Uban-Uban yang Tak Terlihat
Dulu, ketika suaminya semakin sibuk mengurus perusahaan, Yufa sering membayangkan kehidupan yang sederhana.
Tak ada lagi target pekerjaan. Tak ada lagi rapat dan deadline. Ia hanya ingin berada di rumah, menemani anak-anak, menyambut suami pulang, dan menjalani hari dengan tenang.
Maka dengan penuh keyakinan, ia memutuskan untuk resign.
"Biarlah Abi fokus bekerja. Aku yang akan lebih banyak di rumah bersama anak-anak," pikirnya waktu itu.
Ia bahagia.
Setidaknya, begitulah yang ia bayangkan.
Namun, Allah ternyata menulis kisah yang berbeda.
Hari-hari yang dulu diisi pekerjaan, kini perlahan digantikan oleh berbagai amanah.
Majelis taklim.
Forum komunikasi.
Undangan kegiatan.
Pesan yang tak pernah berhenti.
Dan grup-grup WhatsApp yang jumlahnya semakin banyak.
Yufa tersenyum setiap kali orang berkata,
"Masih muda, Ustadzah. Masih kuat."
Ia hanya membalas dengan senyum.
Tak ada yang tahu bahwa tekanan darahnya sering tak menentu.
Tak ada yang tahu bahwa lambungnya sudah lama bersahabat dengan GERD.
Tak ada yang tahu bahwa setiap kali banyak pikiran, kepalanya terasa berat.
Dan tak ada yang tahu bahwa di balik hijab yang dikenakannya, rambut hitamnya perlahan berubah menjadi putih.
Suatu hari, sambil menyisir rambut di depan cermin, ia terdiam.
"Astagfirullah... kok uban Ummah sudah sebanyak ini?"
Ia tertawa kecil.
Namun entah mengapa, matanya justru berkaca-kaca.
"Jangan-jangan Abi kaget melihat Ummah jadi tua begini..." gumamnya malu.
Padahal suaminya tak pernah mempermasalahkan.
Suaminya tetap memandangnya dengan kelembutan yang sama.
Tetap memanggilnya dengan panggilan kesayangan.
Tetap menganggapnya wanita yang paling berarti dalam hidupnya.
Tetapi sebagai seorang wanita, kadang ia malu sendiri melihat perubahan itu.
Malam itu, ketika semua orang telah tertidur, Yufa duduk sendirian.
Ponselnya masih dipenuhi notifikasi.
Ada grup baru yang mengundangnya masuk.
Ada kegiatan yang harus dipantau.
Ada orang yang membutuhkan jawabannya.
Dan ada banyak harapan yang seolah ingin ia penuhi semuanya.
Namun tiba-tiba ia teringat.
Bukankah dulu ia resign demi keluarga?
Bukankah dulu ia hanya ingin hidup sederhana?
Bukankah dulu ia hanya ingin menjadi seorang istri dan ibu yang hadir?
Air matanya jatuh.
Bukan karena ia membenci amanah.
Bukan pula karena ia tidak bersyukur.
Ia hanya lelah.
Lelah karena terlalu lama terlihat kuat.
Lelah karena terlalu sering berkata "iya".
Lelah karena takut mengecewakan manusia.
Dan yang paling membuatnya sedih...
Ia tidak pernah bercita-cita menjadi seorang ustadzah.
Ia hanya suka menulis.
Ia hanya suka memotivasi orang dengan cara yang lembut.
Ia hanya ingin menjadi jalan agar seseorang lebih dekat kepada Allah.
Tetapi entah sejak kapan, orang-orang mulai memanggilnya "Ustadzah".
Panggilan yang membuatnya tersipu malu.
Karena ia mengenal dirinya sendiri.
Ia tahu bahwa dirinya masih banyak kurangnya.
Masih sering lelah.
Masih sering menangis.
Masih sering merasa tidak sanggup.
Dan malam itu, di tengah sunyi, ia mengangkat kedua tangannya.
"Ya Allah...
Aku tidak ingin menjadi siapa-siapa di mata manusia.
Aku tidak ingin dikenal karena jabatan.
Aku tidak ingin dipuji karena gelar.
Aku hanya ingin menjadi istri yang dicintai suamiku.
Menjadi ibu yang dirindukan anak-anakku.
Dan menjadi hamba yang Engkau cintai.
Jika amanah ini masih harus kujalani, kuatkanlah aku.
Namun jika ada yang boleh kulepaskan, lapangkanlah hatiku untuk melepaskannya."
Tak ada suara yang menjawab.
Namun entah mengapa, hatinya terasa lebih ringan.
Ia lalu berdiri.
Mematikan ponsel.
Masuk ke kamar.
Dan melihat suaminya yang telah tertidur.
Dengan rambut yang mulai dipenuhi uban, ia tersenyum kecil.
"Abi..."
"Ummah tidak ingin menjadi siapa-siapa..."
"Ummah hanya ingin menua bersamamu, melihat anak-anak tumbuh, dan pulang kepada Allah dengan hati yang tenang..."
Di luar sana, banyak orang mengenalnya dengan berbagai sebutan.
Namun jauh di dalam hatinya, ada satu panggilan yang paling ia cintai.
Bukan "Ketua".
Bukan "Ustadzah".
Melainkan...
"Ummah..."
Dan disusul suara-suara kecil yang selalu membuat hatinya luluh,
"Ummah... Ummah..."
Ternyata, itulah jabatan terindah yang Allah titipkan kepadanya.
Dan ternyata, itu sudah lebih dari cukup.
💛Untuk Sebuah Hati 💛
"Tidak semua wanita ingin dikenal oleh banyak orang. Sebagian dari mereka hanya ingin pulang, lalu mendengar suara kecil yang memanggilnya, 'Ummah...'."
@mariahyufa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar