kakaknya. Mana petunjuk Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam yang mengajurkan demikian…? jawabanya tidak ada. Jelas perbuatan itu tidak dibenarkan oleh agama kita yang mulia karena mengandung kedzaliman terhadap anak kita.

Dan Allah Subhaanahu Wata’ala Berfirman dalam sebuah hadist Qudsi ” Wahai para hambaku sesungguhnya Aku mengharamkan kedzaliman atas diri-Ku, dan menjadikan kedzaliman sesuatu yang diharamkan atas kalian, maka janganlah kalian berbuat dzalim “ (HR. Muslim dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘Anhu ) Termasuk juga menyaratkan dengan mahar yang tinggi atau dengan pesta yang mewah kepada calon suami putri kita, karena berat dengan syarat yang diajukan akhirnya proses menuju pernikahan pun gagal, padahal Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda : “ Sebaik-naik pernikahan ialah yang paling mudah “ (HR. Abu Dawud, Ibnu Hibban dan ath Thabrani dishahihkan oleh Syaikh al Albani dari Uqbah bin Amir Radiyallahu ‘Anhu)

Dalam hadist lain Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam bersabda : “Sesungguhnya diantara kebaikan wanita adalah mudah meminangnya, mudah maharnya dan mudah rahimnya.“ (HR. Ahmad, Ibnu Hibban dan al Hakim, dihasankan oleh Syaikh al Albani) Bapak dan Ibu yang ananda sayangi, semoga bapak dan ibu bisa memahami keinginan putrimu yang memutuskan untuk segera menikah dengan laki-laki shalih pilihan putrimu, insya Allah itulah yang terbaik untuk ananda bahkan untuk bapak dan ibu.

Dari buah hatimu yang menyayangi bapak dan ibu Fulanah

—-oooo—-

(via Mariah Ulfah Tsabitah)

Senin, 06 Mei 2013

SIMPLE

aku punya cinta yang sederhana, kan kuberi untuk orang yang sederhana, aku punya ketulusan, kan kuberi untuk orang yang tulus mencintaiku, aku punya kesabaran, karena cinta butuh pengorbanan, aku semakin tegar, kala cinta dinodai,

Minggu, 05 Mei 2013

Perkara Yang Dibutuhkan Dalam Rumah Tangga

PERKARA YANG DIBUTUHKAN DALAM RUMAH TANGGA 

Robbis rohli sodri, wayas sirli amri, wahlul 'uqdatam mil lisani yafqohu qouli

Hadist Pernikahan :

وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: {مَنْ تَزَوَّجَ فَقَدْ 

أُعْطِيَ نِصْفَ الْعِبَادَةِ

Man tazawwaja faqod 'a'tiya nisfal 'ibaadah

"Siapa yang menikah maka sungguh ia telah diberi setengahnya ibadah." (HR. Abu Ya'la)

Adapun Modal dan Pondasi yang harus dimiliki oleh seseorang dalam berumah tangga :

1. Takut Kepada Alloh

Dengan rasa takut akan muncul perangai-perangai yang baik, akan berusaha mendidik istrinya, istrinya akan berbakti kepada suaminya, karena itu kewajiban kepada suaminya. Takut kepada Alloh adalah modal. Rasa takut kepada Alloh mencegah kemaksiatan.

2. Cinta Karena Alloh, dan Membenci Karena Alloh

Cintailah Alloh melebihi cinta terhadap pasangan. Cinta kepada dunia adalah cinta yang tidak akan pernah kekal, orang yang mencintai karena dunia, pada hari kiamat maka akan bermusuhan. (Kecantikan, harta, keturunan, agama) dari awal kita menikah itu karena Alloh, kalau sekarang belum karena Alloh, maka marilah semua karena Alloh. Apabila keyakinan cinta karena Alloh dan Rosul telah mengakar, maka keselamatan agama Ia cintai daripada gemerlapnya dunia. Alloh akan memberikan keberkahan. Kesemuaannya berasal dari aqidah.

3. Al-Qona'ah (Merasa Cukup Dengan Pemberian Alloh)

Bersyukurlah dengan penghasilan hidup dunia. Sebaik-baiknya keadaan istri dan suami dalam keadaan ma'ruf.

Bagaimanakah kiatnya?

*Ditumbuhkan Rasa Zuhud
Zuhudlah di dunia maka Alloh cinta kepada mu. Seperti apa zuhud itu?
~Bukan berarti meninggalkan kemewahan
~Bukan tidak mau memakai baju bagus
~Bukan berarti tidak memakan daging
~Menyimpan harta di tangan, bukan di hati
~Engkau lebih percaya kepada Alloh, dan lebih percaya apa yang ada di sisi Alloh, daripada apa yang ada di sisi manusia.

ZUHUD ADALAH QONAAHNYA seseorang. Merasa bersyukurnya seseorang, merasa cukupnya seseorang.

4. Sabar (Dalam Segala Sesuatu)

Tanpa sabar kita tidak bisa hidup dari dunia. (Sabar tidak akan pernah kita dapatkan kalau kita tidak punya aqidah.Ujian berumah tangga pada umumnya adalah ekonomi yang morat marit, Sikap suami/istri.OLeh karena itu kembali lagi kepada Aqidah, karena aqidah adalah sumber kebaikkan seorang hamba.

5. Ikhlas (Pondasi Kebahagiaan Rumah Tangga)

Al Zumar : 2  (Keikhlasan)

اِنَّاۤ اَنۡزَلۡنَاۤ اِلَيۡكَ الۡكِتٰبَ بِالۡحَقِّ فَاعۡبُدِ اللّٰهَ مُخۡلِصًا لَّهُ الدِّيۡنَ ؕ‏ ٢

Innaa angzalnaa ilaykalkitaaba bilhaqqi, fa'budillaaha mukhlisollahuddiyyn

Sesungguhnya Kami menurunkan Kitab (Al-Qur`an) kepadamu (Muhammad) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya.


Itulah 5 perkara yang kesemuaannya membutuhkan pada aqidah yang kokoh. Begitu pula untuk mendidik anak-anak kita yang harus ditanamkan adalah aqidah. Penanaman aqidahlah yang pertama kali.

Cara Menanamkan Aqidah Kepada Anak :
A. Seorang suami atau istri harus berilmu.
B. Amal = dengan cara mempraktikkan ilmu, tanpa ini sulit, InsyaAlloh dengan mempraktikkan, maka seorang istri dan anak akan tergugah juga. Praktik dampaknya ebih kuat. :)

#Keep Istiqomah,,,, SEMANGKA (Semangat Karena Alloh)

Salam : Mariah Yufa/Mariah Ulfah/Yufa Mariah 

***

Sabtu, 04 Mei 2013

Hijab Itu Adalah Ketaatan Kepada Alloh Dan Rasul

Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah mewajibkan ketaatan kepada Alloh dan Rasul-Nya berdasarkan firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala (yang artinya): “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak pula bagi perempuan yang mu’minah, apabila Alloh dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Alloh dan Rasul-Nya maka sesungguhnya dia telah sesat, dengan kesesatan yang nyata.” (Q.S. Al-Ahzab: 36)

Alloh Subhanahu wa Ta’ala juga memerintahkan kaum wanita untuk menggunakan hijab sebagaimana firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala (yang artinya): “Dan katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluan-nya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (Q.S An-Nur: 31)

Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya): “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah.” (Q.S. Al-Ahzab: 33)

Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yanga artinya): “Apabila kamu meminta suatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” (Q.S. Al-Ahzab: 53)

Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya): “Hai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” (Q.S. Al-Ahzab: 59)

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Wanita itu aurat” maksudnya adalah bahwa ia harus menutupi tubuhnya. Hijab Itu ‘Iffah (Kemuliaan) Alloh Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kewajiban menggunakan hijab sebagai tanda ‘Iffah (menahan diri dari maksiat). Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya): “Hai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu.” (Q.S. Al-Ahzab: 59)

Itu karena mereka menutupi tubuh mereka untuk menghindari dan menahan diri dari perbuatan jelek (dosa), “karena itu mereka tidak diganggu”. Maka orang-orang fasik tidak akan mengganggu mereka. Dan pada firman Alloh “karena itu mereka tidak diganggu” sebagai isyarat bahwa mengetahui keindahan tubuh wanita adalah suatu bentuk gangguan berupa fitnah dan kejahatan bagi mereka. Hijab Itu Kesucian Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya): “Apabila kamu meminta suatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.” (Q.S. Al-Ahzab: 53)

Alloh Subhanahu wa Ta’ala menyifati hijab sebagai kesucian bagi hati orang-orang mu’min, laki-laki maupun perempuan. Karena mata bila tidak melihat maka hatipun tidak berhasrat. Pada saat seperti ini, maka hati yang tidak melihat akan lebih suci. Ketiadaan fitnah pada saat itu lebih nampak, karena hijab itu menghancurkan keinginan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya, Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya): “Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya.” (Q.S. Al-Ahzab: 32)

Hijab Itu Pelindung Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda (yang artinya): “Sesungguhnya Alloh itu Malu dan Melindungi serta Menyukai rasa malu dan perlindungan” Sabda beliau yang lain (yang artinya): “Siapa saja di antara wanita yang melepaskan pakaiannya di selain rumahnya, maka Alloh Azza wa Jalla telah mengoyak perlindungan rumah itu dari padanya.” Jadi balasannya setimpal dengan perbuatannya. Hijab Itu Taqwa Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman(yang artinya): “Hai anak Adam! Sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik.” (Q.S. Al-A’raaf: 26)

Hijab Itu Iman Alloh Subhanahu wa Ta’ala tidak berfirman kecuali kepada wanita-wanita beriman (yang artinya):“Dan katakanlah kepada wanita yang beriman.” (Q.S. An-Nur: 31).

Alloh Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman (yang artinya): “Dan istri-istri orang beriman.” (Q.S. Al-Ahzab: 59)

Dan ketika wanita-wanita dari Bani Tamim menemui Ummul Mu’minin, Aisyah radhiyallahu anha dengan pakaian tipis, beliau berkata: “Jika kalian wanita-wanita beriman, maka (ketahuilah) bahwa ini bukanlah pakaian wanita-wanita beriman, dan jika kalian bukan wanita beriman, maka silahkan nikmati pakaian itu.”

Hijab Itu Haya’ (Rasa Malu)
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda (yang artinya): “Sesungguhnya setiap agama itu memiliki akhlak dan akhlak Islam itu adalah rasa malu.”

Sabda beliau yang lain (yang artinya):“Malu itu adalah bagian dari iman dan iman itu di surga.”

Sabda Rasul yang lain (yang artinya): “Malu dan iman itu bergandengan bersama, bila salah satunya di angkat maka yang lainpun akan terangkat.”

Hijab Itu Perasaan Cemburu
Hijab itu selaras dengan perasaan cemburu yang merupakan fitrah seorang laki-laki sempurna yang tidak senang dengan pandangan-pandangan khianat yang tertuju kepada istri dan anak wanitanya. Berapa banyak peperangan terjadi pada masa Jahiliyah dan masa Islam akibat cemburu atas seorang wanita dan untuk menjaga kehormatannya.

Ali bin Abi Thalib Radiyallahu ‘anhu berkata: “Telah sampai kepadaku bahwa wanita-wanita kalian berdesak-desakan dengan laki-laki kafir orang ‘ajam (non Arab) di pasar-pasar, tidakkah kalian merasa cemburu? Sesungguhnya tidak ada kebaikan pada seseorang yang tidak memiliki perasaan cemburu.”

Beberapa Syarat Hijab Yang Harus Terpenuhi:
1. Menutupi seluruh anggota tubuh wanita -berdasarkan pendapat yang paling kuat.
2. Hijab itu sendiri pada dasarnya bukan perhiasan.
3. Tebal dan tidak tipis atau trasparan.
4. Longgar dan tidak sempit atau ketat.
5. Tidak memakai wangi-wangian. 6. Tidak menyerupai pakaian wanita-wanita kafir.
7. Tidak menyerupai pakaian laki-laki.
8. Tidak bermaksud memamerkannya kepada orang-orang.

Jangan Berhias Terlalu Berlebihan(Tabarruj)
Bila anda memperhatikan syarat-syarat tersebut di atas akan nampak bagi anda bahwa banyak di antara wanita-wanita sekarang ini yang menamakan diri sebagai wanita berjilbab, padahal pada hakekatnya mereka belum berjilbab. Mereka tidak menamakan jilbab dengan nama yang sebenarnya. Mereka menamakan Tabarruj sebagai hijab dan menamakan maksiat sebagai ketaatan. Musuh-musuh kebangkitan Islam berusaha dengan sekuat tenaga menggelincirkan wanita itu, lalu Alloh menggagalkan tipu daya mereka dan meneguhkan orang-orang Mu’min di atas ketaatan kepada Tuhannya. Mereka memanfaatkan wanita itu dengan cara-cara kotor untuk memalingkannya dari jalan Tuhan dengan memproduksi jilbab dalam berbagai bentuk dan menamakannya sebagai “jalan tengah” yang dengan itu ia akan mendapatkan ridha Tuhannya -sebagaimana pengakuan mereka- dan pada saat yang sama ia dapat beradaptasi dengan lingkungannya dan tetap menjaga kecantikannya.

Kami Dengar Dan Kami Taat Seorang muslim yang jujur akan menerima perintah Tuhannya dan segera menerjemahkannya dalam amal nyata, karena cinta dan perhomatannya terhadap Islam, bangga dengan syariat-Nya, mendengar dan taat kepada sunnah nabi-Nya dan tidak peduli dengan keadaan orang-orang sesat yang berpaling dari kenyataan yang sebenarnya, serta lalai akan tempat kembali yang ia nantikan. Alloh menafikan keimanan orang yang berpaling dari ketaatan kepada-Nya dan kepada rasul-Nya:“Dan mereka berkata: “Kami telah beriman kepada Alloh dan rasul, dan kami menaati (keduanya).” Kemudian sebagian dari mereka berpaling sesudah itu, sekali-kali mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. Dan apabila mereka dipanggil kepada Alloh dan rasul-Nya, agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang.” (Q.S. An-Nur: 47-48)

Firman Alloh yang lain (yang artinya): “Sesungguhnya jawaban orang-orang mu’min, bila mereka dipanggil kepada Alloh dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan: “Kami mendengar dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Alloh dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapatkan kemenangan.” (Q.S. An-Nur: 51-52)

Dari Shofiyah binti Syaibah berkata: “Ketika kami bersama Aisyah radhiyallahu anha, beliau berkata: “Saya teringat akan wanita-wanita Quraisy dan keutamaan mereka.” Aisyah berkata: “Sesungguhnya wanita-wanita Quraisy memiliki keutamaan, dan demi Allah, saya tidak melihat wanita yang lebih percaya kepada kitab Allah dan lebih meyakini ayat-ayat-Nya melebihi wanita-wanita Anshor. Ketika turun kepada mereka ayat: “Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya.” (Q.S. An-Nur: 31)

Maka para suami segera mendatangi istri-istri mereka dan membacakan apa yang diturunkan Alloh kepada mereka. Mereka membacakan ayat itu kepada istri, anak wanita, saudara wanita dan kaum kerabatnya. Dan tidak seorangpun di antara wanita itu kecuali segera berdiri mengambil kain gorden (tirai) dan menutupi kepala dan wajahnya, karena percaya dan iman kepada apa yang diturunkan Alloh dalam kitab-Nya. Sehingga mereka (berjalan) di belakang Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam dengan kain penutup seakan-akan di atas kepalanya terdapat burung gagak.”

--------------------------------------------

Dikutip dari Kitab "Al Hijab" Departemen Agama Arab Saudi

Penebit: Darul Qosim P.O. Box 6373 Riyadh 11442

http://salafy-jtn.co.nr/

Jumat, 03 Mei 2013

♥ Wahai Orang yang Sedang Jatuh Cinta ♥

Wahai orang yg sedang jatuh cinta,
jangan kau cintai ia karena wajah dan parasnya, karena tak selamanya ia sempurna di matamu, entah suatu saat akan ada masanya wajah itu tumbuh jerawat atau bahkan membusuk yg membuat engkau jijik.

Wahai orang yg sedang jatuh sayang,
jangan kau sayangi ia karena harta dan tahtanya, karena itu hanya penghias dunia saja, entah suatu saat akan ada masanya harta dan tahta itu akan ludes dilalap api atau dihilangkan Allah, yang membuat hidupmu akan sengsara, melarat dan menderita.

Wahai orang yg lagi jatuh suka,
jangan kau sukai ia karena hanya berbalas budi atas kebaikan2 yg ia berikan kepadamu, karena entah suatu saat engkau akan lihat ia melakukan keburukan kpd mu, yg akan membuat engkau membenci setengah mati.

Wahai orang yg jatuh hati, cintailah, sayangilah, dan sukailah ia seadanya, sesuai yg ada pada dirinya, jangan kau agung-agungkan kelebihannya karena engkau akan kecewa ternyata banyak sekali kekurangannya.

Jangan engkau sebut-sebut kekurangannya karena itu akan membuatnya sakit, pahamilah kekurangannya dan tutupilah kekurangan itu dengan kebijaksanaanmu

(Indahnya Menikah Full Barokah)

Senyum (✿◠‿◠)

Rabu, 01 Mei 2013

Beautiful Waiting

*Indahnya Masa Penantian*

Pernikahan bagaikan membuka tabir rahasia.....
Proses pencapaiannya melewati suatu perjalanan yang panjang...
Kadang, untuk menuju ke sana...
Alloh Yang Maha Bijaksana pun justru memberi kesusahan untuk menguji kita..
Tak jarang melukai hati..hingga hikmahnya tertanam dalam..

Tak perlu kita pertanyakan, "apa maksud Alloh...?"
Karena andai kita berbesar hati dan mau mencerna...
Alloh punya alasan tersendiri yang belum kita mengerti...
Yang pasti.. jika kita kehilangan sesuatu...
Kita harus percaya bahwasanya ketika Alloh mengambil sesuatu, Alloh telah siap memberi yang lebih baik..

Menunggu....itu satu pilihan..
Karena walaupun kita ingin mengambil keputusan, kita tidak ingin tergesa-gesa...
Karena walaupun kita ingin cepat..kita tidak ingin sembarangan. ...
Walaupun kita ingin segera menemukan orang yang kita inginkan..kita tidak ingin kehilangan jati diri dalam proses pencarian...
Jika ingin berlari, belajarlah berjalan dahulu...
Jika ingin berenang, belajarlah mengapung dahulu...
Jika ingin dicintai, belajarlah mencintai dahulu....
Tentunya, tetap lebih baik menunggu orang yang tepat..
orang yang kita inginkan..orang yang dicintai dan mencintai..
ketimbang memaksa dan memuaskan diri dengan apa yang ada....
Karena hidup ini terlampau singkat untuk dilewatkan bersama pilihan yang salah...
Berani bertindak gegabah, layaknya berani menerima resiko...

Pernikahan tak dirajut dalam pertimbangan sesaat,
namun bisa saja musnah, juga dalam sesaat....!
Pernikahan, bukanlah akhir dari sebuah perjalanan..

Itulah yang kelak mengajarkan kita kewajiban bersama...
Suami menjadi pelindung, istri penghuninya....
Suami adalah nahkoda kapal, istri navigatornya...
Suami bagai balita yang nakal, istri penuntun kenakalannya. ..
Saat suami menjadi raja, istri menikmati anggur singgasananya...
Seandainya suami supir yang lancang, sabarlah memperingatkannya. ..

Akan halnya...
Haruskah terus menunggu..?
Jawabannya ada pada diri kita...
Pastinya, menunggu mempunyai suatu tujuan yang mulia...
Menguji kadar iman dan takwa....
Belajar meniti sabar dan ridho....
Indahnya masa penantian dengan sabar dan ridho...

Bersambung


Ucapmu tak suka
aku tersenyum
karena kulihat tatapanmu
mencari bayanganku. . .

Ucapmu tak rindu
aku tersenyum
karena kudengar lisanmu
memanggil namaku. . .
Ucapmu tak sayang
aku tersenyum
karena hatimu
berdetak untukku. . .

Ucapmu tak cinta
aku masih tersenyum manis
karena ikhlasmu
meminta kepada-NYA kebaikan untukku

Haruskah kutulis per'pisahan
untuk sebuah pertemuan
yang tak pernah terjanjikan,

Atau kuambil akhir
untuk sebuah awal yang tak pernah teruntai,

Perpisahan & Akhir
dua kata yang tak ingin
kuletakkan di file-ku

Maaf. . .
kupilih bersambung untuk cerita kita
Meski dengan keadaan, tokoh & peran yang berbeda
karena kuingin mengintip
senyuman tulusmu di episode berikutnya.