Ketika Kesabaran Tidak Lagi Berarti Diam
Ada hati yang setiap hari berusaha bertahan.
Bukan karena ia tidak lelah. Bukan karena ia tidak terluka. Tetapi karena ia percaya, mungkin besok Allah akan membukakan pintu yang selama ini tertutup.
Ia mengalah. Ia menurunkan ego. Ia meminta maaf, meski belum tentu bersalah. Ia mencoba memperbaiki diri, meski tidak tahu letak kesalahannya.
Namun, hari berganti hari.
Sapanya tak lagi dijawab. Pesannya hanya dibaca dalam diam. Tatapannya dihindari. Bahkan saat wajahnya muncul di layar video call, suaminya memilih memalingkan pandangan.
Yang melukai ternyata bukan bentakan.
Melainkan sikap dingin yang perlahan membunuh harapan.
Lalu, ada yang berkata,
"Sabar ya... Istri yang baik harus sabar."
Benar.
Tetapi, pernahkah kita memahami makna sabar yang diajarkan Allah?
Kesabaran bukanlah membiarkan diri tenggelam dalam luka tanpa batas.
Kesabaran bukan pula menerima setiap perlakuan yang menyakiti seolah itu adalah takdir yang harus dinikmati.
Sabar adalah tetap taat kepada Allah ketika ujian datang. Tetap menjaga lisan ketika hati terluka. Tetap memilih jalan yang halal ketika emosi menguasai.
Namun sabar juga berarti berikhtiar.
Karena Allah tidak hanya memerintahkan hamba-Nya untuk bersabar, tetapi juga memerintahkan agar kezaliman dihentikan dan perselisihan diselesaikan dengan cara yang benar. Ketika konflik rumah tangga tidak lagi dapat diselesaikan berdua, Al-Qur'an memerintahkan menghadirkan hakam atau juru damai agar diupayakan islah.
Maka, jika komunikasi telah ditempuh... Jika introspeksi telah dilakukan... Jika keluarga telah dimediasi... Jika kesempatan demi kesempatan telah diberikan...
Namun yang datang hanyalah dingin, diam, dan ketidakpastian...
Jangan salahkan dirimu karena mulai merasa lelah.
Lelah bukan tanda lemahnya iman.
Lelah adalah tanda bahwa hati telah terlalu lama memikul beban seorang diri.
Ingatlah...
Rumah tangga dibangun oleh dua orang.
Bila hanya satu yang terus memperbaiki, sementara yang lain terus menjauh, maka yang sedang dipikul bukan lagi beban rumah tangga, melainkan beban kesendirian.
Allah memerintahkan suami untuk mempergauli istrinya dengan cara yang ma'ruf; hubungan suami istri dibangun di atas saling memenuhi hak dan kewajiban, bukan membiarkan salah satu pihak terus menanggung luka seorang diri.
Jangan takut disebut tidak sabar hanya karena engkau mencari penyelesaian.
Karena mencari jalan keluar yang diridhai Allah bukanlah bentuk keputusasaan.
Itulah ikhtiar.
Dan ikhtiar adalah bagian dari kesabaran.
Semoga Allah melembutkan hati yang keras. Menguatkan hati yang lelah. Dan menunjukkan jalan terbaik, meski terkadang jalan itu bukan yang paling mudah, tetapi yang paling diridhai-Nya.
Semoga tulisan ini dapat menjadi pelukan bagi mereka yang sedang berjuang mempertahankan rumah tangga tanpa kehilangan harga diri dan tanpa keluar dari tuntunan syariat.
Untuk Sebuah Hati
Mariah Yufa