Ketika Ujian Datang Bertubi-tubi
Ujian, Takdir, atau Gangguan?
Oleh: Mariah Yufa
@mariahyufa
"Tidaklah seorang mukmin ditimpa kelelahan, penyakit, kesedihan, kegundahan, gangguan, bahkan duri yang menusuknya, melainkan Allah menghapus sebagian dosa-dosanya karenanya."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Ketika Hidup Berubah Tanpa Peringatan
Ada orang yang dahulu hidup berkecukupan.
Rumahnya tak pernah sepi dari tamu.
Tangannya ringan membantu.
Sedekah menjadi kebiasaan.
Anak-anak yatim dikenal namanya.
Saudara selalu disambangi dengan buah tangan.
Lalu...
Dalam waktu yang tidak terlalu lama, semuanya berubah.
Pekerjaan terhenti.
Usaha tidak berkembang.
Tabungan habis.
Utang mulai menumpuk.
Kesehatan keluarga terganggu.
Hubungan menjadi renggang.
Hati mulai lelah.
Di titik itulah muncul pertanyaan yang sangat manusiawi.
"Ya Allah... mengapa semua ini terjadi?"
Antara Ikhtiar dan Prasangka
Sebagian orang langsung menyimpulkan,
"Ini pasti sihir."
Sebagian lagi berkata,
"Tidak mungkin ada gangguan seperti itu."
Islam tidak mengajarkan kita berada di dua ujung yang berlebihan.
Al-Qur'an menjelaskan bahwa sihir memang ada. Namun Al-Qur'an juga menjelaskan bahwa tidak ada satu pun mudarat yang dapat terjadi tanpa izin Allah.
"...Mereka tidak dapat mencelakakan seseorang dengan sihir itu kecuali dengan izin Allah..."
(QS. Al-Baqarah: 102)
Ayat ini menumbuhkan dua keyakinan sekaligus.
Kita tidak mengingkari perkara gaib yang dijelaskan syariat.
Namun kita juga tidak menjadikan setiap musibah sebagai kepastian bahwa penyebabnya adalah sihir.
Karena perkara gaib bukan wilayah prasangka.
Yang Lebih Berbahaya daripada Gangguan
Kadang bukan gangguannya yang paling menghancurkan.
Melainkan...
Rasa takut yang menguasai hati.
Curiga kepada semua orang.
Sibuk mencari siapa pelakunya.
Membalas kebencian dengan kebencian.
Padahal...
Bila benar ada gangguan, Allah lebih berkuasa.
Bila ternyata tidak ada gangguan, ibadah yang kita lakukan tetap bernilai di sisi-Nya.
Karena itu para ulama sering mengingatkan,
Jangan sibuk mengejar pelaku. Sibukkan dirimu mendekat kepada Allah.
Belajar dari Nabi Ayyub
Nabi Ayyub `alaihis salam kehilangan banyak hal yang dicintainya.
Beliau kehilangan kesehatan.
Beliau kehilangan harta.
Beliau kehilangan sebagian keluarganya.
Namun yang tidak pernah hilang adalah keyakinannya kepada Allah.
Beliau berdoa,
"Ya Tuhanku, sungguh aku telah ditimpa penyakit, dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang."
(QS. Al-Anbiya: 83)
Beliau tidak menyalahkan manusia.
Tidak menyalahkan keadaan.
Tidak pula kehilangan adab kepada Rabb-nya.
Dan Allah mengangkat ujiannya.
Benteng Seorang Mukmin
Jika kita benar-benar sedang diuji, maka bentengnya bukan rasa takut.
Bentengnya adalah tauhid.
Bentengnya adalah salat.
Bentengnya adalah Al-Qur'an.
Bentengnya adalah dzikir pagi dan petang.
Bentengnya adalah istighfar.
Bentengnya adalah doa.
Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa perlindungan terbaik bukanlah mencari tahu perkara gaib, tetapi memperbanyak mengingat Allah.
Mungkin Allah Sedang Menata Kita
Ada kalanya Allah mengambil sesuatu yang kita cintai.
Bukan karena Dia membenci kita.
Tetapi karena Dia ingin kita kembali menggantungkan hati hanya kepada-Nya.
Boleh jadi dahulu kita merasa mampu karena pekerjaan.
Karena usaha.
Karena tabungan.
Karena relasi.
Lalu Allah memperlihatkan bahwa semua itu hanyalah sebab.
Sedangkan Pemberi Rezeki tetap Allah.
Jangan Putus Asa
Empat tahun bukan waktu yang singkat.
Lima tahun juga bukan.
Namun jangan pernah mengira doa yang belum dikabulkan berarti Allah tidak mendengar.
Bisa jadi Allah sedang menyiapkan jawaban yang belum sanggup kita pahami hari ini.
Karena Allah tidak pernah terlambat.
Allah hanya memilih waktu terbaik.
Ruang Muhasabah
Sebelum tidur malam ini, tanyakan kepada diri sendiri.
Apakah aku lebih sibuk mencari penyebab musibah...
atau lebih sibuk memperbaiki hubunganku dengan Allah?
Apakah aku lebih sering mengingat orang yang mungkin menyakitiku...
atau lebih sering mengingat Allah yang selalu menjagaku?
Catatan Untuk Sebuah Hati
Boleh jadi dunia mengambil banyak hal darimu.
Namun jangan biarkan dunia mengambil keimananmu.
Boleh jadi rezekimu tertahan.
Namun jangan biarkan sujudmu ikut tertahan.
Boleh jadi jalanmu terasa panjang.
Namun percayalah...
Tidak ada satu langkah menuju Allah yang sia-sia.
Sebab ketika seorang hamba tetap memilih bertahan bersama Allah di tengah badai, sesungguhnya ia sedang berjalan menuju pertolongan yang mungkin belum terlihat, tetapi telah Allah siapkan.
"Karena tidak semua pertolongan datang dengan segera. Ada yang Allah hadiahkan setelah hati benar-benar belajar bersandar hanya kepada-Nya."
Untuk Sebuah Hati
Mariah Yufa
@mariahyufa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar