Jumat, 31 Juli 2026

MAJALAH DAKWA EDISI 2

Ketika Ujian Datang Bertubi-tubi

Ujian, Takdir, atau Gangguan?

Oleh: Mariah Yufa
@mariahyufa


"Tidaklah seorang mukmin ditimpa kelelahan, penyakit, kesedihan, kegundahan, gangguan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah menghapus sebagian dosa-dosanya karenanya."
(HR. Bukhari dan Muslim)


Ketika Hidup Berubah Tanpa Peringatan

Ada orang yang dahulu hidup berkecukupan.

Rumahnya tak pernah sepi dari tamu.

Tangannya ringan membantu.

Sedekah menjadi kebiasaan.

Anak-anak yatim dikenal namanya.

Saudara selalu disambangi dengan buah tangan.

Lalu...

Dalam waktu yang tidak terlalu lama, semuanya berubah.

Pekerjaan terhenti.

Usaha tidak berkembang.

Tabungan habis.

Utang mulai menumpuk.

Kesehatan keluarga terganggu.

Hubungan menjadi renggang.

Hati mulai lelah.

Di titik itulah muncul pertanyaan yang sangat manusiawi.

"Ya Allah... mengapa semua ini terjadi?"


Antara Ikhtiar dan Prasangka

Sebagian orang langsung menyimpulkan,

"Ini pasti sihir."

Sebagian lagi berkata,

"Tidak mungkin ada gangguan seperti itu."

Islam tidak mengajarkan kita berada di dua ujung yang berlebihan.

Al-Qur'an menjelaskan bahwa sihir memang ada. Namun Al-Qur'an juga menjelaskan bahwa tidak ada satu pun mudarat yang dapat terjadi tanpa izin Allah.

"...Mereka tidak dapat mencelakakan seseorang dengan sihir itu kecuali dengan izin Allah..."
(QS. Al-Baqarah: 102)

Ayat ini menumbuhkan dua keyakinan sekaligus.

Kita tidak mengingkari perkara gaib yang dijelaskan syariat.

Namun kita juga tidak menjadikan setiap musibah sebagai kepastian bahwa penyebabnya adalah sihir.

Karena perkara gaib bukan wilayah prasangka.


Yang Lebih Berbahaya daripada Gangguan

Kadang bukan gangguannya yang paling menghancurkan.

Melainkan...

Rasa takut yang menguasai hati.

Curiga kepada semua orang.

Sibuk mencari siapa pelakunya.

Membalas kebencian dengan kebencian.

Padahal...

Bila benar ada gangguan, Allah lebih berkuasa.

Bila ternyata tidak ada gangguan, ibadah yang kita lakukan tetap bernilai di sisi-Nya.

Karena itu para ulama sering mengingatkan,

Jangan sibuk mengejar pelaku. Sibukkan dirimu mendekat kepada Allah.


Belajar dari Nabi Ayyub

Nabi Ayyub `alaihis salam kehilangan banyak hal yang dicintainya.

Beliau kehilangan kesehatan.

Beliau kehilangan harta.

Beliau kehilangan sebagian keluarganya.

Namun yang tidak pernah hilang adalah keyakinannya kepada Allah.

Beliau berdoa,

"Ya Tuhanku, sungguh aku telah ditimpa penyakit, dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang."
(QS. Al-Anbiya: 83)

Beliau tidak menyalahkan manusia.

Tidak menyalahkan keadaan.

Tidak pula kehilangan adab kepada Rabb-nya.

Dan Allah mengangkat ujiannya.


Benteng Seorang Mukmin

Jika kita benar-benar sedang diuji, maka bentengnya bukan rasa takut.

Bentengnya adalah tauhid.

Bentengnya adalah salat.

Bentengnya adalah Al-Qur'an.

Bentengnya adalah dzikir pagi dan petang.

Bentengnya adalah istighfar.

Bentengnya adalah doa.

Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa perlindungan terbaik bukanlah mencari tahu perkara gaib, tetapi memperbanyak mengingat Allah.


Mungkin Allah Sedang Menata Kita

Ada kalanya Allah mengambil sesuatu yang kita cintai.

Bukan karena Dia membenci kita.

Tetapi karena Dia ingin kita kembali menggantungkan hati hanya kepada-Nya.

Boleh jadi dahulu kita merasa mampu karena pekerjaan.

Karena usaha.

Karena tabungan.

Karena relasi.

Lalu Allah memperlihatkan bahwa semua itu hanyalah sebab.

Sedangkan Pemberi Rezeki tetap Allah.


Jangan Putus Asa

Empat tahun bukan waktu yang singkat.

Lima tahun juga bukan.

Namun jangan pernah mengira doa yang belum dikabulkan berarti Allah tidak mendengar.

Bisa jadi Allah sedang menyiapkan jawaban yang belum sanggup kita pahami hari ini.

Karena Allah tidak pernah terlambat.

Allah hanya memilih waktu terbaik.


Ruang Muhasabah

Sebelum tidur malam ini, tanyakan kepada diri sendiri.

Apakah aku lebih sibuk mencari penyebab musibah...

atau lebih sibuk memperbaiki hubunganku dengan Allah?

Apakah aku lebih sering mengingat orang yang mungkin menyakitiku...

atau lebih sering mengingat Allah yang selalu menjagaku?


Catatan Untuk Sebuah Hati

Boleh jadi dunia mengambil banyak hal darimu.

Namun jangan biarkan dunia mengambil keimananmu.

Boleh jadi rezekimu tertahan.

Namun jangan biarkan sujudmu ikut tertahan.

Boleh jadi jalanmu terasa panjang.

Namun percayalah...

Tidak ada satu langkah menuju Allah yang sia-sia.

Sebab ketika seorang hamba tetap memilih bertahan bersama Allah di tengah badai, sesungguhnya ia sedang berjalan menuju pertolongan yang mungkin belum terlihat, tetapi telah Allah siapkan.

"Karena tidak semua pertolongan datang dengan segera. Ada yang Allah hadiahkan setelah hati benar-benar belajar bersandar hanya kepada-Nya."


Untuk Sebuah Hati
Mariah Yufa
@mariahyufa

Kamis, 30 Juli 2026

MAJALAH DAKWAH EDISI 1

Ketika Diam Bukan Lagi Sebuah Hikmah

Menutup Celah Prasangka dengan Tabayun dan Kejujuran

Oleh: Mariah Yufa
Untuk Sebuah Hati

Pendahuluan

Dalam kehidupan bermasyarakat, diam sering dipahami sebagai bentuk kedewasaan. Tidak sedikit orang memilih bungkam demi menghindari konflik, menjaga perasaan, atau berharap waktu akan menyelesaikan persoalan.

Namun, benarkah setiap diam adalah kebijaksanaan?

Islam mengajarkan bahwa diam memiliki nilai ibadah apabila mampu menjaga lisan dari keburukan. Sebaliknya, ketika diam justru membiarkan kesalahpahaman berkembang, membuka ruang bagi prasangka, atau menyebabkan hati seorang muslim terluka karena tidak mengetahui kebenaran, maka diam bukan lagi pilihan yang paling bijak.

Hikmah bukan terletak pada banyak atau sedikitnya berbicara, melainkan pada kemampuan menempatkan ucapan dan diam sesuai tuntunan syariat.

Islam Membangun Kejelasan, Bukan Prasangka

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ ۖ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ

"Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa."
(QS. Al-Hujurat: 12)

Prasangka hampir selalu berawal dari informasi yang tidak utuh. Ketika komunikasi terputus, syaitan mendapatkan kesempatan untuk membisikkan dugaan-dugaan yang tidak berdasar.

Karena itu, Allah juga memerintahkan tabayun:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا

"Wahai orang-orang yang beriman! Jika datang kepadamu seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya."
(QS. Al-Hujurat: 6)

Ayat ini bukan hanya mengajarkan kehati-hatian dalam menerima berita, tetapi juga menegaskan pentingnya menghadirkan kejelasan agar tidak lahir keputusan yang didasarkan pada asumsi.

Teladan Rasulullah ﷺ dalam Menutup Pintu Prasangka

Sirah Nabi memberikan contoh yang sangat indah.

Pada suatu malam, Rasulullah ﷺ sedang berjalan bersama istri beliau, Shafiyyah binti Huyayy radhiyallahu 'anha. Ketika dua orang sahabat Anshar melihat beliau, mereka segera mempercepat langkah.

Rasulullah ﷺ memanggil keduanya seraya bersabda,

«عَلَى رِسْلِكُمَا، إِنَّهَا صَفِيَّةُ بِنْتُ حُيَيٍّ»

"Pelan-pelan. Sesungguhnya wanita yang bersamaku ini adalah Shafiyyah."

Kedua sahabat menjawab,

"Subhanallah, wahai Rasulullah."

Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda,

«إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنَ الإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ، وَإِنِّي خَشِيتُ أَنْ يَقْذِفَ فِي قُلُوبِكُمَا شَيْئًا»

"Sesungguhnya syaitan mengalir dalam diri manusia sebagaimana aliran darah. Aku khawatir ia membisikkan sesuatu ke dalam hati kalian."

(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini memberikan pelajaran yang sangat mendalam. Rasulullah ﷺ tidak membiarkan ruang kosong yang dapat diisi oleh prasangka. Beliau memberikan penjelasan, bukan karena merasa perlu membela diri, tetapi demi menjaga kebersihan hati para sahabat.

Inilah akhlak seorang pemimpin. Menjelaskan ketika diperlukan adalah bentuk kasih sayang kepada umat.

Diam yang Bernilai Ibadah dan Diam yang Merugikan

Rasulullah ﷺ bersabda:

"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menghadirkan keseimbangan.

Diam menjadi ibadah apabila ucapan hanya akan melahirkan dosa, pertengkaran, atau menyakiti orang lain.

Namun ketika sebuah penjelasan yang baik mampu menghilangkan fitnah, meluruskan kesalahpahaman, menjaga kehormatan seorang muslim, dan mempererat ukhuwah, maka berkata dengan baik justru menjadi bagian dari amanah.

Dalam konteks ini, diam tidak selalu identik dengan hikmah. Sebaliknya, diam yang membiarkan prasangka berkembang dapat menjadi celah yang dimanfaatkan syaitan.

Muhasabah

Sebelum memilih diam, renungkan beberapa pertanyaan berikut.

  • Apakah diam saya mendekatkan manusia kepada kebenaran atau justru membiarkan prasangka tumbuh?
  • Apakah penjelasan yang santun akan membawa maslahat yang lebih besar?
  • Apakah saya diam karena hikmah, atau karena enggan menyelesaikan persoalan?

Islam adalah agama yang menjunjung tinggi kejujuran, tabayun, dan ukhuwah. Oleh karena itu, seorang mukmin hendaknya tidak tergesa-gesa berbicara, tetapi juga tidak membiarkan syaitan mengisi ruang yang kosong dengan prasangka.

Penutup

Diam adalah kemuliaan apabila menjaga dari dosa.

Berbicara adalah kemuliaan apabila menghadirkan kebenaran.

Seorang mukmin yang bijaksana tidak menjadikan diam sebagai tempat bersembunyi dari tanggung jawab, dan tidak menjadikan lisan sebagai senjata untuk melukai.

Ia memilih waktu yang tepat, kata-kata yang baik, dan niat yang lurus demi menjaga hati, kehormatan, dan persaudaraan sesama muslim.

"Hikmah bukan terletak pada diam atau berbicara, tetapi pada kemampuan menempatkan keduanya demi meraih ridha Allah."

Wallāhu a'lam bish-shawāb.


Untuk Sebuah Hati
"Menata hati, menguatkan iman, dan menebar cahaya kebaikan."
@mariahyufa

Rabu, 29 Juli 2026

Bukan Sekadar Memberi Gaji, Tetapi Mengantarkan Hati Mengenal Allah

Bukan Sekadar Memberi Gaji, Tetapi Mengantarkan Hati Mengenal Allah

Untuk Sebuah Hati
@mariahyufa

Tidak semua pemimpin menyadari bahwa di balik setiap meja kerja, ada hati yang sedang lelah.

Ada yang datang bekerja sambil memikul masalah keluarga. Ada yang tersenyum, padahal sedang kehilangan arah. Ada yang terlihat kuat, tetapi diam-diam sedang berjuang menjaga imannya.

Lalu Allah menitipkan mereka kepada seorang pemimpin.

Bukan hanya untuk diberi pekerjaan. Bukan hanya untuk menerima gaji di akhir bulan.

Tetapi mungkin... agar ada satu hati yang kembali mengingat Allah.

Sungguh indah ketika seorang pengusaha, di tengah rapat yang padat, target yang tinggi, dan tanggung jawab yang besar, masih menyempatkan dirinya duduk di majelis ilmu.

Lebih indah lagi ketika ia berkata,

"Mari kita berhenti sejenak... mari kita dengarkan ayat-ayat Allah."

Saat itulah perusahaan bukan lagi sekadar tempat mencari nafkah.

Ia berubah menjadi tempat bertumbuhnya iman.

Betapa banyak persoalan hidup yang tidak selesai hanya dengan kenaikan gaji.

Namun satu ayat Al-Qur'an... Satu hadis Rasulullah ﷺ... Satu nasihat yang lahir dari hati yang ikhlas...

Sering kali mampu mengubah jalan hidup seseorang.

Mungkin seorang pegawai pulang membawa ilmu yang ia ajarkan kepada anak-anaknya.

Mungkin seorang suami menjadi lebih lembut kepada istrinya setelah mendengar kajian.

Mungkin seorang istri menjadi lebih sabar menghadapi ujian.

Mungkin ada hati yang hampir putus asa, lalu kembali menemukan harapan karena satu kalimat yang didengarnya di majelis ilmu.

Dan semua itu...

Berawal dari seorang pemimpin yang menyediakan ruang untuk mengingat Allah.

Kelak, ketika laporan keuangan telah selesai dihitung...

Ketika jabatan telah berganti...

Ketika gedung-gedung telah berpindah tangan...

Yang tetap tinggal adalah amal-amal yang pernah menjadi sebab hidayah.

Betapa bahagianya seorang pemimpin jika di akhirat nanti ada yang berkata,

"Ya Allah... melalui tempat kerja inilah aku mengenal-Mu lebih dekat."

Bukankah itu keuntungan yang tidak pernah merugi?

Karena rezeki bukan hanya tentang bertambahnya angka.

Keberkahan adalah ketika usaha menjadi jalan hadirnya cahaya di banyak hati.

Semoga Allah menjaga para pemimpin yang mencintai majelis ilmu.

Yang tidak hanya membangun perusahaan, tetapi juga membangun manusia.

Yang tidak hanya mengejar keuntungan dunia, tetapi juga menanam bekal menuju akhirat.

Sebab...

Seorang pemimpin terbaik bukan hanya yang mampu menghidupi pegawainya dengan rezeki, tetapi juga yang menghidupkan hati mereka dengan ilmu dan mengantarkan mereka semakin dekat kepada Allah.

"Ya Allah, jadikan setiap amanah yang Engkau titipkan kepada kami sebagai jalan menuju ridha-Mu. Jangan biarkan kami hanya sibuk membangun dunia, sementara kami lupa membangun hati yang akan kembali kepada-Mu."

Mariah Yufa
Untuk Sebuah Hati 🌿

Kamis, 23 Juli 2026

Ketika Kesabaran Tidak Lagi Berarti Diam

Ketika Kesabaran Tidak Lagi Berarti Diam

Ada hati yang setiap hari berusaha bertahan.

Bukan karena ia tidak lelah. Bukan karena ia tidak terluka. Tetapi karena ia percaya, mungkin besok Allah akan membukakan pintu yang selama ini tertutup.

Ia mengalah. Ia menurunkan ego. Ia meminta maaf, meski belum tentu bersalah. Ia mencoba memperbaiki diri, meski tidak tahu letak kesalahannya.

Namun, hari berganti hari.

Sapanya tak lagi dijawab. Pesannya hanya dibaca dalam diam. Tatapannya dihindari. Bahkan saat wajahnya muncul di layar video call, suaminya memilih memalingkan pandangan.

Yang melukai ternyata bukan bentakan.

Melainkan sikap dingin yang perlahan membunuh harapan.

Lalu, ada yang berkata,

"Sabar ya... Istri yang baik harus sabar."

Benar.

Tetapi, pernahkah kita memahami makna sabar yang diajarkan Allah?

Kesabaran bukanlah membiarkan diri tenggelam dalam luka tanpa batas.

Kesabaran bukan pula menerima setiap perlakuan yang menyakiti seolah itu adalah takdir yang harus dinikmati.

Sabar adalah tetap taat kepada Allah ketika ujian datang. Tetap menjaga lisan ketika hati terluka. Tetap memilih jalan yang halal ketika emosi menguasai.

Namun sabar juga berarti berikhtiar.

Karena Allah tidak hanya memerintahkan hamba-Nya untuk bersabar, tetapi juga memerintahkan agar kezaliman dihentikan dan perselisihan diselesaikan dengan cara yang benar. Ketika konflik rumah tangga tidak lagi dapat diselesaikan berdua, Al-Qur'an memerintahkan menghadirkan hakam atau juru damai agar diupayakan islah.

Maka, jika komunikasi telah ditempuh... Jika introspeksi telah dilakukan... Jika keluarga telah dimediasi... Jika kesempatan demi kesempatan telah diberikan...

Namun yang datang hanyalah dingin, diam, dan ketidakpastian...

Jangan salahkan dirimu karena mulai merasa lelah.

Lelah bukan tanda lemahnya iman.

Lelah adalah tanda bahwa hati telah terlalu lama memikul beban seorang diri.

Ingatlah...

Rumah tangga dibangun oleh dua orang.

Bila hanya satu yang terus memperbaiki, sementara yang lain terus menjauh, maka yang sedang dipikul bukan lagi beban rumah tangga, melainkan beban kesendirian.

Allah memerintahkan suami untuk mempergauli istrinya dengan cara yang ma'ruf; hubungan suami istri dibangun di atas saling memenuhi hak dan kewajiban, bukan membiarkan salah satu pihak terus menanggung luka seorang diri.

Jangan takut disebut tidak sabar hanya karena engkau mencari penyelesaian.

Karena mencari jalan keluar yang diridhai Allah bukanlah bentuk keputusasaan.

Itulah ikhtiar.

Dan ikhtiar adalah bagian dari kesabaran.

Semoga Allah melembutkan hati yang keras. Menguatkan hati yang lelah. Dan menunjukkan jalan terbaik, meski terkadang jalan itu bukan yang paling mudah, tetapi yang paling diridhai-Nya.

Semoga tulisan ini dapat menjadi pelukan bagi mereka yang sedang berjuang mempertahankan rumah tangga tanpa kehilangan harga diri dan tanpa keluar dari tuntunan syariat.


Untuk Sebuah Hati

Mariah Yufa

Jumat, 12 Juni 2026

Uban-Uban yang Tak Terlihat


Uban-Uban yang Tak Terlihat

Dulu, ketika suaminya semakin sibuk mengurus perusahaan, Yufa sering membayangkan kehidupan yang sederhana.

Tak ada lagi target pekerjaan. Tak ada lagi rapat dan deadline. Ia hanya ingin berada di rumah, menemani anak-anak, menyambut suami pulang, dan menjalani hari dengan tenang.

Maka dengan penuh keyakinan, ia memutuskan untuk resign.

"Biarlah Abi fokus bekerja. Aku yang akan lebih banyak di rumah bersama anak-anak," pikirnya waktu itu.

Ia bahagia.

Setidaknya, begitulah yang ia bayangkan.

Namun, Allah ternyata menulis kisah yang berbeda.

Hari-hari yang dulu diisi pekerjaan, kini perlahan digantikan oleh berbagai amanah.

Majelis taklim.

Forum komunikasi.

Undangan kegiatan.

Pesan yang tak pernah berhenti.

Dan grup-grup WhatsApp yang jumlahnya semakin banyak.

Yufa tersenyum setiap kali orang berkata,

"Masih muda, Ustadzah. Masih kuat."

Ia hanya membalas dengan senyum.

Tak ada yang tahu bahwa tekanan darahnya sering tak menentu.

Tak ada yang tahu bahwa lambungnya sudah lama bersahabat dengan GERD.

Tak ada yang tahu bahwa setiap kali banyak pikiran, kepalanya terasa berat.

Dan tak ada yang tahu bahwa di balik hijab yang dikenakannya, rambut hitamnya perlahan berubah menjadi putih.

Suatu hari, sambil menyisir rambut di depan cermin, ia terdiam.

"Astagfirullah... kok uban Ummah sudah sebanyak ini?"

Ia tertawa kecil.

Namun entah mengapa, matanya justru berkaca-kaca.

"Jangan-jangan Abi kaget melihat Ummah jadi tua begini..." gumamnya malu.

Padahal suaminya tak pernah mempermasalahkan.

Suaminya tetap memandangnya dengan kelembutan yang sama.

Tetap memanggilnya dengan panggilan kesayangan.

Tetap menganggapnya wanita yang paling berarti dalam hidupnya.

Tetapi sebagai seorang wanita, kadang ia malu sendiri melihat perubahan itu.

Malam itu, ketika semua orang telah tertidur, Yufa duduk sendirian.

Ponselnya masih dipenuhi notifikasi.

Ada grup baru yang mengundangnya masuk.

Ada kegiatan yang harus dipantau.

Ada orang yang membutuhkan jawabannya.

Dan ada banyak harapan yang seolah ingin ia penuhi semuanya.

Namun tiba-tiba ia teringat.

Bukankah dulu ia resign demi keluarga?

Bukankah dulu ia hanya ingin hidup sederhana?

Bukankah dulu ia hanya ingin menjadi seorang istri dan ibu yang hadir?

Air matanya jatuh.

Bukan karena ia membenci amanah.

Bukan pula karena ia tidak bersyukur.

Ia hanya lelah.

Lelah karena terlalu lama terlihat kuat.

Lelah karena terlalu sering berkata "iya".

Lelah karena takut mengecewakan manusia.

Dan yang paling membuatnya sedih...

Ia tidak pernah bercita-cita menjadi seorang ustadzah.

Ia hanya suka menulis.

Ia hanya suka memotivasi orang dengan cara yang lembut.

Ia hanya ingin menjadi jalan agar seseorang lebih dekat kepada Allah.

Tetapi entah sejak kapan, orang-orang mulai memanggilnya "Ustadzah".

Panggilan yang membuatnya tersipu malu.

Karena ia mengenal dirinya sendiri.

Ia tahu bahwa dirinya masih banyak kurangnya.

Masih sering lelah.

Masih sering menangis.

Masih sering merasa tidak sanggup.

Dan malam itu, di tengah sunyi, ia mengangkat kedua tangannya.

"Ya Allah...

Aku tidak ingin menjadi siapa-siapa di mata manusia.

Aku tidak ingin dikenal karena jabatan.

Aku tidak ingin dipuji karena gelar.

Aku hanya ingin menjadi istri yang dicintai suamiku.

Menjadi ibu yang dirindukan anak-anakku.

Dan menjadi hamba yang Engkau cintai.

Jika amanah ini masih harus kujalani, kuatkanlah aku.

Namun jika ada yang boleh kulepaskan, lapangkanlah hatiku untuk melepaskannya."

Tak ada suara yang menjawab.

Namun entah mengapa, hatinya terasa lebih ringan.

Ia lalu berdiri.

Mematikan ponsel.

Masuk ke kamar.

Dan melihat suaminya yang telah tertidur.

Dengan rambut yang mulai dipenuhi uban, ia tersenyum kecil.

"Abi..."

"Ummah tidak ingin menjadi siapa-siapa..."

"Ummah hanya ingin menua bersamamu, melihat anak-anak tumbuh, dan pulang kepada Allah dengan hati yang tenang..."

Di luar sana, banyak orang mengenalnya dengan berbagai sebutan.

Namun jauh di dalam hatinya, ada satu panggilan yang paling ia cintai.

Bukan "Ketua".

Bukan "Ustadzah".

Melainkan...

"Ummah..."

Dan disusul suara-suara kecil yang selalu membuat hatinya luluh,

"Ummah... Ummah..."

Ternyata, itulah jabatan terindah yang Allah titipkan kepadanya.

Dan ternyata, itu sudah lebih dari cukup.

💛Untuk Sebuah Hati 💛

"Tidak semua wanita ingin dikenal oleh banyak orang. Sebagian dari mereka hanya ingin pulang, lalu mendengar suara kecil yang memanggilnya, 'Ummah...'."

@mariahyufa

Yang Tidak Hilang dalam Catatan Langit


Yang Tidak Hilang dalam Catatan Langit

"Manusia bisa saja lupa pada sebuah pengorbanan. Tetapi langit tidak pernah kehilangan catatannya."

Tiga perempuan itu duduk mengelilingi sebuah meja.

Di hadapan mereka, tiga lelaki sedang berbicara tentang sesuatu yang telah mereka bangun bersama. Tentang visi dan misi perusahaan. Tentang pemasukan dan pengeluaran. Tentang mimpi yang dahulu hanya berupa keberanian dan kepercayaan.

Lelaki yang pertama kini menjadi komisaris. Lelaki yang kedua mengemban amanah sebagai direktur utama. Sedangkan suami Salma, yang bergabung paling akhir, dipercaya sebagai direktur.

Bagi ketiga lelaki itu, mungkin pertemuan itu hanyalah makan siang dan rapat biasa.

Namun bagi Salma, ada banyak hal yang diam-diam berbicara di dalam hati.

Sebab rumah yang kini dipakai sebagai kantor itu adalah rumah mereka.

Rumah yang dahulu dipenuhi suara anak-anak, kini menjadi tempat tamu keluar masuk, tempat rapat berlangsung hingga malam, dan tempat mimpi-mimpi besar itu bertumbuh.

Tidak ada uang sewa.

Tidak ada perjanjian khusus.

Dan anehnya, lelaki yang paling berhak mempertanyakannya justru yang paling tenang.

"Abi tidak apa-apa?" tanya Salma suatu malam.

Suaminya tersenyum.

"Kenapa?"

"Rumah kita dipakai kantor. Abi banyak mengurus investor. Tapi Abi tidak pernah meminta apa-apa."

Lelaki itu tertawa kecil.

"Ummah..."

"Iya?"

"Kalau semua kebaikan harus langsung dibayar manusia, mungkin kita akan sering kecewa."

"Kalau semua pengorbanan harus segera dihitung, mungkin kita akan mudah lelah."

"Dan kalau semua yang kita beri harus langsung kembali kepada kita, mungkin kita tidak akan pernah belajar ikhlas."

Salma terdiam.

Ia tidak tahu harus bangga atau menangis.

Karena justru kebaikan suaminya itulah yang terkadang membuat hatinya pegal.


"Kamu harus bicara!"

"Jangan terlalu baik!"

"Bodoh sekali!"

Begitulah suara-suara dari luar.

Semua mengkhawatirkan mereka.

Semua takut mereka dirugikan.

Dan Salma memahami itu.

Tetapi setiap kali ia ingin mendesak, ia selalu teringat wajah suaminya yang tenang.

Ia takut, jangan sampai kegelisahan dalam hatinya justru menjadi beban bagi lelaki yang sedang berjuang.

Maka ia memilih diam.

Bukan karena tidak peduli.

Bukan karena tidak memiliki pertanyaan.

Tetapi karena ia tidak ingin menjadi sebab sempitnya hati seorang lelaki yang Allah karuniakan kelapangan.


Pada suatu malam, ketika semua telah tertidur, Salma mengangkat kedua tangannya.

"Ya Allah..."

"Aku bangga kepada suamiku."

"Tetapi Engkau tahu, kadang hatiku pegal."

"Aku takut kebaikannya tidak terlihat."

"Aku takut pengorbanannya dilupakan."

"Tapi aku juga takut menjadi istri yang mempersulit langkahnya."

"Jika memang jalan ini baik, berkahilah."

"Dan jika ada hak yang belum terlihat oleh manusia, jangan biarkan ia hilang dari catatan-Mu."

Air mata itu jatuh perlahan.

Dan entah mengapa, setelah doa itu selesai, hati Salma menjadi lebih tenang.

Karena ia sadar...

Manusia mungkin hanya melihat siapa yang lebih tinggi jabatannya.

Manusia mungkin hanya melihat siapa yang lebih dahulu memulai.

Manusia mungkin hanya menghitung angka yang tampak di depan mata.

Tetapi Allah melihat rumah yang dibuka dengan ikhlas.

Allah melihat seorang lelaki yang tidak pandai menghitung jasa.

Allah melihat seorang istri yang memilih mendoakan daripada memperkeruh suasana.

Dan Allah tidak pernah kehilangan catatan tentang semua itu.

Sebab ada banyak kebaikan yang tidak tercatat dalam laporan perusahaan, tetapi tidak pernah hilang dalam catatan langit.

🤍

"Dan apa saja kebaikan yang kamu kerjakan, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya." (QS. Al-Baqarah: 215)