Rabu, 10 Juni 2026

Uban-Uban yang Tak Terlihat

Uban-Uban yang Tak Terlihat

Dulu, ketika suaminya semakin sibuk mengurus perusahaan, Yufa sering membayangkan kehidupan yang sederhana.

Tak ada lagi target pekerjaan. Tak ada lagi rapat dan deadline. Ia hanya ingin berada di rumah, menemani anak-anak, menyambut suami pulang, dan menjalani hari dengan tenang.

Maka dengan penuh keyakinan, ia memutuskan untuk resign.

"Biarlah Abi fokus bekerja. Aku yang akan lebih banyak di rumah bersama anak-anak," pikirnya waktu itu.

Ia bahagia.

Setidaknya, begitulah yang ia bayangkan.

Namun, Allah ternyata menulis kisah yang berbeda.

Hari-hari yang dulu diisi pekerjaan, kini perlahan digantikan oleh berbagai amanah.

Majelis taklim.

Forum komunikasi.

Undangan kegiatan.

Pesan yang tak pernah berhenti.

Dan grup-grup WhatsApp yang jumlahnya semakin banyak.

Yufa tersenyum setiap kali orang berkata,

"Masih muda, Ustadzah. Masih kuat."

Ia hanya membalas dengan senyum.

Tak ada yang tahu bahwa tekanan darahnya sering tak menentu.

Tak ada yang tahu bahwa lambungnya sudah lama bersahabat dengan GERD.

Tak ada yang tahu bahwa setiap kali banyak pikiran, kepalanya terasa berat.

Dan tak ada yang tahu bahwa di balik hijab yang dikenakannya, rambut hitamnya perlahan berubah menjadi putih.

Suatu hari, sambil menyisir rambut di depan cermin, ia terdiam.

"Astagfirullah... kok uban Ummah sudah sebanyak ini?"

Ia tertawa kecil.

Namun entah mengapa, matanya justru berkaca-kaca.

"Jangan-jangan Abi kaget melihat Ummah jadi tua begini..." gumamnya malu.

Padahal suaminya tak pernah mempermasalahkan.

Suaminya tetap memandangnya dengan kelembutan yang sama.

Tetap memanggilnya dengan panggilan kesayangan.

Tetap menganggapnya wanita yang paling berarti dalam hidupnya.

Tetapi sebagai seorang wanita, kadang ia malu sendiri melihat perubahan itu.

Malam itu, ketika semua orang telah tertidur, Yufa duduk sendirian.

Ponselnya masih dipenuhi notifikasi.

Ada grup baru yang mengundangnya masuk.

Ada kegiatan yang harus dipantau.

Ada orang yang membutuhkan jawabannya.

Dan ada banyak harapan yang seolah ingin ia penuhi semuanya.

Namun tiba-tiba ia teringat.

Bukankah dulu ia resign demi keluarga?

Bukankah dulu ia hanya ingin hidup sederhana?

Bukankah dulu ia hanya ingin menjadi seorang istri dan ibu yang hadir?

Air matanya jatuh.

Bukan karena ia membenci amanah.

Bukan pula karena ia tidak bersyukur.

Ia hanya lelah.

Lelah karena terlalu lama terlihat kuat.

Lelah karena terlalu sering berkata "iya".

Lelah karena takut mengecewakan manusia.

Dan yang paling membuatnya sedih...

Ia tidak pernah bercita-cita menjadi seorang ustadzah.

Ia hanya suka menulis.

Ia hanya suka memotivasi orang dengan cara yang lembut.

Ia hanya ingin menjadi jalan agar seseorang lebih dekat kepada Allah.

Tetapi entah sejak kapan, orang-orang mulai memanggilnya "Ustadzah".

Panggilan yang membuatnya tersipu malu.

Karena ia mengenal dirinya sendiri.

Ia tahu bahwa dirinya masih banyak kurangnya.

Masih sering lelah.

Masih sering menangis.

Masih sering merasa tidak sanggup.

Dan malam itu, di tengah sunyi, ia mengangkat kedua tangannya.

"Ya Allah...

Aku tidak ingin menjadi siapa-siapa di mata manusia.

Aku tidak ingin dikenal karena jabatan.

Aku tidak ingin dipuji karena gelar.

Aku hanya ingin menjadi istri yang dicintai suamiku.

Menjadi ibu yang dirindukan anak-anakku.

Dan menjadi hamba yang Engkau cintai.

Jika amanah ini masih harus kujalani, kuatkanlah aku.

Namun jika ada yang boleh kulepaskan, lapangkanlah hatiku untuk melepaskannya."

Tak ada suara yang menjawab.

Namun entah mengapa, hatinya terasa lebih ringan.

Ia lalu berdiri.

Mematikan ponsel.

Masuk ke kamar.

Dan melihat suaminya yang telah tertidur.

Dengan rambut yang mulai dipenuhi uban, ia tersenyum kecil.

"Abi..."

"Ummah tidak ingin menjadi siapa-siapa..."

"Ummah hanya ingin menua bersamamu, melihat anak-anak tumbuh, dan pulang kepada Allah dengan hati yang tenang..."

Di luar sana, banyak orang mengenalnya dengan berbagai sebutan.

Namun jauh di dalam hatinya, ada satu panggilan yang paling ia cintai.

Bukan "Ketua".

Bukan "Ustadzah".

Melainkan...

"Ummah..."

Dan disusul suara-suara kecil yang selalu membuat hatinya luluh,

"Ummah... Ummah..."

Ternyata, itulah jabatan terindah yang Allah titipkan kepadanya.

Dan ternyata, itu sudah lebih dari cukup.

💛Untuk Sebuah Hati 💛

"Tidak semua wanita ingin dikenal oleh banyak orang. Sebagian dari mereka hanya ingin pulang, lalu mendengar suara kecil yang memanggilnya, 'Ummah...'."

@mariahyufa

Jumat, 27 Februari 2026

TA'JIL DAN DOA YANG YANG TAK TERLIHAT

Untuk Sebuah Hati… tentang Berbagi Takjil

Ada yang sederhana dari sekotak takjil.
Ia mungkin hanya berisi kurma, air mineral, atau sepotong kue kecil.
Namun di dalamnya, terselip doa-doa yang tak terlihat,
niat yang lirih, dan cinta yang tak banyak bicara.

Berbagi takjil bukan tentang siapa paling banyak memberi.
Ia tentang hati yang belajar peka—
bahwa di ujung jalan sana ada yang menahan haus,
ada yang menunggu adzan dengan sabar,
ada yang mungkin tak sempat menyiapkan apa-apa untuk berbuka.

Rasulullah ﷺ bersabda:
"Barang siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa itu tanpa mengurangi pahala orang tersebut sedikit pun."
(HR. At-Tirmidzi)

Lihatlah…
Allah begitu lembut membuka pintu pahala.

Hanya dengan sebutir kurma,
engkau bisa menanam kebun kebaikan di akhirat.

Untuk sebuah hati yang ingin bertumbuh,
jangan tunggu kaya untuk berbagi.
Jangan tunggu sempurna untuk memberi.
Sebab Ramadhan mengajarkan kita—
yang kecil jika dilakukan dengan ikhlas,
akan Allah jadikan besar.

Maka saat tanganmu menyerahkan takjil itu,
bisikkan dalam hati:
“Ya Allah, ini amanah dari-Mu.
Terimalah, bersihkanlah niatku,
dan jadikan ia cahaya di hari aku membutuhkan.”

Karena sesungguhnya…
yang kita beri hari ini,
bisa jadi adalah yang menyelamatkan kita nanti. 🌙

✍️ Mariah Ulfah Al Qibtiyah _ @mariahyufa

Sabtu, 21 Februari 2026

BANYAK BICARA

Banyak Bicara

Kadang kita ingin terlihat berarti
dengan kata-kata yang berlari
tanpa sadar… hati ikut terbawa
entah menuju cahaya
atau justru gelap yang kita pelihara.

Wahai jiwa,
cerdas bukan tentang ramai suara
bukan pula tentang menang dalam cerita
tetapi tentang lidah yang dijaga
dan hati yang tetap tunduk pada-Nya.

Indahnya lisan
ketika ia bercerita tentang ilmu
menghidupkan harap yang hampir redup
menjadi penyejuk bagi yang lelah
menjadi cahaya bagi yang resah.

Namun betapa beratnya langkah
jika mulut sibuk menebar prasangka
membela diri tanpa jeda
dan lupa…
bahwa takdir selalu lebih tahu arah kita.
Belajarlah diam
saat kata tak lagi membawa kebaikan
belajarlah lembut
saat hati mulai ingin pembenaran.
Karena pada akhirnya
yang membuat kita tampak bijak
bukan seberapa banyak kita bicara
tetapi seberapa dalam kita menjaga rasa
dan seberapa ikhlas kita menerima rahasia-Nya.

Tenanglah…
Allah selalu tahu isi hati yang paling sunyi.

#untuksebuahhati 🤍

Sabtu, 10 Januari 2026

Saat Rumah Tangga Goyah : Psikologi Islam Membaca Luka dan Harapan

Saat Rumah Tangga Goyah: Psikologi Islam Membaca Luka dan Harapan

Tidak semua rumah tangga berjalan tenang sepanjang waktu.
Ada masa ketika tawa berkurang, obrolan terasa hambar, dan hati mulai lelah tanpa tahu harus mengadu ke mana. Rumah yang dulu terasa hangat, perlahan menjadi ruang sunyi yang penuh tanya.

Dalam psikologi Islam, kegoyahan rumah tangga tidak dipandang semata sebagai kegagalan cinta, melainkan sebagai ujian jiwa. Ujian yang membuka tabir luka-luka batin: luka yang tak sempat diungkap, emosi yang dipendam terlalu lama, serta harapan yang tak pernah benar-benar dibicarakan.

Islam memahami bahwa manusia diciptakan dengan hati dan rasa. Marah, kecewa, lelah—semuanya bagian dari fitrah. Namun, yang membedakan seorang mukmin adalah cara ia merawat perasaan agar tidak berubah menjadi dosa, dan cara ia mengelola luka agar tidak melahirkan kezaliman.

Psikologi Islam mengajarkan bahwa ketenangan rumah tangga tidak hanya lahir dari komunikasi yang baik, tetapi dari kedekatan kepada Allah. Hati yang dekat kepada-Nya akan lebih lapang untuk memaafkan, lebih jujur dalam berbicara, dan lebih rendah hati untuk meminta maaf.

Saat rumah tangga goyah, Islam tidak menyuruh kita saling menyalahkan. Ia mengajak kita berhenti sejenak, menengok ke dalam diri, lalu bertanya dengan jujur:
apakah ego lebih sering kita bela, atau kasih sayang lebih sering kita jaga?
Dalam setiap luka, selalu ada peluang harapan. 

Harapan untuk tumbuh lebih dewasa, untuk mencintai dengan lebih sadar, dan untuk membangun rumah tangga yang tidak sempurna—namun saling menguatkan dalam iman.
Karena rumah tangga yang utuh bukanlah yang tak pernah buncang,
melainkan yang tahu ke mana hati harus pulang ketika buncang itu datang.

Pesoman Hati dalam Pernikahan :
1. Pernikahan sebagai tempat ketenangan, bukan tanpa ujian
Allah berfirman:
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya, Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang.”
(QS. Ar-Rum: 21)

Ayat ini mengingatkan bahwa tujuan rumah tangga adalah sakinah, namun sakinah tidak lahir tanpa proses. Ia tumbuh dari mawaddah dan rahmah, terutama saat keadaan tidak baik-baik saja.

2. Luka dan kesulitan adalah bagian dari ujian jiwa
Allah berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ

“Dan sungguh Kami akan menguji kalian dengan sedikit rasa takut, lapar, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan…”

(QS. Al-Baqarah: 155)
Rumah tangga yang goyah sering kali termasuk ujian pada jiwa (anfus)—emosi, kesabaran, dan keikhlasan hati.

3. Mengelola emosi: menahan marah dan memaafkan
Allah berfirman:
وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“(Yaitu) orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan manusia. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”
(QS. Ali ‘Imran: 134)

Dalam psikologi Islam, menahan amarah bukan memendam luka, tetapi mengelolanya dengan kesadaran iman agar tidak melukai yang dicintai.

4. Berbuat baik meski hati sedang lelah
Allah berfirman:
وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

“Dan bergaullah dengan mereka secara patut.”
(QS. An-Nisa: 19)

Ayat ini turun bukan hanya saat cinta sedang manis, tetapi juga ketika hati sedang diuji. Ma’ruf berarti sikap yang baik, lembut, dan bertanggung jawab, meski keadaan tidak ideal.

5. Hadits tentang kelembutan dalam rumah tangga
Rasulullah ﷺ bersabda:
خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah yang paling baik kepada keluargaku.”
(HR. Tirmidzi)

Ukuran kebaikan seorang mukmin bukan saat ia di luar rumah,
tetapi saat ia bersama orang yang paling sering melihat kelemahannya.

6. Harapan selalu ada selama hati kembali kepada Allah
Allah berfirman:
إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
(QS. Al-Insyirah: 6)

Buncang rumah tangga bukan akhir segalanya.
Ia bisa menjadi jalan pulang, jika hati mau kembali kepada Allah.

Doa Penenang Jiwa :
اللهم يا الله،
Engkau yang Maha Mengetahui isi hati kami,
yang tersembunyi dan yang tak sempat kami ucapkan.

Jika dalam rumah tangga kami ada lelah yang terpendam,
ada luka yang belum sembuh,
ada kata yang tak sempat saling dimaafkan,

maka lembutkanlah hati kami, ya Allah.
Jadikan rumah kami tempat kembali,
bukan tempat saling melukai.

Ajari kami berbicara dengan kasih,
diam dengan bijak,
dan bersabar tanpa menyakiti.
Jika cinta kami melemah,
kuatkan ia dengan iman.

Jika hati kami mengeras,
lembutkan ia dengan rahmat-Mu.
Dan jika rumah tangga kami sedang goyah,
tuntunlah kami agar tidak jauh dari-Mu.
Ya Allah,

hadirkan sakinah di antara kami,
tumbuhkan mawaddah di saat sempit,
dan limpahkan rahmah saat kami paling membutuhkannya.

Jangan Engkau biarkan ego memimpin rumah kami,
tetapi jadikan takwa sebagai penuntun langkah kami.

Rabbana hablana min azwajina wa dzurriyyatina qurrata a’yun,
waj’alna lil muttaqina imama.

Terimalah doa kami,
ampuni kekurangan kami,
dan pulangkan hati kami kepada-Mu
dengan tenang dan penuh harap.


آمين يا رب العالمين