Jumat, 12 Juni 2026

Uban-Uban yang Tak Terlihat


Uban-Uban yang Tak Terlihat

Dulu, ketika suaminya semakin sibuk mengurus perusahaan, Yufa sering membayangkan kehidupan yang sederhana.

Tak ada lagi target pekerjaan. Tak ada lagi rapat dan deadline. Ia hanya ingin berada di rumah, menemani anak-anak, menyambut suami pulang, dan menjalani hari dengan tenang.

Maka dengan penuh keyakinan, ia memutuskan untuk resign.

"Biarlah Abi fokus bekerja. Aku yang akan lebih banyak di rumah bersama anak-anak," pikirnya waktu itu.

Ia bahagia.

Setidaknya, begitulah yang ia bayangkan.

Namun, Allah ternyata menulis kisah yang berbeda.

Hari-hari yang dulu diisi pekerjaan, kini perlahan digantikan oleh berbagai amanah.

Majelis taklim.

Forum komunikasi.

Undangan kegiatan.

Pesan yang tak pernah berhenti.

Dan grup-grup WhatsApp yang jumlahnya semakin banyak.

Yufa tersenyum setiap kali orang berkata,

"Masih muda, Ustadzah. Masih kuat."

Ia hanya membalas dengan senyum.

Tak ada yang tahu bahwa tekanan darahnya sering tak menentu.

Tak ada yang tahu bahwa lambungnya sudah lama bersahabat dengan GERD.

Tak ada yang tahu bahwa setiap kali banyak pikiran, kepalanya terasa berat.

Dan tak ada yang tahu bahwa di balik hijab yang dikenakannya, rambut hitamnya perlahan berubah menjadi putih.

Suatu hari, sambil menyisir rambut di depan cermin, ia terdiam.

"Astagfirullah... kok uban Ummah sudah sebanyak ini?"

Ia tertawa kecil.

Namun entah mengapa, matanya justru berkaca-kaca.

"Jangan-jangan Abi kaget melihat Ummah jadi tua begini..." gumamnya malu.

Padahal suaminya tak pernah mempermasalahkan.

Suaminya tetap memandangnya dengan kelembutan yang sama.

Tetap memanggilnya dengan panggilan kesayangan.

Tetap menganggapnya wanita yang paling berarti dalam hidupnya.

Tetapi sebagai seorang wanita, kadang ia malu sendiri melihat perubahan itu.

Malam itu, ketika semua orang telah tertidur, Yufa duduk sendirian.

Ponselnya masih dipenuhi notifikasi.

Ada grup baru yang mengundangnya masuk.

Ada kegiatan yang harus dipantau.

Ada orang yang membutuhkan jawabannya.

Dan ada banyak harapan yang seolah ingin ia penuhi semuanya.

Namun tiba-tiba ia teringat.

Bukankah dulu ia resign demi keluarga?

Bukankah dulu ia hanya ingin hidup sederhana?

Bukankah dulu ia hanya ingin menjadi seorang istri dan ibu yang hadir?

Air matanya jatuh.

Bukan karena ia membenci amanah.

Bukan pula karena ia tidak bersyukur.

Ia hanya lelah.

Lelah karena terlalu lama terlihat kuat.

Lelah karena terlalu sering berkata "iya".

Lelah karena takut mengecewakan manusia.

Dan yang paling membuatnya sedih...

Ia tidak pernah bercita-cita menjadi seorang ustadzah.

Ia hanya suka menulis.

Ia hanya suka memotivasi orang dengan cara yang lembut.

Ia hanya ingin menjadi jalan agar seseorang lebih dekat kepada Allah.

Tetapi entah sejak kapan, orang-orang mulai memanggilnya "Ustadzah".

Panggilan yang membuatnya tersipu malu.

Karena ia mengenal dirinya sendiri.

Ia tahu bahwa dirinya masih banyak kurangnya.

Masih sering lelah.

Masih sering menangis.

Masih sering merasa tidak sanggup.

Dan malam itu, di tengah sunyi, ia mengangkat kedua tangannya.

"Ya Allah...

Aku tidak ingin menjadi siapa-siapa di mata manusia.

Aku tidak ingin dikenal karena jabatan.

Aku tidak ingin dipuji karena gelar.

Aku hanya ingin menjadi istri yang dicintai suamiku.

Menjadi ibu yang dirindukan anak-anakku.

Dan menjadi hamba yang Engkau cintai.

Jika amanah ini masih harus kujalani, kuatkanlah aku.

Namun jika ada yang boleh kulepaskan, lapangkanlah hatiku untuk melepaskannya."

Tak ada suara yang menjawab.

Namun entah mengapa, hatinya terasa lebih ringan.

Ia lalu berdiri.

Mematikan ponsel.

Masuk ke kamar.

Dan melihat suaminya yang telah tertidur.

Dengan rambut yang mulai dipenuhi uban, ia tersenyum kecil.

"Abi..."

"Ummah tidak ingin menjadi siapa-siapa..."

"Ummah hanya ingin menua bersamamu, melihat anak-anak tumbuh, dan pulang kepada Allah dengan hati yang tenang..."

Di luar sana, banyak orang mengenalnya dengan berbagai sebutan.

Namun jauh di dalam hatinya, ada satu panggilan yang paling ia cintai.

Bukan "Ketua".

Bukan "Ustadzah".

Melainkan...

"Ummah..."

Dan disusul suara-suara kecil yang selalu membuat hatinya luluh,

"Ummah... Ummah..."

Ternyata, itulah jabatan terindah yang Allah titipkan kepadanya.

Dan ternyata, itu sudah lebih dari cukup.

💛Untuk Sebuah Hati 💛

"Tidak semua wanita ingin dikenal oleh banyak orang. Sebagian dari mereka hanya ingin pulang, lalu mendengar suara kecil yang memanggilnya, 'Ummah...'."

@mariahyufa

Yang Tidak Hilang dalam Catatan Langit


Yang Tidak Hilang dalam Catatan Langit

"Manusia bisa saja lupa pada sebuah pengorbanan. Tetapi langit tidak pernah kehilangan catatannya."

Tiga perempuan itu duduk mengelilingi sebuah meja.

Di hadapan mereka, tiga lelaki sedang berbicara tentang sesuatu yang telah mereka bangun bersama. Tentang visi dan misi perusahaan. Tentang pemasukan dan pengeluaran. Tentang mimpi yang dahulu hanya berupa keberanian dan kepercayaan.

Lelaki yang pertama kini menjadi komisaris. Lelaki yang kedua mengemban amanah sebagai direktur utama. Sedangkan suami Salma, yang bergabung paling akhir, dipercaya sebagai direktur.

Bagi ketiga lelaki itu, mungkin pertemuan itu hanyalah makan siang dan rapat biasa.

Namun bagi Salma, ada banyak hal yang diam-diam berbicara di dalam hati.

Sebab rumah yang kini dipakai sebagai kantor itu adalah rumah mereka.

Rumah yang dahulu dipenuhi suara anak-anak, kini menjadi tempat tamu keluar masuk, tempat rapat berlangsung hingga malam, dan tempat mimpi-mimpi besar itu bertumbuh.

Tidak ada uang sewa.

Tidak ada perjanjian khusus.

Dan anehnya, lelaki yang paling berhak mempertanyakannya justru yang paling tenang.

"Abi tidak apa-apa?" tanya Salma suatu malam.

Suaminya tersenyum.

"Kenapa?"

"Rumah kita dipakai kantor. Abi banyak mengurus investor. Tapi Abi tidak pernah meminta apa-apa."

Lelaki itu tertawa kecil.

"Ummah..."

"Iya?"

"Kalau semua kebaikan harus langsung dibayar manusia, mungkin kita akan sering kecewa."

"Kalau semua pengorbanan harus segera dihitung, mungkin kita akan mudah lelah."

"Dan kalau semua yang kita beri harus langsung kembali kepada kita, mungkin kita tidak akan pernah belajar ikhlas."

Salma terdiam.

Ia tidak tahu harus bangga atau menangis.

Karena justru kebaikan suaminya itulah yang terkadang membuat hatinya pegal.


"Kamu harus bicara!"

"Jangan terlalu baik!"

"Bodoh sekali!"

Begitulah suara-suara dari luar.

Semua mengkhawatirkan mereka.

Semua takut mereka dirugikan.

Dan Salma memahami itu.

Tetapi setiap kali ia ingin mendesak, ia selalu teringat wajah suaminya yang tenang.

Ia takut, jangan sampai kegelisahan dalam hatinya justru menjadi beban bagi lelaki yang sedang berjuang.

Maka ia memilih diam.

Bukan karena tidak peduli.

Bukan karena tidak memiliki pertanyaan.

Tetapi karena ia tidak ingin menjadi sebab sempitnya hati seorang lelaki yang Allah karuniakan kelapangan.


Pada suatu malam, ketika semua telah tertidur, Salma mengangkat kedua tangannya.

"Ya Allah..."

"Aku bangga kepada suamiku."

"Tetapi Engkau tahu, kadang hatiku pegal."

"Aku takut kebaikannya tidak terlihat."

"Aku takut pengorbanannya dilupakan."

"Tapi aku juga takut menjadi istri yang mempersulit langkahnya."

"Jika memang jalan ini baik, berkahilah."

"Dan jika ada hak yang belum terlihat oleh manusia, jangan biarkan ia hilang dari catatan-Mu."

Air mata itu jatuh perlahan.

Dan entah mengapa, setelah doa itu selesai, hati Salma menjadi lebih tenang.

Karena ia sadar...

Manusia mungkin hanya melihat siapa yang lebih tinggi jabatannya.

Manusia mungkin hanya melihat siapa yang lebih dahulu memulai.

Manusia mungkin hanya menghitung angka yang tampak di depan mata.

Tetapi Allah melihat rumah yang dibuka dengan ikhlas.

Allah melihat seorang lelaki yang tidak pandai menghitung jasa.

Allah melihat seorang istri yang memilih mendoakan daripada memperkeruh suasana.

Dan Allah tidak pernah kehilangan catatan tentang semua itu.

Sebab ada banyak kebaikan yang tidak tercatat dalam laporan perusahaan, tetapi tidak pernah hilang dalam catatan langit.

🤍

"Dan apa saja kebaikan yang kamu kerjakan, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya." (QS. Al-Baqarah: 215)

Jumat, 27 Februari 2026

TA'JIL DAN DOA YANG YANG TAK TERLIHAT

Untuk Sebuah Hati… tentang Berbagi Takjil

Ada yang sederhana dari sekotak takjil.
Ia mungkin hanya berisi kurma, air mineral, atau sepotong kue kecil.
Namun di dalamnya, terselip doa-doa yang tak terlihat,
niat yang lirih, dan cinta yang tak banyak bicara.

Berbagi takjil bukan tentang siapa paling banyak memberi.
Ia tentang hati yang belajar peka—
bahwa di ujung jalan sana ada yang menahan haus,
ada yang menunggu adzan dengan sabar,
ada yang mungkin tak sempat menyiapkan apa-apa untuk berbuka.

Rasulullah ﷺ bersabda:
"Barang siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa itu tanpa mengurangi pahala orang tersebut sedikit pun."
(HR. At-Tirmidzi)

Lihatlah…
Allah begitu lembut membuka pintu pahala.

Hanya dengan sebutir kurma,
engkau bisa menanam kebun kebaikan di akhirat.

Untuk sebuah hati yang ingin bertumbuh,
jangan tunggu kaya untuk berbagi.
Jangan tunggu sempurna untuk memberi.
Sebab Ramadhan mengajarkan kita—
yang kecil jika dilakukan dengan ikhlas,
akan Allah jadikan besar.

Maka saat tanganmu menyerahkan takjil itu,
bisikkan dalam hati:
“Ya Allah, ini amanah dari-Mu.
Terimalah, bersihkanlah niatku,
dan jadikan ia cahaya di hari aku membutuhkan.”

Karena sesungguhnya…
yang kita beri hari ini,
bisa jadi adalah yang menyelamatkan kita nanti. 🌙

✍️ Mariah Ulfah Al Qibtiyah _ @mariahyufa

Sabtu, 21 Februari 2026

BANYAK BICARA

Banyak Bicara

Kadang kita ingin terlihat berarti
dengan kata-kata yang berlari
tanpa sadar… hati ikut terbawa
entah menuju cahaya
atau justru gelap yang kita pelihara.

Wahai jiwa,
cerdas bukan tentang ramai suara
bukan pula tentang menang dalam cerita
tetapi tentang lidah yang dijaga
dan hati yang tetap tunduk pada-Nya.

Indahnya lisan
ketika ia bercerita tentang ilmu
menghidupkan harap yang hampir redup
menjadi penyejuk bagi yang lelah
menjadi cahaya bagi yang resah.

Namun betapa beratnya langkah
jika mulut sibuk menebar prasangka
membela diri tanpa jeda
dan lupa…
bahwa takdir selalu lebih tahu arah kita.
Belajarlah diam
saat kata tak lagi membawa kebaikan
belajarlah lembut
saat hati mulai ingin pembenaran.
Karena pada akhirnya
yang membuat kita tampak bijak
bukan seberapa banyak kita bicara
tetapi seberapa dalam kita menjaga rasa
dan seberapa ikhlas kita menerima rahasia-Nya.

Tenanglah…
Allah selalu tahu isi hati yang paling sunyi.

#untuksebuahhati 🤍