Tafsir ringkas dari ulama besar mengenai QS. At-Taubah ayat 128 🌿, sebagai berikut :
📚 Tafsir Ibnu Katsir
“Laqad jaa’akum rasuulum min anfusikum”
Maksudnya: Rasulullah ﷺ berasal dari kaum Quraisy, bangsa Arab. Beliau adalah manusia yang paling mulia nasabnya, paling baik akhlaknya, dan paling lembut hatinya terhadap umatnya.
“Azîzun ‘alaihi maa ‘anittum”
Beliau sangat merasa berat bila umatnya mendapat kesulitan, baik dalam agama maupun dunia. Beliau tidak senang bila umatnya jatuh ke dalam kebinasaan.
“Harîshun ‘alaikum”
Rasulullah ﷺ sangat ingin umatnya mendapat hidayah dan keselamatan, sampai-sampai beliau rela berkorban nyawa. Ibnu Katsir menegaskan: beliau lebih mengutamakan umat daripada dirinya sendiri.
“Bil-mu’minîna ra’ûfur rahîm”
Allah menyifati Nabi ﷺ dengan dua sifat-Nya sendiri: ra’ûf (sangat pengasih) dan rahîm (penyayang). Ini menunjukkan betapa besarnya cinta Nabi kepada orang-orang beriman.
---
📚 Tafsir Jalalain
“Min anfusikum”: Dari golongan kalian sendiri, supaya lebih kalian kenal, tidak asing.
“Azîzun ‘alaihi maa ‘anittum”: Sangat berat baginya bila kalian susah, menderita, atau binasa.
“Harîshun ‘alaikum”: Ia sangat menginginkan keimanan, kebaikan, dan keselamatan bagi kalian.
“Bil-mu’minîna ra’ûfur rahîm”: Terhadap orang-orang beriman Nabi sangat pengasih dan penyayang, penuh kelembutan dan cinta.
---
🌸 Kesimpulan tafsir para ulama
Ayat ini adalah pujian Allah langsung kepada Nabi Muhammad ﷺ:
Beliau berasal dari kalangan manusia sendiri (bukan malaikat, bukan asing).
Beliau menanggung beban derita umatnya.
Beliau sangat menginginkan keselamatan bagi umat.
Beliau penuh kasih sayang, khususnya kepada orang beriman.
💡 Karena itu, ayat ini sering dibacakan untuk menumbuhkan mahabbah (cinta) kepada Rasulullah ﷺ dan rasa syukur atas kasih sayang beliau.
🌿 Berikut beberapa kisah nyata dari sirah Nabi ﷺ yang menunjukkan kasih sayang beliau, sesuai dengan makna QS. At-Taubah ayat 128.
---
🌸 1. Rasulullah ﷺ menahan azab untuk umatnya
Ketika malaikat Jibril menawarkan untuk menghancurkan penduduk Thaif yang menyakiti Nabi dengan batu, Rasulullah ﷺ menjawab:
> “Jangan. Aku berharap dari keturunan mereka akan lahir orang-orang yang beribadah hanya kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
👉 Ini menunjukkan betapa beliau tidak ingin umat binasa, meski beliau disakiti.
---
🌸 2. Rasulullah ﷺ menangis karena umatnya
Dalam sebuah riwayat, Rasulullah ﷺ membaca doa:
> “Ya Allah, umatku, umatku!”
Maka Allah menenangkan beliau melalui malaikat Jibril:
> “Sesungguhnya Kami akan membuatmu ridha terhadap umatmu, dan Kami tidak akan menyusahkanmu.”
(HR. Muslim)
👉 Nabi ﷺ tidak hanya memikirkan dirinya, tetapi menangis memikirkan nasib kita semua.
---
🌸 3. Kasih sayang terhadap anak kecil
Rasulullah ﷺ sering mencium cucunya, Hasan dan Husain. Seorang sahabat berkata:
> “Aku punya sepuluh anak, tapi tak pernah kucium satupun.”
Rasulullah ﷺ menjawab:
> “Barangsiapa tidak menyayangi, maka dia tidak akan disayangi.”
(HR. Bukhari & Muslim)
👉 Ini cerminan sifat ra’ûf (pengasih) dan rahîm (penyayang).
---
🌸 4. Doa untuk umat pada hari kiamat
Dalam hadits panjang tentang syafa’at, Nabi ﷺ bersujud di hadapan Allah dan berdoa untuk umatnya, hingga Allah berfirman:
> “Angkatlah kepalamu wahai Muhammad. Ucapkanlah, niscaya akan didengar. Mohonlah, niscaya akan diberikan. Mintalah syafa’at, niscaya syafa’atmu diterima.”
(HR. Bukhari & Muslim)
👉 Ini bukti bahwa Nabi ﷺ tetap memperjuangkan keselamatan umat hingga di akhirat.
---
✨ Inti Hikmah
Ayat “laqad jaa’akum rasuulun min anfusikum...” benar-benar hidup dalam perjalanan Nabi ﷺ:
Beliau berat melihat umat menderita.
Beliau mengharapkan keselamatan umat lebih dari apapun.
Beliau penuh kasih sayang bahkan kepada yang menyakitinya.
----
Berikut renungan hati, berdasarkan makna QS. At-Taubah ayat 128 dan kisah-kisah kasih sayang Rasulullah ﷺ.
---
🌸 Narasi Puitis: “Kasih Sayang Rasulullah untuk Umat”
Sungguh, telah datang kepada kita seorang Rasul…
dari golongan kita sendiri,
yang kita kenal nasabnya,
kita saksikan akhlaknya,
dan kita rasakan cintanya.
Dialah Muhammad ﷺ…
yang hatinya perih bila kita terluka,
yang matanya basah memikirkan umatnya,
yang doanya tak pernah putus demi keselamatan kita.
Di Thaif, beliau dihina, dilempari, dilukai…
tapi lisannya tak melaknat,
justru berdoa,
“Ya Allah, beri mereka keturunan yang beribadah kepada-Mu.”
Di malam tahajudnya, beliau menangis,
“Umatku… umatku…”
hingga Allah berfirman menenangkan hatinya,
“Aku akan membuatmu ridha terhadap umatmu.”
Di pangkuannya, cucu-cucunya dicium dengan penuh cinta,
beliau mengajarkan,
“Siapa yang tak menyayangi,
tak akan disayangi.”
Dan kelak, di hari penuh guncangan,
di saat para nabi berkata,
“Diriku, diriku…”
hanya Muhammad ﷺ yang berkata,
“Umatku… umatku…”
beliau bersujud, memohonkan syafa’at,
hingga umatnya diselamatkan.
Wahai hati, tidakkah engkau tergetar?
Dialah yang lebih menginginkan keselamatan kita
daripada dirinya sendiri.
Dialah yang Allah sebut ra’ûf dan rahîm,
pengasih lagi penyayang.
Maka, bagaimana cinta kita padanya?
Sudahkah kita menjawab kasihnya
dengan shalawat dan ittiba’ (mengikuti sunnah)?
---
Maka bershalawatlah kita…
Dengan cinta yang tulus untuknya…
Allāhumma shalli ‘alā Muhammad…
Wa ‘alā āli Muhammad…
Shallū ‘alaih… ṣallū wasallimū taslīmā.
---
Ya Nabi salam alaikaa
Ya Rasul salam.. salam alaikaa
Ya Habib salam alaikaa
sholawatullah salam alaikaa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar