Sabtu, 10 Januari 2026

Saat Rumah Tangga Goyah : Psikologi Islam Membaca Luka dan Harapan

Saat Rumah Tangga Goyah: Psikologi Islam Membaca Luka dan Harapan

Tidak semua rumah tangga berjalan tenang sepanjang waktu.
Ada masa ketika tawa berkurang, obrolan terasa hambar, dan hati mulai lelah tanpa tahu harus mengadu ke mana. Rumah yang dulu terasa hangat, perlahan menjadi ruang sunyi yang penuh tanya.

Dalam psikologi Islam, kegoyahan rumah tangga tidak dipandang semata sebagai kegagalan cinta, melainkan sebagai ujian jiwa. Ujian yang membuka tabir luka-luka batin: luka yang tak sempat diungkap, emosi yang dipendam terlalu lama, serta harapan yang tak pernah benar-benar dibicarakan.

Islam memahami bahwa manusia diciptakan dengan hati dan rasa. Marah, kecewa, lelah—semuanya bagian dari fitrah. Namun, yang membedakan seorang mukmin adalah cara ia merawat perasaan agar tidak berubah menjadi dosa, dan cara ia mengelola luka agar tidak melahirkan kezaliman.

Psikologi Islam mengajarkan bahwa ketenangan rumah tangga tidak hanya lahir dari komunikasi yang baik, tetapi dari kedekatan kepada Allah. Hati yang dekat kepada-Nya akan lebih lapang untuk memaafkan, lebih jujur dalam berbicara, dan lebih rendah hati untuk meminta maaf.

Saat rumah tangga goyah, Islam tidak menyuruh kita saling menyalahkan. Ia mengajak kita berhenti sejenak, menengok ke dalam diri, lalu bertanya dengan jujur:
apakah ego lebih sering kita bela, atau kasih sayang lebih sering kita jaga?
Dalam setiap luka, selalu ada peluang harapan. 

Harapan untuk tumbuh lebih dewasa, untuk mencintai dengan lebih sadar, dan untuk membangun rumah tangga yang tidak sempurna—namun saling menguatkan dalam iman.
Karena rumah tangga yang utuh bukanlah yang tak pernah buncang,
melainkan yang tahu ke mana hati harus pulang ketika buncang itu datang.

Pesoman Hati dalam Pernikahan :
1. Pernikahan sebagai tempat ketenangan, bukan tanpa ujian
Allah berfirman:
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang.”
(QS. Ar-Rum: 21)

Ayat ini mengingatkan bahwa tujuan rumah tangga adalah sakinah, namun sakinah tidak lahir tanpa proses. Ia tumbuh dari mawaddah dan rahmah, terutama saat keadaan tidak baik-baik saja.

2. Luka dan kesulitan adalah bagian dari ujian jiwa
Allah berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ

“Dan sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, lapar, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan…”

(QS. Al-Baqarah: 155)
Rumah tangga yang goyah sering kali termasuk ujian pada jiwa (anfus)—emosi, kesabaran, dan keikhlasan hati.

3. Mengelola emosi: menahan marah dan memaafkan
Allah berfirman:
وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“(Yaitu) orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan manusia. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”
(QS. Ali ‘Imran: 134)

Dalam psikologi Islam, menahan amarah bukan memendam luka, tetapi mengelolanya dengan kesadaran iman agar tidak melukai yang dicintai.

4. Berbuat baik meski hati sedang lelah
Allah berfirman:
وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Dan bergaullah dengan mereka secara patut.”
(QS. An-Nisa: 19)

Ayat ini turun bukan hanya saat cinta sedang manis, tetapi juga ketika hati sedang diuji. Ma’ruf berarti sikap yang baik, lembut, dan bertanggung jawab, meski keadaan tidak ideal.

5. Hadits tentang kelembutan dalam rumah tangga
Rasulullah ﷺ bersabda:
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah yang paling baik kepada keluargaku.”
(HR. Tirmidzi)

Ukuran kebaikan seorang mukmin bukan saat ia di luar rumah,
tetapi saat ia bersama orang yang paling sering melihat kelemahannya.

6. Harapan selalu ada selama hati kembali kepada Allah
Allah berfirman:
إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
(QS. Al-Insyirah: 6)

Buncang rumah tangga bukan akhir segalanya.
Ia bisa menjadi jalan pulang, jika hati mau kembali kepada Allah.

Doa Penenang Jiwa :
اللهم يا الله،
Engkau yang Maha Mengetahui isi hati kami,
yang tersembunyi dan yang tak sempat kami ucapkan.

Jika dalam rumah tangga kami ada lelah yang terpendam,
ada luka yang belum sembuh,
ada kata yang tak sempat saling dimaafkan,

maka lembutkanlah hati kami, ya Allah.
Jadikan rumah kami tempat kembali,
bukan tempat saling melukai.

Ajari kami berbicara dengan kasih,
diam dengan bijak,
dan bersabar tanpa menyakiti.
Jika cinta kami melemah,
kuatkan ia dengan iman.

Jika hati kami mengeras,
lembutkan ia dengan rahmat-Mu.
Dan jika rumah tangga kami sedang goyah,
tuntunlah kami agar tidak jauh dari-Mu.
Ya Allah,

hadirkan sakinah di antara kami,
tumbuhkan mawaddah di saat sempit,
dan limpahkan rahmah saat kami paling membutuhkannya.

Jangan Engkau biarkan ego memimpin rumah kami,
tetapi jadikan takwa sebagai penuntun langkah kami.

Rabbana hablana min azwajina wa dzurriyyatina qurrata a’yun,
waj’alna lil muttaqina imama.

Terimalah doa kami,
ampuni kekurangan kami,
dan pulangkan hati kami kepada-Mu
dengan tenang dan penuh harap.


آمين يا رب العالمين



Kamis, 08 Januari 2026

Kematian dan Proses Setelahnya

Jamaah yang dimuliakan Allah,
Surah Yasin, yang sering kita baca untuk orang yang telah wafat, sejatinya adalah peringatan bagi yang masih hidup. Di dalamnya Allah menjelaskan hakikat kematian, keadaan setelahnya, dan apa yang menanti manusia di alam berikutnya.
Pertama: Kematian Bukan Menghapus Amal
Allah berfirman dalam Surah Yasin ayat 12:
إِنَّا نَحْنُ نُحْيِ الْمَوْتَىٰ وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ ۚ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُّبِينٍ
Artinya:
Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami mencatat apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan…
Menurut Tafsir Ibnu Katsir, ayat ini menjelaskan bahwa setelah kematian:
Amal manusia tidak terhapus
Bahkan bekas amalnya pun tetap dicatat
Baik berupa ilmu, kebaikan, maupun keburukan yang diwariskan.
Maka, jamaah sekalian,
yang mati bukan hanya tubuh,
tetapi amal terus berjalan.
Kedua: Kematian Mukmin Adalah Awal Kemuliaan
Allah mengisahkan seorang mukmin dalam Surah Yasin ayat 26–27:
قِيلَ ادْخُلِ الْجَنَّةَ ۖ قَالَ يَا لَيْتَ قَوْمِي يَعْلَمُونَ
بِمَا غَفَرَ لِي رَبِّي وَجَعَلَنِي مِنَ الْمُكْرَمِينَ
Artinya:
Dikatakan kepadanya, “Masuklah ke surga.” Ia berkata, “Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui bagaimana Tuhanku mengampuniku dan memuliakanku.”
Ibnu Katsir menjelaskan, ayat ini menunjukkan bahwa seorang mukmin langsung mendapatkan kabar gembira setelah wafatnya. Bahkan, yang keluar dari lisannya bukanlah penyesalan, melainkan harapan agar orang lain juga mendapat hidayah.
Inilah kematian yang dirindukan:
mati dalam iman,
dibangkitkan dalam kemuliaan.
Ketiga: Kematian Datang Tanpa Pemberitahuan
Allah mengingatkan dalam Surah Yasin ayat 49–50:
مَا يَنظُرُونَ إِلَّا صَيْحَةً وَاحِدَةً تَأْخُذُهُمْ وَهُمْ يَخِصِّمُونَ
فَلَا يَسْتَطِيعُونَ تَوْصِيَةً وَلَا إِلَىٰ أَهْلِهِمْ يَرْجِعُونَ
Artinya:
Mereka tidak menunggu selain satu teriakan yang membinasakan mereka, sementara mereka sedang berselisih, sehingga tidak sempat berwasiat dan tidak pula kembali kepada keluarganya.
Ayat ini menegaskan bahwa kematian:
Datang tiba-tiba
Saat manusia masih sibuk urusan dunia
Tanpa kesempatan memperbaiki yang tertunda
Maka, jangan menunggu waktu luang untuk taubat,
karena kematian tidak menunggu kesiapan.
Keempat: Kebangkitan Setelah Kematian
Allah berfirman dalam Surah Yasin ayat 51–52:
وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَإِذَا هُم مِّنَ الْأَجْدَاثِ إِلَىٰ رَبِّهِمْ يَنسِلُونَ
قَالُوا يَا وَيْلَنَا مَنۢ بَعَثَنَا مِن مَّرْقَدِنَا ۜ هَٰذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمَٰنُ
Artinya:
Ditiuplah sangkakala, maka tiba-tiba mereka keluar dari kubur menuju Rabb mereka…
Menurut tafsir, kubur terasa seperti tidur singkat. Ketika dibangkitkan, manusia baru menyadari bahwa janji Allah itu benar.
Penutup
Jamaah yang dirahmati Allah,
Surah Yasin mengajarkan kita bahwa:
Kematian bukan akhir cerita
Kubur bukan tujuan
Dunia hanyalah perjalanan singkat
Akhirnya, kita semua akan kembali kepada Allah
Maka, siapkanlah bekal sebelum panggilan itu datang.

Kajian Kamis_mariah ulfah al Qibtiyah

Minggu, 04 Januari 2026

KEMATIAN BUKAN AKHIR CERITA

Kematian Bukan Akhir Cerita 

Ketika tubuh-tubuh itu telah diam,
Allah masih membaca jejaknya.
Bukan hanya langkah yang pernah melangkah ke masjid,
tapi juga kata yang menguatkan,
nasihat yang ditinggalkan,
dan contoh yang diam-diam diikuti.

Allah berfirman : Kami menghidupkan yang mati.
Seolah mengingatkan,
bahwa kematian bukan akhir cerita,
ia hanya jeda sebelum perhitungan dimulai.

Kami menulis apa yang mereka kerjakan,
dan lebih dalam lagi,
apa yang mereka tinggalkan.
Sebab ada amal yang selesai bersama napas,
namun ada yang terus berjalan,
meski pelakunya telah kembali ke tanah.
Satu kebaikan kecil
yang mengalirkan keberanian pada hati lain,
satu keburukan ringan
yang membuka pintu maksiat bagi sesudahnya.
semuanya dicatat,
tanpa tergesa, tanpa lupa.

Dan di hadapan Allah,
tak ada jejak yang hilang.
Semua terkumpul dalam Imam yang jelas,
catatan yang tak pernah salah membaca niat.

Maka jika hari ini kita lelah berbuat baik,
ingatlah:
barangkali bukan hari ini balasannya,
tapi suatu saat,
saat jejak itu pulang sebagai cahaya.

@mariahyufa @yufamariah

Senin, 15 Desember 2025

Untuk Ibu, di Langit Doaku

Untuk Ibu, di Langit Doaku

Ibu,
dalam tidurku kau hadir
bukan untuk meminta,
tapi mengulurkan tangan
seolah ingin menenangkan hatiku.

Padahal aku tahu,
akulah yang masih belajar ikhlas,
akulah yang sering merasa
belum cukup berbakti.

Jika ada kata yang tak sempat terucap,
pelukan yang tertahan oleh waktu,
atau air mata yang baru jatuh setelah kepergianmu.
maka ya Allah,
terimalah semua itu sebagai doa anak
yang mencintai ibunya tanpa syarat.

Ampuni ibu,
dan ampunilah aku.
Jika rindu ini berat,
ringankanlah dengan rahmat-Mu.

Ibu,
jika benar jarak itu hanya sejengkal,
maka pertemukan kami kelak
tanpa perpisahan,
di tempat di mana maaf
tak lagi perlu diucap,
karena cinta telah sempurna.