Rasulullah bersabda, "Seseorang itu tergantung agama temannya. Maka hendaknya salah seorang dari kalian melihat siapa temannya." (HR. Ahmad dan Tirmidzi). Dan “Manusia beragama seperti sahabatnya.
"Jangan berteman, kecuali dengan orang mukmin, dan jangan memakan makananmu kecuali orang yang bertakwa." (HR. Ahmad dihasankan oleh al-Albani).
“Manusia itu mengikuti kebiasaaan sahabat dekatnya. Oleh karena itu, hendaklah salah seorang dari kalian memikirkan siapa yang akan dijadikan sahabat” HR. Abu Dawud dan Tirmidzi. Kita harus mengenali akhlak sahabat kita, bila buruk akhlaknya dan suka melanggar ajaran agama, kita harus menjauhinya.
Abu Hurairah ra, “Bersahabatlah dengan orang yang dapat mengingatkan kalian kepada Allah SWT, yang kata-katanya menambah amal kalian dan membangkitkan semangat untuk beramal bagi kepentingan akhirat ketika kalian memandang mereka”
Ali ibn Abi Thalib ra, Sahabatmu yang sejati adalah yang setia bersamamu, rela menderita demi kebaikanmu, mendatangimu apabila engkau ditimpa musibah dan bersedia berkorban demi menolongmu”
Imam Ali bin Abi Thalib (as) “Orang yang menjalin persahabatan setelah teliti dalam memilih sahabat, maka persahabatannya akan langgeng dan kokoh. Dan Bersahabat dengan orang yang arif dan bijak akan menghidupkan jiwa dan ruh.”
QS. al-Furqan:28-29 Disebutkan di ayat itu bahwa seseorang yang berada di neraka menyesali karena salah memilih sahabat dan mengatakan, “Andai saja aku tidak menjadikan si Polan itu sahabatku. Dia telah mencegahku dari mengikuti kebenaran yang sebenarnya telah sampai kepadaku.”
Imam Ali (as), “Bersahabat dengan orang yang durjana/buruk akhlaknya akan mengakibatkan kesengsaraan tak ubahnya seperti angin yang menyapu bangkai dan menyebarkan bau busuk bersamanya.”
Imam Sadiq (as) “Berkawan ada batasnya. Siapa saja yang menjaga batasan itu berarti dia adalah sahabat yang benar. Jika tidak, jangan bersahabat dengannya. Batasan-batasan persahabatan adalah; Pertama, dia mesti bersikap sama baik didepanmu maupun dibelakangmu (Yakni menjaga kejujuran dan persahabatan). Kedua, menganggap kebaikanmu sebagai kebaikannya dan celamu sebagai celanya. Ketiga, tidak mengubah perilaku ketika dia mendapat kedudukan atau harta. Keempat, jika memiliki harta, dia tak akan pernah segan membantumu. Kelima, tidak membiarkanmu seorang diri kala engkau ditimpa masalah dan kesulitan.”
Imam Ali (as) berkata, “Bersahabatlah dengan orang yang penyabar, dengan begitu engkau bisa belajar meningkatkan kesabaranmu.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar