Jumat, 10 Agustus 2018

DAFTAR PUSTAKA

A. Penjelasan tentang daftar pustaka.

Daftar pustaka adalah daftar yang berisi sumber-sumber bacaan yang digunakan sebagai bahan untuk acuan dalam menulis karya ilmiah. Atau Daftar pustaka merupakan suatu daftar yang berisi judul buku, artikel atau bahan tulisan  yang mempunyai kaitannya dengan suatu karya ilmiah yang dibuat.

Pencantuman judul buku pada daftar pustakan pada akhir karya ilmiah sangat berkaitan erat dengan pengutipan tulisan pada buku. Jika kita mengutip informasi atau teori yang digunakan untuk membuat karya ilmiah maka kita harus mencantumkan judul buku tersebut pada daftar pustaka. Kutipan ini dapat merupakan pinjaman kalimat ataupun pendapat seseorang.

Kita dapat menemukan daftar pustaka pada laporan hasil penelitian, makalah, skripsi, tesis dan lain-lain. Daftar pustaka sangat penting peranannya bagi karya ilmiah, karena jika sebuah karya ilmiah tidak ada daftar pustakanya maka akan diragukan kebenarannya. Para pembaca yang tertarik dengan materi yang dibahas pada suatu karya ilmiah, tentunya dapat memudahkan untuk mengecek dan mempelajari materinya lebih dalam jika kita mencantumkan daftar pustaka.

Apa itu daftar pustaka & bagaimana cara penulisannya?


B. Beberapa fungsi daftar pustaka

Adapun beberapa fungsi dari daftar pustaka yang diantaranya sebagai berikut:

Untuk menunjukan bahwa tulisan atau informasi dalam karya ilmiah tersebut bukanlah hasil dari pemikiran penulis sendiri, tapi dari hasil pemikiran orang lain juga.


Untuk memberikan sumber informasi yang ditulis, supaya nantinya dapat ditelusuri oleh pembaca jika ingin mengetahui informasi atau teori tersebut secara lebih lengkap.


Untuk menghargai atau memberikan penghargaan kepada penulis sumber informasi, sehingga karya ilmiah tersebut dapat terselesaikan.


C. Unsur-unsur daftar pustaka.

Adapun unsur-unsur yang terdapat pada daftar pustaka, yang diantaranya seperti:

Nama penulis atau pengarang.


Judul buku atau judul artikelnya.


Dan data publikasi buku yang meliputi tahun terbit, penerbit, tempat diterbitkan dan edisinya jika ada.


B. Hal-hal yang perlu diperhatikan saat akan menulis daftar pustaka.

Beberapa ketentuan dan aturan dalam menulis daftar pustaka yang diantaranya sebagai berikut:

Jika penulis yang menggunakan nama keluarga atau marga, maka nama keluarga atau marganya harus ditulis terlebih dahulu. Sedangkan jika penulis tidak mengunakan nama keluarganya maka diawali dengan nama belakang.


Jika penulis memiliki gelar sarjana maka tidak perlu dicantumkan.


Judul buku harus dicetak miring atau diberikan garis bawah pada setiap katanya, jadi diberikan garis bawahnya perkata.


Baris pertama harus diketik dimulai dari ketukan pertama. Sedangkan baris kedua dan seterusnya diketik dimulai dari ketukan ke tujuh.


Jarak antara baris yang satu dengan baris berikutnya berjarak satu spasi dan jarak antara sumber yang satu dengan sumber lain berjarak dua spasi.


Baca juga: Pengertian catatan kaki dan contohnya serta cara penulisannya.

D. Cara menulis daftar pustaka.

Berikut dibawah ini cara atau langkah-langkah menulis daftar pustaka:

a. Harus disusun berdasakan alfabet secara berurutan.

Jadi menulis daftar pustaka, maka harus disusun secara berurutan sesuai dengan alfaber dari A – Z.

b. Cara penulisannya sebagai berikut ini:

Tulis nama penulis atau pengarangnya dengan cara dibalik (nama belakang terlebih dahulu).


Tulis tahun terbit bukunya (jika mengambil dari buku), lalu beri tanda titik (.).


Tulis judul bukunya lalu beri tanda titik (.).


Dan tulis kota dimana buku itu diterbitkan, selingi dengan tanda titik dua (:) lalu tulis nama penerbitnya, setelah itu berilah tanda titik (.).


c. Bagaimana jika menggunakan dua sumber atau lebih?

Jika menggunakan dua sumber atapun lebih dengan penulis atau pengarangnya sama, maka tulis saja sumber buku yang diterbitkan terlebih dahulu, setelah itu tulis buku yang terbit selanjutnya lalu diantara kedua sumber tersebut dibutuhkan garis panjang.  Sedangkan jika penulis atau pengarangnya banyak maka tulis saja nama penulis yang pertama lalu selingi dengan tanda koma (,) dan tulis dkk.

D. Beberapa contoh daftar pustaka.

Supaya lebih jelas perhatikan beberapa contohnya dibawah ini:

a. Jika satu penulis.

Saepul Deni. 2015. Panduan Menulis Karya Ilmiah Untuk Pemula. Jakarta: Pustaka Mentari Sore.

b. Jika dua sumber dan penulisnya sama

Nurohman Fajar. 2014. Pengantar Manajemen Rumah Sakit. Jakarta: Pustaka Petang.
___________. 2015. Belajar Manajemen Rumah Sakit. Jakarta: Pustaka Petang.

c. Jika dua penulis dengan judul buku yang sama

Septian Rizki dan Rizal Agus. 2015. Panduan Manajemen Bisnis. Bandung: Media Mentari Petang.

d. Jika penulisnya banyak.

Hadi Septian, dkk. 2014. Belajar Bisnis Online. Surabaya: Media Mentari Petang.

e. Jika bersumber dari internet.

Tulis nama penulis dengan cara dibalik.


Lalu tulis tahun kapan tulisan itu di terbitkan, lalu berikan tanda titik (.).


Tulis judulnya dan beritanda titil (.).


Tulis URL-nya lalu beri tanda koma (,).


Dan tulis tanggal kapan kamu mengakses tulisan tersebut.


Untuk lebih jelas, perhatikan contohnya berikut ini:

Rizal Fikri. 2016. Seputar Rekayasa Perangkat Lunak. Dari http://www.nama-situsnya. com/2014/09/ilmu-manajemen-bisnis.html, Diakses Pada 7 April 2016.

RESENSI

A. Penjelasan resensi.

Apakah itu resensi? Secara etimologi kata Resensi berasal dari bahasa Latin, yaitu dari kata Revidere atau kata Recensare yang artinya melihat kembali, menilai atau menimbang kembali. Jika dalam bahasa Belanda disebut dengan Recensie, dan dalam bahasa Inggris disebut dengan Review. Jadi dapat dikatakan Resensi adalah suatu penilaian terhadap suatu karya, baik itu karya tulisan ataupun film. Atau resensi dapat diartikan sebagai ulasan mengenai nilai suatu karya. Salah satu tujuannya yaitu untuk menyampaikan kepada orang lain atau kepada para pembaca (jika buku) apakah hasil karya tersebut pantas untuk mendapatkan sambutan baik atau kurang baik.

B. Beberapa tujuan resensi.

Berikut ini beberapa tujuan dari resensi, yang diantaranya:

Untuk membantu para pembaca mengetahui gambaran secara ringkas dan penilaian dari suatu karya misalnya pada sebuah buku.


Untuk mengetahui apa saja kelebihan dan kelemahan suatu karya.


Untuk mengetahui latar belakang maupun alasan karya tersebut diterbitkan.


Untuk menguji suatu karya, misalnya buku dengan menbandingkannya dengan buku lain.


Dan untuk memberikan masukan kepada pembuat karya, misalnya pada penulis buku tentang buku yang ditulisnya.


Apakah itu Resensi??


C. Jenis-jenis resensi.

Umumnya resensi dibagi menjadi 3 (tiga) macam, yang diantaranya sebagai berikut ini:

Resensi informatif, merupakan jenis resensi yang berisi ulasan singkat dan umum dari keseluruhan isi buku.


Resensi deskriptif, merupakan jenis resensi yang membahas secara lengkap dan detail pada setiap bagian dari buku.


Resensi kritis, merupakan jenis resensi yang bentuknya suatu ulasan secara detail dengan menggunakan metodologi ilmu pengetahuan tertentu. Biasanya isi dari resensi ini kritis dan juga objektif dalam melakukan penilaian dari isi buku atau suatu karya.


Akan tetapi dari ketiga jenis resensi di atas tadi, bisa saja digunakan semuanya secara bersama-sama dalam melakukan suatu resensi.

D. Syarat-syarat saat menyusun resensi.

Adapun beberapa syarat yang perlu dipenuhi saat menyusun resensi buku, yang diataranya:

Adanya data buku seperti nama penulis, nama penerbit, tahun terbit dan tebal dari buku tersebut.


Isi pendahuluannya yaitu perbandingan dengan karya yang sebelumnya, biografi penulis atau semua hal yang berkaitan dengan isi buku.


Adanya ulasan singkat pada buku tersebut.


Buku tersebut harus bermanfaat dan kepada siapa manfaat tersebut di tujukan.


E. Unsur-unsur resensi.

Saat membuat suatu resensi terdapat unsur-unsur yang harus dipenuhi, tujuannya supaya resensi yang nanti dibuat berkualias. Di bawah ini beberapa unsur yang harus di penuhi saat membuat suatu resensi:

a. Judul resensi.

Pada bagian judul resensi, harus memiliki kesamaan dengan isi resensi atau mencerminkan isi tulisan pada buku. Dengan judul yang menarik akan memberikan nilai yang lebih pada suatu resensi yang dibuat.

b. Menyusun data-data buku.

Umumnya dalam menyusun data buku dilakukan seperti berikut ini:

Judul buku.


Penulis.


Penerbit.


Tahun terbit dan cetakan atau edisinya.


Jumlah halaman.


Dimensi buku.


Harga buku.


c. Isi dari resensi buku.

Isi dari resensi buku harus memuat intisari atau ulasan singkat mengenai buku dengan kutipan secukupnya, kelebihan buku, kelemahan buku, rumusan kerangka buku dan penggunaan bahasa pada buku yang diresensi.

d. Penutup dari resensi buku.

Bagian penutup dari resensi buku umumnya berisi alasan-alasan kenapa buku tersebut ditulis dan kepada siapa ditujukannya.

F. Langkah-langkah meresensi buku.

a. Pengenalan terhadap buku yang diresensi, diantaranya meliputi:

Mulai dari tema buku yang akan diresensi beserta deskripsi dari buku tersebut.


Siapa yang menerbitkan buku tersebut, kapan dan dimana diterbitkannya, seberapa tebal dari buku tersebut (jumlah bab dan halaman buku), format dan harganya.


Siapa penulisnya, meliputi: nama penulis, latar belakang pendidikannya, reputasi, prestasi, buku apa saja yang ditulisnya dan kenapa dia menulis buku tersebut.


Golongan buku yang ditulis penulis, seperti: pendidikan, teknik, politik, sastra, psikologi, bahasa dan lain-lain.


b. Baca buku yang akan diresensi secara komperhensif, cermat dan teliti.

c. Tandai pada setiap bagian buku yang akan diperhatikan secara khusus dan kutipan-kutipan yang diperlukan yang nantinya akan dijadikan data untuk resensi.

d. Buatlah sinopsis atau ringkasan dari isi buku tersebut.

e. Menentukan sikap dan menilai hal-hal berikut ini:

Kerangka penulisan, maksudnya bagaimana hubungan antara bagian yang satu dengan bagian yang lainnya seperti hubungan bab yang satu dengan bab yang lainnya.


Isi dari pernyataan, maksudnya bagaimana ide dalam tulisan, analisis, penyajian data dan kreativitas pemikiran penulis buku.


Dari segi bahasa, bagaimana ejaan, kalimat dan penggunaan kata pada tulisannya, apakah mudah dimengerti atau tidak terutama untuk buku karya ilmiah.


Dari segi aspek teknis, maksudnya bagaimana tata letak, kerapian, kebersihan dan pencetakannya pada buku tersebut.


f. Seteleh membuat resensi, jangan lupa untuk menyuting dan membaca kembali hasil resensi yang sudah dilakukan.

Sebelum melakukan penilaian, sebaiknya terlebih dahulu membuat semacam outline atau garis besar pada resensi. Outline akan sangat berguna untuk membantu saat kita akan menulis resensi. Lalu koreksi dan revisi hasil dari resensi yang telah dilakukan dengan menggunakan dasar-dasar resensi yang telah ditentukan.

G. Beberapa keterampilan dasar bagi peresensi buku.

Adapun beberapa keterampilan dasar yang diperlukan untuk seseorang yang ingin menjadi peresensi suatu karya misalnya buku, yang diantaranya sebagai berikut ini:

Memahami tujuan dari penulis buku. Setidaknya tujuan penulis dapat diketahui dari kata pengantar atau pada bagian pendahuluan.


Memahami tujuan dari meresensi buku, karena akan menentukan corak resensi yang nantinya akan dibuat.


Memahami sepenuhnya latar belakang para pembaca yang menjadi sasaran buku, seperti memperhaikan slera, tingkat pendidikan dan status sosial para pembaca.


Dan jika akan mengirimkan hasil resensi ke media massa, maka peresensi harus memahami karakteristik media massa.


KATA BAKU DAN TIDAK BAKU

A. Penjelasan mengenai kata baku

Kata baku adalah kata yang digunakan sudah sesuai dengan pedoman atau kaidah bahasa yang telah di tentukan, Atau kata baku merupakan kata yang sudah benar dengan aturan maupun ejaan kaidah bahasa Indonesia dan sumber utama dari bahasa baku yaitu Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Kata baku umumnya sering digunakan pada kalimat yang resmi, baik itu dalam suatu tulisan maupun dalam pengungkapan kata-kata.

Kata-kata baku yaitu kata yang digunakan sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang sudah di tentukan sebelumnya dan suatu kata bisa disebut dengan kata tidak baku jika kata yang digunakan tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. ketidakbakuan suatu kata bukan hanya ditimbulkan oleh salah penulisan saja, akan tetapi bisa juga disebabkan oleh pengucapan yang salah dan penyusunan suatu kalimat yang tidak benar. Biasanya kata tidak baku selalu muncul dalam percakapan kita sehari-hari.

Penjelasan lengkap mengenai Kata Baku & Tidak Baku

Kata baku biasanya sering digunakan ketika:

Membuat karya ilmiah.


Membuat surat lamaran pekerjaan.


Membuat surat dinas, surat edaran dan surat resmi lainnya.


Membuat laporan.


Membuat nota dinas.


Saat berpidato dan rapat dinas.


Saat musyawarah atau diskusi.


Surat menyurat antara organisasi, instansi atau lembaga, dan lain-lain.




B. Penjelasan mengenai kata tidak baku

Kata tidak baku adalah kata yang digunakan tidak sesuai dengan pedoman atau kaidah bahasa sudah ditentukan. Biasanya kata tidak baku sering digunakan saat percakapan sehari-hari atau dalam bahasa tutur. Adapun faktor-faktor yang dapat menyebabkan munculnya kata tidak baku, yang diantaranya sebagai berikut ini:

Yang menggunakan bahasa tidak mengetahui bentuk penulisan dari kata yang dia maksud.


Yang menggunakan bahasa tidak memperbaiki kesalahan dari penggunaan suatu kata, itulah yang menyebabkan kata tidak baku selalu ada.


Yang menggunakan bahasa sudah terpengaruh oleh orang-orang yang terbiasa menggunakan kata yang tidak baku.


Dan yang terakhir, yang menggunakan bahasa sudah terbiasa memakai kata tidak baku.


C. Beberapa contoh kata baku dan tidak baku

1. Contoh kata baku

Misalnya seperti: aktif, pasif, apotek, efektif, karena, foto, biosfer, bus, objek, november, praktik, negeri, teknik, daftar, nasihat dan lain-lain. Kalimatnya: Pada hari ini saya akan keluar kota.

2. Contoh kata tidak baku

Misalnya seperti: aktip, pasip, apotik, efektip, karna, poto, biosfir, bis, obyek, nopember, praktek, negri, tekhnik, nasehat dan lain-lain. Kalimatnya: Saya akan keluar kota pada hari ini.

MAJAS

A. Penjelasan Gaya Bahasa

Gaya bahasa adalah cara bagaimana pengarang menguraikan cerita yang dibuatnya, atau definisi dari gaya bahasa yaitu cara bagaimana pengarang cerita mengungkapkan isi pemikirannya lewat bahasa-bahasa yang khas dalam uraian ceritanya sehingga dapat menimbulkan kesan tertentu.

B. Inilah jenis majas

Berikut di bawah ini jenis-jenis Majas dilengkapi dengan contohnya:

1. Gaya Bahasa Pertentangan

a. Hiperbola

Hiperbola yaitu gaya bahasa yang berupa suatu pernyataan yang terlalu berlebihan dari kenyataan yang ada dengan maksud untuk memberikan kesan yang mendalam atau meminta perhatian. Seperti contohnya: Dia berteriak sampai suaranya menembus langit ke-7.

b. Litotes

Litotes yaitu gaya bahasa yang menyatakan sesuatu dengan cara-cara yang berlawanan dengan kenyataan, dengan cara mengecilkan ataupun menguranginya. Seperti contohnya: Aku tidaklah Pintar itulah mengapa aku selalu bekerja keras.

c. Paradoks

Paradoks yaitu gaya bahasa yang bertentangan antara pernyataan dan fakta yang ada atau 2 (dua) pengertian yang bertentangan sehingga seperti tidak masuk akal. Contohnya: Aku merasa kesepian di kota yang ramai ini.

d. Antitesis

Antitesis yaitu gaya bahasa yang pengungkapannya berhubungan dengan situasi, benda ataupun sifat yang keadaannya saling bertentangan dan juga memakai kata-kata yang berlawanan arti. Seperti contohnya: Tua muda, laki-laki perempuan banyak yang menonton film tersebut.

Apakah itu gaya bahasa/majas?


2. Gaya Bahasa Sindiran

a. Ironi atau sindiran halus

Ironi yaitu gaya bahasa yang menyatakan hal yang bertentangan dengan maksud yang digunakan untuk menyindir seseorang tapi dengan cara yang halus. Seperti contohnya: Rajin sekali kau masuk sekolah, sampai keterangan tidak hadirmu banyak sekali di absensi.

b. Sinisme

Sinisme yaitu gaya bahasa sindiran lebih kasar dari Ironi, dengan cara menyindir secara langsung kepada orang lain. Seperti contohnya: Kelakuanmu tadi sangat tidak pantas dilakukan oleh seorang siswa / Badanmu sangat bau sekali pasti kamu belum mandi.

c. Sarkasme

Serkasme yaitu gaya bahasa sindiran yang sangat kasar, terkadang dapat menyakitkan hati. Seperti contohnya: Bisa kerja ga sih kamu? Yang begini juga tidak becus mengerjakan!

3. Gaya Bahasa Penegasan

a. Inversi

Inversi yaitu gaya bahasa yang kalimat predikatnya berada di depan subjek kalimat tersebut. Seperti contohnya: Besar sekali kolamnya.

b. Retoris

Retoris yaitu gaya bahasa yang kalimat tanya tidak bertanya, yang dimana menyatakan kesangsian ataupun bersifat mengejek. Seperti contohnya: Apa itu bukti dari janji yang kau ucapkan tadi?

c. Paralelisme

Paralelisme yaitu gaya bahasa yang pengulangan kata-katanya digunakan untuk penegasan didalam bahasa puisi.

d. Enumerasio

Enumerasio yaitu gaya bahasa yang digunakan untuk melukiskan suatu keadaan atau peristiwa dengan cara menguraikan satu demi satu keadaan tersebut, sehingga merupakan suatu keseluruhan.

e. Koreksio

Koreksio yaitu gara bahasa yang membetulkan kembali ucapan yang tidak benar atau salah, baik itu secara sengaja ataupun tidak disengaja. Seperti contohnya: Tadi dia baru saja pulang, oh… bukan di baru saja berangkat lagi.

f. Repertis

Repetisi yaitu gara bahasa yang pengulangan kata-katanya dalam bahasa prosa. Seperti contohnya: Kita sudah berusaha, kita sudah menang, kita sudah berhasil.

g. Klimaks

Klimaks yaitu gaya bahasa yang menguraikan suatu peristiwa secara berturut-turut dan semakin lama maka ceritanya akan semakin memuncak atau meningkat. Seperti contohnya: Semua kalangan dari anak-anak sampai orang dewasa beramai-ramai mengikuti kompotisi sepak bola.

h. Anti klimaks

Anti klimaks yaitu gaya bahasa yang dimana penguraian suatu peristiwa secara berturut-turut tapi makin lama maka ceritanya akan semakin menurun, ini adalah kebalikan dari Klimaks. Seperti contohnya: Di seluruh pelosok desa dan kota merayakan hari kemerdekaan Indonesia yang ke-70 / Guru-guru dan seluruh orang tua siswa menghadiri acara kelulusan.

i. Pleonasme

Pleonasme yaitu gaya bahasa yang menggunakan kata-kata atau sepatah kata secara berlebihan dengan maksud untuk menegaskan arti dari suatu kata. Seperti contohnya: Seluruh pelajar yang berada di bawah segera naik ke atas / Mereka menerobos ke dalam stadion untuk menyaksikan pertandingan tersebut.

j. Ekslamasio

Ekslamasio yaitu gaya bahasa yang didalam kalimatnya memakai kata seru. Seperti contohnya: Wah…, keren sekali orang itu!

k. Tautologi

Tautologi yaitu gaya bahasa yang mengulang beberapa kali sepatah kata didalam suatu kalimat. Seperti contohnya: Mungkin, mungkin dia bisa berhasil dalam melaksanakan tugasnya.

Baca juga: Pengertian novel dan unsur-unsurnya.

4. Gaya bahasa perbandingan

a. Asosiasi atau perumpamaan

Asosiasi yaitu gaya bahasa yang perbandingan terhadap 2 (dua) hal yang maksudnya berbeda, akan tetapi sengaja dianggap sama. Seperti contohnya: Wajahnya cantik bagaikan rembulan / Semangatnya seperti api yang berkobar.

b. Metafora

Metafora yaitu gaya bahasa yang cara dalam menungkapkan ungkapan kalimatnya dilakukan secara langsung berupa suatu perbandingan analogis. Pemakaian kata atau kelompok kata dalam kalimat bukanlah arti yang sesungguhnya, tapi sebagai lukisan yang berdasarkan perbandingan atau persamaan saja. Seperti contohnya: Bocah kutu buku itu telah menjadi juara pertama cerdas cermat / Si jago merah sudah menbumi hanguskan komplek perumahan itu hanya dalam 2 jam / Kembang desa yang sedang mencari pasangan.

c. Personifikasi

Personifikasi yaitu gaya bahasa yang memberikan karakteristik atau sifat-sifat manusia kepada benda yang tidak hidup. Jadi benda yang tidak hidup seolah-olah bernyawa dan mempunyai sifat seperti manusia. Seperti contohnya: Sore hari ini awan meneteskan air mata / Angin seperti berbisik kepadaku.

d. Alegori

Alegori yaitu gaya bahasa yang menyatakan dengan menggunakan cara lain lewat kiasan ataupun penggambaran. Alegori merupakan perbandingan yang berkaitan antara satu dan yang lainnya didalam kesatuan yang utuh. Alegori biasanya berbentuk suatu cerita yang penuh dengan simbol-simbol bermuatan bnayk moral.

e. Simile

Simile yaitu gaya bahasa yang membandingkan suatu hal dengan hal lainnya dengan memakai kata penghubung atau pembanding pada kalimatnya yang dimana 2 (dua) hal tersebut berbeda akan tetapi mempunyai karakteristik yang sama. Biasanya kata penghubungnya: seperti, bagaikan, semisal, seumpama, ibarat dan lain-lain. Seperti contohnya: Kau “bagaikan” cahaya dalam kegelapan / Mereka “seperti” sepasang kekasih.

f. Sinekdoke

Sinekdoke yaitu gaya bahasa yang memakai kata dengan arti yang menunjukan hal lain di luar kata yang diungkapkan. Sindekdoke terbagi menjadi 2 (dua) macam yang diantaranya:

Yang pertama Sinekdoke pars pro tato merupakan gaya bahasa yang menyebutkan sebagian kecil kata dari sesuatu untuk menyatakan secara keseluruhan. Contohnya: Mungkin dia sudah nyaman mempunyai pekerjaan sebagai salles-man dan menawarkan produk yang dijualnya dari “pintu” ke “pintu” / Hari ini akau tidak melihat Muka si Toni (kata “pintu” ke “pintu” mewakili banyak rumah para konsumen dan kata “muka” mewakili sosok Toni).


Lalu yang kedua Sinekdoke totem pro partemenyebutkan keeluruhan untuk menyatakan sebagian kecil, ini adalah kebalikan dari sinekdoke pars pro tato. Contohnya: Penyanyi perempuan itu sangat terkenal maka tidak heran jika banyak di idolakan oleh para “pemuda” yang ada di penjuru dunia. (kata “pemuda” merupakan semua orang yang masih berusia muda, meskipun pada kenyataanya penyanyi itu tidak di idolakan oleh semua pemuda).


g. Simbolik

Simbolik yaitu merupakan gaya bahasa yang menggambarkan sesuatu dengan memakai benda, binatang dan juga tumbuh-tumbuhan sebagai simbol.

h. Metonimia

Metonimia yaitu gaya bahasa yang memakai ciri, atribut ataupun merk untuk menggambarkan suatu benda. Seperti contohnya: Dia sedang membuat secangkir kopi kapal api (merk) untuk ayahnya.

DIKSI

A. Penjelasan Tentang Diksi?

Yang dimaksud diksi adalah suatu pilihan kata pembicara ataupun penulis dalam menggambarkan cerita yang dibuatnya. Akan tetapi yang dimaksud dengan Diksi bukan hanya Pilihan Kata saja, tapi bisa juga diartikan sebagai pernyataan untuk mengungkapkan sebuah gagasan maupun mengungkapkan suatu cerita yang meliputi persoalan seperti pada gaya bahasa, ungkapan gagasan, dan lain-lain. Dengan diksi maka setiap kata-kata dapat di baca  maupun di pahami oleh pembaca atau pendengar.

B. Fungsi Diksi

Dengan diksi maka suatu kata akan menjadi lebih jelas, kata tersebut akan terasa tepat dan sesuai dengan penggunaannya. Ketepatan dalam pemilihan kata bertujuan untuk tidak menimbulkan interpretasi yang berlainan antara penulis dengan para pembaca. Diksi juga berguna untuk memperindah kalimat. Selain itu pengarang atau penulis dapat membuat sebuah cerita menjadi lebih runtut, terutama dalam mendeskripsikan tokoh-tokoh cerita, lebih jelas mendeskripsikan latar, waktu, dll. Selain itu beberapa fungsi diksi yang lainnya seperti:

Membuat pembaca memahami mengenai apa yang di sampaikan penulis.


Membuat komunikasi menjadi lebih efektif dan juga efesien.


Melambangkan ekspresi yang terdapat pada gagasan.


Membentuk gagasan yang tepat.


Apa itu Diksi?


C. Manfaat Diksi


Manfaat dari diksi yaitu supaya pembaca/pendengar dapat membedakan secara baik terhadap kata-kata denotatif, konotatif, sinonim, antonim, dan juga kata yang hampir memiliki ejaan yang mirip. Bagi penulis sendiri diksi bermanfaat supaya dapat membedakan kata-kata yang di tulisnya sendiri, dan kata-kata yang dikutipnya dari orang terkenal.

a. Jenis-Jenis Diksi

1. Jenis Diksi Berdasarkan Maknanya

1.1 Makna Denotatif

Denotatif, yaitu menyetakan makna yang sebenarnya dari suatu kalimat atau kata. Atau disebut juga dengan makna yang apa adanya.

Contoh:

Rendi “kerja keras”, bekerja pagi sampai sore untuk menghidupi keluarganya.


Lutfi seorang yang “gemar membaca”, maka tidak heran jika dia pintar dan berpengetahuan luas.


Rizal terlihat senang, mungkin dia sedang mendapat “keuntungan yang melimpah”.


1.2 Makna Konotatif


Konotatif, yaitu menyatakan makna yang mempunyai arti bukan yang sebenarnya dari suatu kalimat atau kata.

Contoh:

Rendi “banting tulang”, bekerja pagi sampai sore untuk menghidupi keluarganya. (kata “banting tulang” diartikan sebagai kerja keras).


Lutfi seorang “kutu buku”, maka tidak heran jika dia pintar dan berpengetahuan luas. (kata “kutu buku” diartikan sebagai gemar membaca buku).


Rizal terlihat senang, mungkin dia sedang mendapat “durian runtuh”. (kata “durian runtuh” diartikan sebagai mendapat keuntungan melimpah).


2. Jenis Diksi Berdasarkan Leksikal


2.1 Sinonim, yaitu kata yang mempunyai makna sama.


Contoh:

Bahagia – Senang, Matahari – Mentari, Cantik – Elok, Lezat – Enak, Sedih – Murung, Pintar – Pandai, dan lain-lain.

2.2 Antonim, yaitu kata yang memiliki makna yang berlawanan.

Contoh:

Naik – Turun, Besar – Kecil, Banyak – Sedikit, Tinggi – Pendek, Gelap – Terang, Cepat – Lambat, Ganteng – Cantik, Mahal – Murah, dan lain-lain.

2.3 Homonim, yaitu kata yang maknanya berbeda, tapi lafal atau ejaannya sama.

Contoh:

Pada awal Bulan, ayah selalu menerima upah kerja.


Bulan purnama saat ini terlihat sangat jelas karena langit tidak berawan.


Dapat di lihat pada kata “Bulan”, pada kalimat pertama dan kedua kata tersebut memiliki lafal dan ejaan yang sama tapi memiliki makna yang berbeda. Jika pada kalimat pertama menunjukan tanggal, sedangkan pada kalimat kedua menunjukan bulan di langit.

2.4 Homofon, yaitu kata yang makna dan ejaan berbeda, tapi dengan lafal yang sama.

Contoh:

Agus rajin menabung di Bank.


Bang Andi, merupakan saudara Agus.


Dapat di lihat dari kedua kalimat tersebut bahwa kata “Bank” dan “Bang”, memiliki lafal yang sama tapi ejaan dan maknanya berbeda. Pada kalimat pertama menunjukan tempat, sedangkan pada kalimat kedua menunjukan arti saudara.

2.5 Homograf, yaitu Kata yang makna dan lafalnya berbeda, tapi ejaannya sama.

Contoh:

Rizki sedang makan Tahu goreng di warung.


Rizki tidak Tahu bahwa hari ini hari sabtu.


Dapat di lihat dari kedua kalimat tersebut terdapat kata “Tahu” yang memiliki ejaannya sama. Kalimat yang pertama merupakan makanan, dan kalimat kedua menunjukan lupa akan hari.

Rizki memiliki mental yang kuat saat menghadapi permasalahan hidup.


Handphone rizki terjatuh dan langsung mental ke lantai.


Dapat di lihat dari kedua kalimat tersebut terdapat kata “mental”, kalimat yang pertama merupakan watak, dan kalimat kedua menunjukan memantul ke lantai.


2.6 Polisemi, yaitu kata yang mempunyai banyak pengertian.


Contoh:

Jika menabung di bank, maka akan mendapatkan Bunga.


Dia adalah bunga desa tercantik.


Bunga sakura merupakan bunga yang indah.


Dapat di lihat pada kalimat pertama kata “bunga” merupakan keuntungan jika menabung di bank, lalu pada kalimat ke dua merupakan perempuan paling cantik, dan pada kalimat ketiga merupakan bunga pada tanaman. Jadi kata Bunga di sini memiliki banyak sekali pengertian.

2.7 Hipernim dan Hiponim.

Hipernim, yaitu kata yang mewakili banyak kata lain. Jadi suatu kata hipernim dapat menjadi kata umum dari penyebutan kata-kata lainnya. Sedangkan Hiponim, yaitu kata yang terwakili artinya oleh suatu kata hipernim.

Contoh kalimat yang mengandug kata hipernim dan hiponim:

Di hutan banyak hidup berbagai macam binatang liar, misalnya seperti harimau, srigala, macan tutul, rusa, kera, dll.


Kata hipernim: Binatang liar. Sedangkan kata hiponim: harimau, srigala, macan tutul, rusa, kera, dll.


Jika mengunjungi akuarium raksasa, maka banyak sekali Jenis Ikan yang dapat kamu lihat seperti ikan pari, hiu, lumba-lumba, dll.


Kata hipernim: Jenis Ikan. Sedangkan kata hiponim: ikan pari, hiu, lumba-lumba, dll.


Tadi ibu ke supermarket membeli buah-buahan, diantaranya apel, jeruk, semangka dan anggur.


Kata hipernim: buah-buahan. Sedangkan kata hiponim: apel, jeruk, semangka dan anggur.


PROSA

A. Apakah Yang Dimkasud Prosa?

Yang dimaksud dengan prosa adalah suatu karangan bebas yang tidak terikat oleh banyaknya bait, dan banyaknya suku kata pada setiap baitnya serta tidak terikat oleh rima dan irama seperti puisi. Atau pengertian prosa yaitu suatu karya sastra berbentuk cerita bebas yang tidak terikat oleh rima, irama dan kemerduan seperti puisi.

Istilah prosa sendiri asalnya dari bahasa latin yaitu kata “Prosa” yang memiliki arti “Terus Terang”. Tulisan pada prosa umumnya selalu digunakan untuk mendeskripsikan suatu ide atau suatu fakta. Prosa bisa juga digunakan untuk surat kabar, novel, majalah, surat dsb.

B. Mengenal Ciri-Ciri Prosa

Secara umum prosa memiliki ciri-ciri sebagi berikut ini:

1. Bentuknya Bebas

Maksudnya Prosa tidak terikat oleh bait, baris, suku kata, dan irama. Karena prosa umumnya berbentuk rangkaian kalimat yang membentuk paragraf misalnya sepeti dongeng, hikayat dsb.

2. Bahasanya Bisa Terpengaruh dan Tidak Oleh Bahasa Asing

Bahasa yang digunakan dalam prosa bisa terpengaruh oleh bahasa lain misalnya oleh bahasa orang asing ataupun bisa juga tidak terpengaruh.

Apa itu Prosa?


3. Memiliki Tema

Maksudnya prosa memiliki tema sebagai dasar masalah dalam ceritanya, yang nanti akan menjadi pembahasan.

4. Selalu Berkembangan

Maksudnya prosa selalu di pengaruhi oleh perkembangan masyarakat yang cepat atau lamban.

5. Pengarang

Maksudnya prosa memiliki nama pengarang siapa yang membuatnya, tapi ada juga yang tidak memiliki pengarang (nama pengarang tidak dipublikasikan).

6. Cara Penyajiannya Lisan Dan Tulisan

Maksudnya prosa bisa disajikan secara lisan maupun secara tertulis.

7. Memiliki Urutan Peristiwa

Setiap prosa umumnya memiliki jalan cerita sehingga dapat menggambarkan suatu urutan peristiwa, urutan peristiwa sering di sebut juga dengan alur. Alur yang digunakan diantaranya ada alur maju, alur mundur, dan alur campuran. (Baca selengkapnya: Pengertian Alur Dan Macamnya Serta Unsurnya).

8. Memiliki Tokoh Cerita

Pada prosa tentunya terdapat tokoh cerita, baik itu bisa tokoh manusia, hewan atau tumbuhan yang diceritakan.

9. Memiliki Latar

Pada prosa terdapat latar pada setiap kejadian baik itu latar tempat, waktu atau suasana. (Baca selangkapnya: Pengertian latar dan macamnya lengkap).

10. Memiliki Amanat

Prosa didalamnya memiliki amanat yang disampaikan kepada para pembaca atau pendengarnya.

C. Mengenal Jenis-Jenis Prosa

Prosa dibagi menjadi 2 (dua) jenis diantaranya:

a. Prosa lama

Yaitu prosa yang tidak terpengaruh oleh sastra atau kebudayaan luar. Biasanya prosa lama disampaikan secara lisan, karena dulu belum dikenalnya prosa dalam bentuk tertulis. Berikut ini beberapa cirinya:

1. Bersifat statis

Yaitu memiliki bentuk yang sama, pola kalimatnya yang sama, banyaknya kalimat sama, tema cerita yang sama sesuai dengan perkembangan masyarakat. Dapat di katakan lamban perubahannya.

2. Sedikit Diferensiasi

Dalam prosa lama memiliki ikatan antara unsur-unsur yang sama, karena kuatnya hubungan antara bebeberapa unsur.

3. Bersifat Tradisional

Prosa lama tentunya memiliki sifat tradisional karena belum terbengeruh oleh budaya asing, kalimat dan ungkapan yang sama umunya terdapat juga dalam cerita yang berlainan, bahkan dalam suatu cerita juga sering sekali diualng-ulang.

4. Terbentuk Oleh Masyarakat

Prosa lama dapat menggambarkan tradisi masyarakat yang lebih menunjukan kebersamaan. Sehingga prosa lama dianggap milik bersama.

5. Tidak Terlalu Mengindahkan Perhitungan Tahun

Maksudnya tidak terlalu memperhatikan perurutan waktu dan peristiwa, sehingga alur ceritanya sulit untuk dipahami, dan nama-nama tempat saat terjadinya peristiwa kurang begitu jelas.

6. Bahasanya Yang Digunakan Dalam Bentuk Tradisional

Bahasa yang digunakan dipengaruhi oleh hal-hal yang bersifat tradisional shingga sulit di pahami, biasanya dipengaruhi juga oleh bahasa melayu. Biasanya selalu menggunakan kata penghubung yang menyatakan urutan-urutan peristiwa, seperti: maka, bermula, lalu. Dan menggunakan bentuk partikel “pun” dan “lah”.

7. Bersifat Istana Sentris

Prosa lama biasanya bercerita mengenai istana dan rajanya, pemerintahannya, bawahannya, dsb. Tapi ada juga yang menceritakan orang yang luar biasa, misalnya orang yang pintar, cerdik, atau kisah hidup orang yang sesalu mengalami kemalangan.

8. Bersifat Lisan Dan Tulisan

Prosa lama disampaikan dari generasi ke generasi lainnya secara lisan yaitu dengan cara mulut ke mulut, tapi terkadang ada juga disampaikan lewat tulisan.

9. Bersifat Fantasi

Hampir setiap bentuk hikayat, dongeng ataucerita pada prosa lama pembacanya akan dibawa ke dalam dunia fantasi atau khayalan.

10. Tokohnya Berbagai Macam

Tokoh yang digunakan pada ceritanya umunya berupa manusia, hewan, dan tumbuhan.

11. Terdapat Amanat

Terdapat amanat dari cerita yang disampaikan amanat tersebut bisa berupa pendidikan, pelipur lara, kepahlawanan, dsb.

b. Prosa Baru

Yaitu prosa yang karangannya bebas tanpa terikat oleh aturan-aturan dan sudah terpengaruh oleh sastra barat atau asing. Berikut ini beberapa cirinya:

1. Bersifat Dinamis

Sifatnya dinamis sehingga selalu berubah sesai dengan perkembangan di masyarakat. Unsur-unsurnya yang menyusun prosa lama selalu mengalami perkembangan.

2. Masyarakatnya Sentris

Maksudnya inti cerita umumnya selalu mengambil dari kejadian kehidupan masyarakat sehari-hari, seperti peristiwa apa saja yang bisa terjadi pada kehidupan masyarakat sehari hari.

3. Disajikan Tertulis

Umumnya selalu disampaikan dalam bentuk tertulis kepada para pembacanya.

4. Bersifat Rasional

Prosa baru biasanya berbentuk roman, novel, cerpen, drama, atau kisah yang dapat terjadi pada kehidupan nyata sesuai dengan kenyataan.

5. Bersifat Modern

Umumnya unsur-unsur yang didalamnya bersifat moderen, seperti menceritakan perstiwa yang terjadi dimasa sekarang atau yang akan datang.

6. Bahasa Tidak Bersifat Klise

Bahasanya tidak bersifat klise dan sudah terpengaruh oleh sastra barat atau asing.

7. Diketahui Nama Penulisnya

Prosabaru dapat dikatakan sebagi milik perorangan, karen nama penulis atau pembuat prosa selalu di nyatakan secara jelas.

8. Memperhatikan Urutan Peristiwa

Alaur ceritanya dapat dipahami dengan mudah, karena saat menggambarkan suatu keadaan disesuaikan dengan urutan kejadian.

9. Tokoh Manusia

Biasanya selalu menggunakan tokoh manusia pada setiap ceritanya.

10. Terdapat Amanat

Terdapat amanat dari cerita yang disampaikan amanat tersebut bisa berupa nasihat, kepahlawanan, pendidikan, dsb.

D. Kesimpulan

Dari penjelasan di atas maka dapat diambil suatu kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan prosa yaitu suatu karya sastra berbentuk cerita bebas yang tidak terikat oleh rima, irama dan kemerduan seperti puisi. Jenis-jenis prosa diantaranya:

Prosa lama yaitu prosa yang belum terpengaruh oleh sastra atau kebudayaan luar.


Prosa baru yaitu prosa yang karangannya bebas tanpa terikat aturan-aturan dan terpengaruhi oleh sastra barat atau asing.


Berikut ini perbedaan prosa lama dan prosa baru, diantaranya:

a. Prosa lama

Bersifat statis, lamban mengalami perubahan.


Bersifat Istana Sentris, menceritakan mengenai kerajaan dan rajanya.


Bersifat fantasi atau khayalan.


Dipengaruhi sastra tradisional.


Biasanya nama pengarang tidak diketahui.


b. Prosa baru

Bersifat dinamis, cepat mengalami perubahan.


Mengambil kisah atau bahan dari peristiwa di masyarakat sekitar.


Bersifat Realistis, biasanya disajikan dalam bentuk novel, cerpen, drama, dsb.


Sudah terpengaruhi sastra barat atau asing.


Nama penulis atau pengarang diketahui.


SUDUT PANDANG

A. Penjelasan sudut pandang

Sudut pandang adalah cara bagaimana penulis cerita menempatkan dirinya pada cerita, atau dari sudut mana penulis cerita memandang cerita yang dibuatnya. Sudut pandang dapat dikatakan juga sebagai suatu teknik ataupun siasat yang disengaja dilakukan oleh penulis untuk menyampaikan ceritanya. Oleh karena itu sudut pandang dapat mempengaruhi penyajian suatu cerita dan alurnya. 

B. Jenis-jenis sudut pandang yang terdapat dalam cerita

Sudut pandang umumnya dibagi kedalam 4  jenis, diantaranya sebagai berikut ini:

1. Sudut pandang orang pertama sebagai pelaku utama

Yang pertama yaitu sudut pandang orang pertama sebagai pelaku utama, sudut pandang ini umumnya menggunakan kata ganti seperti Aku ataupun Saya pada tokoh utama cerita. Dalam sudut pandang ini penulis atau pembuat cerita seolah-olah terlibat dalam ceritanya dan dia sendiri sebagai tokoh utama dalam cerita.

Apakah itu sudut pandang dalam cerita?

Contohnya: Pagi hari aku bangun dari tidur panjang yang telah melelapakanku, aku bergegas pergi ke kamar mandi untuk mandi sebelum berangkat ke sekolah. Setelah itu aku membereskan tempat tidur dan sarapan pagi terlebih dahulu, lalu setelah selesai sarapan barulah aku berangkat ke sekolah dan berpamaitan kepada orang tua…

2. Sudut pandang orang pertama sebagai pelaku sampingan

Yang kedua yaitu orang pertama sebagai pelaku sampingan, maksudnya dalam sudut pandang ini seolah-olah si tokoh utama yang bercerita, akan tetapi posisinya dalam cerita bukanlah sebagai tokoh utama.

Contohnya: Aku bangga melihat Agus teman baik ku, dia sangat cerdas dalam berbagai mata pelajaran di sekolah. Terkadang aku merasa iri padanya, karena dia lebih pintar dari pada aku, akan tetapi dia selalu membantuku jika aku dalam kesulitan dan dia selalu menemaniku saat bermain…

3. Sudut pandang orang ketiga serba tahu

Yang ketiga yaitu sudut pandang orang ketiga serba tahu, pada sudut pandang ini umumnya menggunakan kata ganti seperti ia, dia atau nama dari pelaku yang ada dalam cerita yang dibuat oleh penulis.

Contohnya: sudah satu bulan ini aku sering melihat dia menunggu bus di bangku pinggir jalan itu, tapi belum satu kalipun dia terlihat menunggu bus bersama temannya. Apa mungkin dia tidak memiliki teman baik? Ataukah dia seorang penyendiri?…

4. Sudut pandang orang ketiga pengamat

Dalam sudut pandang ini maksudnya kata “dia” sangat terbatas. Penulis cerita menggambarkan apa yang dilihat, didengar, yang dialami dan yang dirasakan oleh tokoh utama dalam cerita, akan tetapi hal tersebut sangat terbatas hanya pada seorang tokoh saja. Tokoh yang ada dalam cerita mungkin cukup banyak tetapi mereka tidak diberikan kesempatan yang lebih untuk menunjukan sosok yang sebenarnya, jadi hanya tokoh utama saja yang menunjukan sosok yang sebenarnya.

Contohnya: Datang seorang siswa baru berpakaian keren kedalam kelas. Wajahnya yang tampan membuat semua siswi di kelas tersebut terdiam. Tiba-tiba siswa baru tersebut tersenyum dan membuat semua siswi di kelas menjerit histeris, karena tidak menyangka senyum siswa baru itu sangat mempesona…