Minggu, 07 September 2025

Kisah Umar Bin Khaththab R.A. Yang Takut Putranya Menjadi Pemimpin

Hikayat Umar dan Putranya

Alkisah, pada masa khalifah kedua kaum muslimin, Umar bin Khaththab r.a., tibalah suatu hari ketika beliau ditusuk oleh seorang majusi. Luka itu membuat jasadnya lemah, sementara umat Islam kebingungan: siapa yang kelak akan menggantikan kepemimpinan sepeninggal beliau?

Maka berkumpullah para sahabat, mengusulkan nama-nama yang mulia. Ada yang berkata, “Wahai Amirul Mukminin, mengapa tidak Abdullah, putramu sendiri? Ia seorang yang faqih, zuhud, dan penuh amanah.”

Namun Umar menatap mereka dengan mata yang berat, lalu berkata,
“Cukuplah satu rumah dari Umar yang kelak akan ditanya di hadapan Allah. Jangan kalian bebankan lagi kepemimpinan kepada putraku. Jika aku memikul amanah ini dan aku ditanya, semoga Allah mengampuniku. Tapi aku tidak ingin menyeret anakku ke hisab yang panjang.”

Maka bergemalah di hati para sahabat, bahwa kepemimpinan bukanlah warisan darah, melainkan amanah yang hanya layak bagi siapa yang dipilih Allah melalui musyawarah kaum muslimin.

Demikianlah Umar menjaga umat dari fitnah kekuasaan, menolak mewariskan tahta kepada putra, meski Abdullah bin Umar adalah seorang yang mulia.

Hikayat ini turun-temurun dikenang, menjadi pelajaran sepanjang masa:
Bahwa pemimpin sejati adalah yang takut kepada Allah,
bukan yang mengejar kuasa.


---

Doa Penutup

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الأَمَنَاءِ، وَوَفِّقْنَا لِحَمْلِ الأَمَانَةِ بِالصِّدْقِ وَالإِخْلاَصِ، وَأَبْعِدْنَا عَنْ طَلَبِ الرِّيَاسَةِ وَالْفِتْنَةِ، وَاخْتِرْ لَنَا قَادَةً يَخَافُونَكَ وَيَرْعَوْنَ حُقُوْقَ عِبَادِكَ.

Allahumma aj‘alnā min ‘ibādikal-umanā’, wa waffiqnā liḥamli al-amānah biṣ-ṣidqi wal-ikhlāṣ, wa ab‘idnā ‘an ṭalabi ar-riyāsah wal-fitnah, wakhtar lanā qādatan yakhāfūnaka wa yar‘awn ḥuqūqa ‘ibādika.

Artinya:
“Ya Allah, jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang amanah. Berilah kami taufik untuk memikul tanggung jawab dengan jujur dan ikhlas. Jauhkan kami dari ambisi kekuasaan dan fitnahnya. Dan pilihkan bagi kami para pemimpin yang takut kepada-Mu serta menjaga hak-hak hamba-Mu.”

........

ANALISIS HiKAYAT

Kisah Umar bin Khaththab r.a. yang takut jika putranya menjadi pemimpin cukup masyhur, dan sarat hikmah tentang amanah kepemimpinan.

🔹 Riwayat Singkat
Setelah Umar bin Khaththab r.a. ditusuk oleh Abu Lu’lu’ah al-Majusi, kaum muslimin mendesaknya untuk menunjuk seorang khalifah pengganti. Umar kemudian membentuk tim syura (enam sahabat) untuk memilih khalifah setelahnya.

Beberapa orang ada yang mengusulkan agar putra beliau, Abdullah bin Umar r.a., masuk dalam daftar calon khalifah. Namun Umar menolak dengan tegas:

> “Cukuplah satu keluarga (satu rumah) dari Umar yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Jangan bebani keluarga Umar dengan kepemimpinan lagi.”

Dalam riwayat lain, Umar r.a. berkata kepada Abdullah putranya:

> “Engkau tidak akan aku serahi urusan ini. Cukuplah sudah ayahmu yang memikul amanah besar ini.”

🔹 Hikmah dari Kisah Ini

1. Kepemimpinan adalah amanah berat, bukan kedudukan untuk dibanggakan. Umar r.a. memahami betul beratnya hisab seorang pemimpin di hadapan Allah.

2. Menghindari dinasti kekuasaan. Umar r.a. tidak ingin umat mengira kepemimpinan diwariskan seperti kerajaan.

3. Menjaga keikhlasan dan keadilan. Abdullah bin Umar sendiri adalah sahabat mulia, faqih, zuhud, dan adil. Namun, ayahnya lebih memilih menjaga umat dari fitnah kekuasaan yang berbau nepotisme.

4. Teladan bagi pemimpin setelahnya. Umar mengajarkan bahwa memegang jabatan bukan sekadar soal kemampuan, tapi juga soal menjaga umat dari perpecahan dan fitnah.

🔹 Pelajaran untuk Kita
Kisah ini menunjukkan bahwa seorang pemimpin sejati bukanlah yang mengejar jabatan, tetapi justru takut dan berhati-hati dari tanggung jawab besar itu. Bahkan Umar r.a., yang dijamin surga, merasa cukup keluarganya memikul satu amanah kepemimpinan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar