Senin, 15 Desember 2025

Untuk Ibu, di Langit Doaku

Untuk Ibu, di Langit Doaku

Ibu,
dalam tidurku kau hadir
bukan untuk meminta,
tapi mengulurkan tangan
seolah ingin menenangkan hatiku.

Padahal aku tahu,
akulah yang masih belajar ikhlas,
akulah yang sering merasa
belum cukup berbakti.

Jika ada kata yang tak sempat terucap,
pelukan yang tertahan oleh waktu,
atau air mata yang baru jatuh setelah kepergianmu.
maka ya Allah,
terimalah semua itu sebagai doa anak
yang mencintai ibunya tanpa syarat.

Ampuni ibu,
dan ampunilah aku.
Jika rindu ini berat,
ringankanlah dengan rahmat-Mu.

Ibu,
jika benar jarak itu hanya sejengkal,
maka pertemukan kami kelak
tanpa perpisahan,
di tempat di mana maaf
tak lagi perlu diucap,
karena cinta telah sempurna.

Selasa, 02 Desember 2025

DUA PILAR SEBUAH NAMA

Dua Pilar Sebuah Nama

Ada dua hal yang membuat seseorang berdiri tegap di hadapan manusia.
Bukan karena nama yang panjang,
bukan pula karena suara yang paling keras.

Pertama adalah integritas.
Ia seperti akar yang menancap dalam.
Tak terlihat, tapi darinyalah kepercayaan tumbuh.
Ketika ucapan selaras dengan perbuatan,
ketika amanah dijaga meski tak ada yang mengawasi,
di situlah hati-hati mulai percaya.

Kedua adalah kapasitas.
Ia seperti ranting yang menjulang dan daun yang merekah.
Terlihat oleh mata, dinilai oleh dunia.
Ilmu, kemampuan, karya, dan bukti nyata —
itulah yang membuat seseorang diakui keberadaannya.

Dan hidup selalu meminta kita memiliki keduanya:
akar yang kuat agar tidak tumbang,
dan cabang yang berkembang agar terus bermanfaat.

Sebab orang memang dipercaya karena integritasnya,
dan diakui karena kapasitasnya.
Namun dihormati — itu hanya diberikan kepada
mereka yang menjaga keduanya dengan rendah hati.

Senin, 17 November 2025

AL-QURAN ADALAH...

Al-Qur’an adalah… 

Al-Qur’an adalah surat cinta Allah
yang turun perlahan ke bumi,
menyentuh hati-hati yang letih
dan membangunkan jiwa yang hampir padam.

Ia adalah cahaya
yang tinggal di sela-sela kesedihan,
membisikkan,
“Tidak apa-apa, pulanglah kepada Tuhanmu.”

Al-Qur’an adalah sahabat paling setia,
yang tak pernah menuntut,
tetapi selalu menguatkan.
Saat engkau membaca satu ayat,
ia membalas dengan seribu ketenangan.

Ia adalah penuntun langkah,
penjaga hati,
dan pengingat lembut
bahwa hidup bukan sekadar tentang hari ini,
tetapi tentang perjalanan pulang
kepada Allah Yang Maha Mengasihi.

Siapa pun yang bersandar kepadanya,
tak akan dibiarkan jatuh tanpa pelukan.
Siapa pun yang merindukannya,
akan dirindukan kembali oleh Allah.

Maka dekaplah Al-Qur’an,
seperti engkau mendekap harapan.
Sebab di dalamnya,
seluruh hatimu dijaga,
dan seluruh hidupmu diarahkan
menuju kebaikan yang tak pernah padam.

@yufamariah

Sabtu, 15 November 2025

Di Bawah Naungan Doa

Puisi Pengantin

 “Di Bawah Naungan Doa”

Bismillahirrahmanirrahim…
Pada hari yang Allah pilihkan ini,
dua hati kembali pada takdirnya.
Takdir yang dahulu hanya sebatas harapan,
kini berdiri menjadi kenyataan
yang diselimuti doa dan keberkahan.

Wahai dua insan yang hari ini disatukan,
ketahuilah…
cinta bukan sekadar pertemuan dua mata,
tetapi pertemuan dua jiwa
yang sama-sama ingin pulang
kepada Allah yang Maha Menjaga.

Semoga rumah yang kalian bangun
menjadi tempat pulang yang paling teduh,
tempat di mana kegelisahan luruh,
dan setiap langkah menjadi ibadah
yang mengantarkan pada ridha-Nya.

Semoga kalian saling menggenggam
bukan hanya ketika bahagia,
tetapi ketika air mata jatuh,
ketika kata-kata tak lagi cukup,
dan hanya doa yang mampu bicara.

Semoga kalian saling memaafkan
bahkan sebelum kesalahan terucap,
saling menguatkan
saat dunia terasa berat,
dan saling menenangkan
ketika hati sedang sempit.

Dan bila suatu hari nanti
Allah titipkan amanah kecil di tangan kalian,
semoga ia tumbuh dalam cinta
yang disiram oleh iman,
dan dibesarkan oleh dua hati
yang selalu kembali pada Tuhan.

Wahai pengantin yang diberkahi,
berjalanlah bersama dalam kebaikan,
beriringan menuju surga,
sebab cinta yang paling indah
adalah cinta yang mengantarkan pemiliknya kepada Allah.
Dzat yang menyatukan kalian hari ini.

Barakallahu lakuma…
Semoga Allah memberkahi kalian,
dan menyatukan kalian berdua
dalam kebaikan yang tiada akhir.

@yufamariah

Selasa, 16 September 2025

TAFSIR SURAH AT-TAUBAH : 128

Tafsir ringkas dari ulama besar mengenai QS. At-Taubah ayat 128 🌿, sebagai berikut :

📚 Tafsir Ibnu Katsir

“Laqad jaa’akum rasuulum min anfusikum”
Maksudnya: Rasulullah ﷺ berasal dari kaum Quraisy, bangsa Arab. Beliau adalah manusia yang paling mulia nasabnya, paling baik akhlaknya, dan paling lembut hatinya terhadap umatnya.

“Azîzun ‘alaihi maa ‘anittum”
Beliau sangat merasa berat bila umatnya mendapat kesulitan, baik dalam agama maupun dunia. Beliau tidak senang bila umatnya jatuh ke dalam kebinasaan.

“Harîshun ‘alaikum”
Rasulullah ﷺ sangat ingin umatnya mendapat hidayah dan keselamatan, sampai-sampai beliau rela berkorban nyawa. Ibnu Katsir menegaskan: beliau lebih mengutamakan umat daripada dirinya sendiri.

“Bil-mu’minîna ra’ûfur rahîm”
Allah menyifati Nabi ﷺ dengan dua sifat-Nya sendiri: ra’ûf (sangat pengasih) dan rahîm (penyayang). Ini menunjukkan betapa besarnya cinta Nabi kepada orang-orang beriman.

---

📚 Tafsir Jalalain

“Min anfusikum”: Dari golongan kalian sendiri, supaya lebih kalian kenal, tidak asing.

“Azîzun ‘alaihi maa ‘anittum”: Sangat berat baginya bila kalian susah, menderita, atau binasa.

“Harîshun ‘alaikum”: Ia sangat menginginkan keimanan, kebaikan, dan keselamatan bagi kalian.

“Bil-mu’minîna ra’ûfur rahîm”: Terhadap orang-orang beriman Nabi sangat pengasih dan penyayang, penuh kelembutan dan cinta.

---

🌸 Kesimpulan tafsir para ulama

Ayat ini adalah pujian Allah langsung kepada Nabi Muhammad ﷺ:

Beliau berasal dari kalangan manusia sendiri (bukan malaikat, bukan asing).

Beliau menanggung beban derita umatnya.

Beliau sangat menginginkan keselamatan bagi umat.

Beliau penuh kasih sayang, khususnya kepada orang beriman.

💡 Karena itu, ayat ini sering dibacakan untuk menumbuhkan mahabbah (cinta) kepada Rasulullah ﷺ dan rasa syukur atas kasih sayang beliau.

🌿 Berikut beberapa kisah nyata dari sirah Nabi ﷺ yang menunjukkan kasih sayang beliau, sesuai dengan makna QS. At-Taubah ayat 128.

---

🌸 1. Rasulullah ﷺ menahan azab untuk umatnya

Ketika malaikat Jibril menawarkan untuk menghancurkan penduduk Thaif yang menyakiti Nabi dengan batu, Rasulullah ﷺ menjawab:

> “Jangan. Aku berharap dari keturunan mereka akan lahir orang-orang yang beribadah hanya kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

👉 Ini menunjukkan betapa beliau tidak ingin umat binasa, meski beliau disakiti.

---

🌸 2. Rasulullah ﷺ menangis karena umatnya

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah ﷺ membaca doa:

> “Ya Allah, umatku, umatku!”

Maka Allah menenangkan beliau melalui malaikat Jibril:

> “Sesungguhnya Kami akan membuatmu ridha terhadap umatmu, dan Kami tidak akan menyusahkanmu.”
(HR. Muslim)

👉 Nabi ﷺ tidak hanya memikirkan dirinya, tetapi menangis memikirkan nasib kita semua.

---

🌸 3. Kasih sayang terhadap anak kecil

Rasulullah ﷺ sering mencium cucunya, Hasan dan Husain. Seorang sahabat berkata:

> “Aku punya sepuluh anak, tapi tak pernah kucium satupun.”

Rasulullah ﷺ menjawab:

> “Barangsiapa tidak menyayangi, maka dia tidak akan disayangi.”
(HR. Bukhari & Muslim)

👉 Ini cerminan sifat ra’ûf (pengasih) dan rahîm (penyayang).

---

🌸 4. Doa untuk umat pada hari kiamat

Dalam hadits panjang tentang syafa’at, Nabi ﷺ bersujud di hadapan Allah dan berdoa untuk umatnya, hingga Allah berfirman:

> “Angkatlah kepalamu wahai Muhammad. Ucapkanlah, niscaya akan didengar. Mohonlah, niscaya akan diberikan. Mintalah syafa’at, niscaya syafa’atmu diterima.”
(HR. Bukhari & Muslim)

👉 Ini bukti bahwa Nabi ﷺ tetap memperjuangkan keselamatan umat hingga di akhirat.

---

✨ Inti Hikmah

Ayat “laqad jaa’akum rasuulun min anfusikum...” benar-benar hidup dalam perjalanan Nabi ﷺ:

Beliau berat melihat umat menderita.

Beliau mengharapkan keselamatan umat lebih dari apapun.

Beliau penuh kasih sayang bahkan kepada yang menyakitinya.

----

Berikut renungan hati, berdasarkan makna QS. At-Taubah ayat 128 dan kisah-kisah kasih sayang Rasulullah ﷺ.

---

🌸 Narasi Puitis: “Kasih Sayang Rasulullah untuk Umat”

Sungguh, telah datang kepada kita seorang Rasul…
dari golongan kita sendiri,
yang kita kenal nasabnya,
kita saksikan akhlaknya,
dan kita rasakan cintanya.

Dialah Muhammad ﷺ…
yang hatinya perih bila kita terluka,
yang matanya basah memikirkan umatnya,
yang doanya tak pernah putus demi keselamatan kita.

Di Thaif, beliau dihina, dilempari, dilukai…
tapi lisannya tak melaknat,
justru berdoa,
“Ya Allah, beri mereka keturunan yang beribadah kepada-Mu.”

Di malam tahajudnya, beliau menangis,
“Umatku… umatku…”
hingga Allah berfirman menenangkan hatinya,
“Aku akan membuatmu ridha terhadap umatmu.”

Di pangkuannya, cucu-cucunya dicium dengan penuh cinta,
beliau mengajarkan,
“Siapa yang tak menyayangi,
tak akan disayangi.”

Dan kelak, di hari penuh guncangan,
di saat para nabi berkata,
“Diriku, diriku…”
hanya Muhammad ﷺ yang berkata,
“Umatku… umatku…”
beliau bersujud, memohonkan syafa’at,
hingga umatnya diselamatkan.

Wahai hati, tidakkah engkau tergetar?
Dialah yang lebih menginginkan keselamatan kita
daripada dirinya sendiri.
Dialah yang Allah sebut ra’ûf dan rahîm,
pengasih lagi penyayang.

Maka, bagaimana cinta kita padanya?
Sudahkah kita menjawab kasihnya
dengan shalawat dan ittiba’ (mengikuti sunnah)?

---

Maka bershalawatlah kita…
Dengan cinta yang tulus untuknya…

Allāhumma shalli ‘alā Muhammad…
Wa ‘alā āli Muhammad…
Shallū ‘alaih… ṣallū wasallimū taslīmā.

---
Ya Nabi salam alaikaa
Ya Rasul salam.. salam alaikaa
Ya Habib salam alaikaa
sholawatullah salam alaikaa


Kamis, 11 September 2025

Menata Hati dengan Cahaya Rasulullah ﷺ

🌙 Menata Hati dengan Cahaya Rasulullah ﷺ 🌙

الحمد لله رب العالمين
Wahai hadirin yang dimuliakan Allah,

Hati manusia ibarat cermin. Jika dibiarkan berdebu, ia akan buram dan gelap. Namun jika disinari cahaya Rasulullah ﷺ, hati itu akan kembali bercahaya, penuh kasih sayang, sabar, dan lembut.

Mari kita dengarkan hikayat-hikayat indah dari sang Kekasih Allah…


---

🌿 Hikayat Pertama: Rasulullah dan Wanita Tua Pelempar Sampah

Setiap hari, seorang wanita tua melempari beliau dengan sampah. Namun, Rasulullah ﷺ tidak pernah marah.
Saat wanita itu sakit, beliau malah menjenguknya, membawakan makanan, menanyakan keadaannya.
Hati wanita itu luluh dan akhirnya bersyahadat.
🌸 Inilah cahaya Rasulullah ﷺ: membalas kebencian dengan kasih sayang.

Khoirunnas anfauhum linnas, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk manusia lainnya.


---

🌙 Hikayat Kedua: Rasulullah dan Anak Kecil

Rasulullah ﷺ memeluk, menyapa, dan mencium anak-anak dengan penuh cinta.
Beliau bersabda: “Barangsiapa tidak mengasihi, maka ia tidak akan dikasihi.”
🌸 Inilah cahaya Rasulullah ﷺ: menata hati agar hidup penuh kasih sayang.


---

🌸 Hikayat Ketiga: Rasulullah dan Unta yang Menangis

Seekor unta menangis karena diperlakukan kasar. Rasulullah ﷺ mengusap lehernya, menenangkannya, lalu menegur pemiliknya agar berbuat baik kepada hewan.
🌸 Inilah cahaya Rasulullah ﷺ: hati yang lembut, bahkan terhadap makhluk selain manusia.


---

🌟 Hikayat Keempat: Rasulullah dan Penduduk Thaif

Ketika beliau diusir, dilempari batu hingga berdarah, malaikat menawarkan untuk membinasakan Thaif.
Namun beliau justru berdoa: “Ya Allah, berilah hidayah kepada kaumku, sesungguhnya mereka tidak mengetahui.”
🌸 Inilah cahaya Rasulullah ﷺ: hati yang pemaaf, meski punya alasan untuk membalas.

Hikayat Kelima : 🌙 Hikayat Rasulullah ﷺ dan Laki-laki Badui 🌙

Dikisahkan, suatu hari Rasulullah ﷺ duduk bersama para sahabatnya. Tiba-tiba seorang laki-laki Badui masuk, wajahnya keras dan tutur katanya kasar. Ia menuntut haknya dengan suara tinggi, seakan tidak menghormati majelis. Para sahabat geram, namun Rasulullah ﷺ tetap tersenyum, wajahnya penuh kesabaran.

Beliau lalu berkata dengan lembut:
"Berikanlah haknya. Sesungguhnya pemilik hak berhak untuk berbicara."

Setelah mendapatkan bagiannya, orang Badui itu berkata dengan puas, namun Rasulullah ﷺ tidak berhenti di situ. Beliau menambahinya dengan hadiah, lalu menatapnya dengan kasih sayang. Hati orang Badui itu luluh, matanya basah, ia berkata:
"Engkau membalas keburukan dengan kebaikan, wahai Muhammad. Demi Allah, engkau adalah utusan-Nya."

Para sahabat terheran. Rasulullah ﷺ menoleh kepada mereka dan bersabda:
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia."

---

🌸 Hikmah:
Dari hikayat ini, kita belajar bahwa menata hati dengan cahaya Rasulullah ﷺ adalah menata hati dengan kesabaran, kelembutan, dan kasih sayang. Beliau mampu merubah kerasnya hati menjadi lembut, karena hatinya dipenuhi cahaya ilahi.

Bahkan Allah dan Malaikat NYA bershalawat atas Nabi, di tuangkan dalam surah Al Ahzab : 56, dan menyeru orang beriman untuk bershalawat dengan sebaik-baik nya salam dan penghormatan.

Ya nabi salam alaika... ya rasul salam alaika, ya habib salam alaika , sholawatullah salam alaika

sholawat pun mampu menjadi syifa atau obat penyejuk hati dan jiwa : 
Allahummasolli wasallim ala sayidina muhammad tibil qulubi wadawa iha, wa afiyatil abadaniwa syifa iha, wanuril absyori wadiya iha, wa ala alihi wasobhi wasalim.

selain shalat obat penyejuk hati kita adalah Al Qur'an, Ifta qulubana.. tilawatil Qur'an, bacalah Al-Qur'an... Al-Quran sumber kehidupan.

---

🌺 Hadirin yang dimuliakan Allah,
Inilah teladan agung. Cahaya Rasulullah ﷺ adalah cahaya yang menuntun kita:

dari marah menuju sabar,

dari keras menuju lembut,

dari benci menuju cinta,

dari gelap menuju cahaya.


Maka mari kita menata hati dengan cahaya Rasulullah ﷺ,
agar hidup kita dipenuhi rahmat, dan langkah kita menuju ridha Allah Ta‘ala.

و صلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
و الحمد لله رب العالمين


---




Minggu, 07 September 2025

Kisah Umar Bin Khaththab R.A. Yang Takut Putranya Menjadi Pemimpin

Hikayat Umar dan Putranya

Alkisah, pada masa khalifah kedua kaum muslimin, Umar bin Khaththab r.a., tibalah suatu hari ketika beliau ditusuk oleh seorang majusi. Luka itu membuat jasadnya lemah, sementara umat Islam kebingungan: siapa yang kelak akan menggantikan kepemimpinan sepeninggal beliau?

Maka berkumpullah para sahabat, mengusulkan nama-nama yang mulia. Ada yang berkata, “Wahai Amirul Mukminin, mengapa tidak Abdullah, putramu sendiri? Ia seorang yang faqih, zuhud, dan penuh amanah.”

Namun Umar menatap mereka dengan mata yang berat, lalu berkata,
“Cukuplah satu rumah dari Umar yang kelak akan ditanya di hadapan Allah. Jangan kalian bebankan lagi kepemimpinan kepada putraku. Jika aku memikul amanah ini dan aku ditanya, semoga Allah mengampuniku. Tapi aku tidak ingin menyeret anakku ke hisab yang panjang.”

Maka bergemalah di hati para sahabat, bahwa kepemimpinan bukanlah warisan darah, melainkan amanah yang hanya layak bagi siapa yang dipilih Allah melalui musyawarah kaum muslimin.

Demikianlah Umar menjaga umat dari fitnah kekuasaan, menolak mewariskan tahta kepada putra, meski Abdullah bin Umar adalah seorang yang mulia.

Hikayat ini turun-temurun dikenang, menjadi pelajaran sepanjang masa:
Bahwa pemimpin sejati adalah yang takut kepada Allah,
bukan yang mengejar kuasa.


---

Doa Penutup

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الأَمَنَاءِ، وَوَفِّقْنَا لِحَمْلِ الأَمَانَةِ بِالصِّدْقِ وَالإِخْلاَصِ، وَأَبْعِدْنَا عَنْ طَلَبِ الرِّيَاسَةِ وَالْفِتْنَةِ، وَاخْتِرْ لَنَا قَادَةً يَخَافُونَكَ وَيَرْعَوْنَ حُقُوْقَ عِبَادِكَ.

Allahumma aj‘alnā min ‘ibādikal-umanā’, wa waffiqnā liḥamli al-amānah biṣ-ṣidqi wal-ikhlāṣ, wa ab‘idnā ‘an ṭalabi ar-riyāsah wal-fitnah, wakhtar lanā qādatan yakhāfūnaka wa yar‘awn ḥuqūqa ‘ibādika.

Artinya:
“Ya Allah, jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang amanah. Berilah kami taufik untuk memikul tanggung jawab dengan jujur dan ikhlas. Jauhkan kami dari ambisi kekuasaan dan fitnahnya. Dan pilihkan bagi kami para pemimpin yang takut kepada-Mu serta menjaga hak-hak hamba-Mu.”

........

ANALISIS HiKAYAT

Kisah Umar bin Khaththab r.a. yang takut jika putranya menjadi pemimpin cukup masyhur, dan sarat hikmah tentang amanah kepemimpinan.

🔹 Riwayat Singkat
Setelah Umar bin Khaththab r.a. ditusuk oleh Abu Lu’lu’ah al-Majusi, kaum muslimin mendesaknya untuk menunjuk seorang khalifah pengganti. Umar kemudian membentuk tim syura (enam sahabat) untuk memilih khalifah setelahnya.

Beberapa orang ada yang mengusulkan agar putra beliau, Abdullah bin Umar r.a., masuk dalam daftar calon khalifah. Namun Umar menolak dengan tegas:

> “Cukuplah satu keluarga (satu rumah) dari Umar yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Jangan bebani keluarga Umar dengan kepemimpinan lagi.”

Dalam riwayat lain, Umar r.a. berkata kepada Abdullah putranya:

> “Engkau tidak akan aku serahi urusan ini. Cukuplah sudah ayahmu yang memikul amanah besar ini.”

🔹 Hikmah dari Kisah Ini

1. Kepemimpinan adalah amanah berat, bukan kedudukan untuk dibanggakan. Umar r.a. memahami betul beratnya hisab seorang pemimpin di hadapan Allah.

2. Menghindari dinasti kekuasaan. Umar r.a. tidak ingin umat mengira kepemimpinan diwariskan seperti kerajaan.

3. Menjaga keikhlasan dan keadilan. Abdullah bin Umar sendiri adalah sahabat mulia, faqih, zuhud, dan adil. Namun, ayahnya lebih memilih menjaga umat dari fitnah kekuasaan yang berbau nepotisme.

4. Teladan bagi pemimpin setelahnya. Umar mengajarkan bahwa memegang jabatan bukan sekadar soal kemampuan, tapi juga soal menjaga umat dari perpecahan dan fitnah.

🔹 Pelajaran untuk Kita
Kisah ini menunjukkan bahwa seorang pemimpin sejati bukanlah yang mengejar jabatan, tetapi justru takut dan berhati-hati dari tanggung jawab besar itu. Bahkan Umar r.a., yang dijamin surga, merasa cukup keluarganya memikul satu amanah kepemimpinan.



Rabu, 03 September 2025

Ilmu : Cahaya yang Tak Padam Meski Tak Dihargai”

📖 Motivasi Penuntut Ilmu

Menuntut ilmu bukanlah perjalanan yang mudah. Ia membutuhkan tenaga, waktu, harta, bahkan kesabaran yang luar biasa. Tidak jarang, seorang penuntut ilmu harus rela meninggalkan kenyamanan, berjuang di tengah keterbatasan, dan bersabar menghadapi ujian demi ujian.

Namun, ketika sampai pada titik keberhasilan, seringkali dunia tidak adil. Ilmu yang diperjuangkan dengan susah payah tidak selalu dihargai. Ada yang meremehkan, ada yang mengabaikan, bahkan ada yang mencemooh.

Di sinilah ujian terbesar seorang penuntut ilmu: menjaga hati agar tetap ikhlas. Karena sejatinya, ilmu tidak dituntut demi pujian manusia, bukan pula demi kemuliaan di hadapan makhluk. Ilmu dituntut untuk mencari ridha Allah, agar ia menjadi cahaya yang menerangi kehidupan.

Ingatlah, penghargaan manusia bisa hilang, tetapi keberkahan ilmu dari Allah akan abadi. Siapa yang menuntut ilmu dengan tulus, niscaya Allah akan angkat derajatnya, meski dunia menutup mata.

🌿 Allah berfirman:
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat...” (QS. Al-Mujadilah: 11)

📜 Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barangsiapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.”
(HR. Muslim, no. 2699)

📖 Kisah Inspiratif Penuntut Ilmu

Suatu ketika, Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah (seorang ulama besar, pendiri madzhab Hanbali) berjalan jauh hanya untuk mendengar satu hadits dari seorang perawi. Beliau rela menempuh perjalanan panjang, meninggalkan kenyamanan, hanya demi memastikan kebenaran satu kalimat dari Rasulullah ﷺ.

Dalam perjalanan itu, beliau pernah mengalami lapar, haus, bahkan ditolak ketika hendak bermalam di sebuah masjid. Sampai-sampai beliau harus tidur di jalanan. Namun, beliau tidak marah, tidak mengeluh. Sebaliknya, beliau tetap menjaga keikhlasan dan kesabaran.

Ketika ditanya, “Wahai Imam, mengapa engkau bersusah payah seperti ini, padahal engkau sudah menjadi ulama besar dan dikenal banyak orang?”

Beliau menjawab dengan penuh ketawadhuan:
“Saya akan terus menulis ilmu hingga masuk ke dalam kubur.”

Kisah ini mengajarkan kita bahwa menuntut ilmu itu perjuangan panjang, tidak berhenti hanya karena sudah merasa cukup. Pengorbanan yang besar tidak selalu dihargai manusia, tapi Allah-lah yang akan meninggikan derajat orang berilmu.

---

🌿 Pelajaran:

1. Menuntut ilmu butuh kesabaran dan pengorbanan.
2. Ilmu tidak mengenal kata “cukup”.
3. Jangan menunggu penghargaan manusia, karena pahala sejati datang dari Allah.

📖 Kisah Sahabat: Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu

Abu Hurairah adalah salah satu sahabat Nabi ﷺ yang paling banyak meriwayatkan hadits. Namun, tidak semua orang tahu betapa besar pengorbanan beliau dalam menuntut ilmu.

Beliau pernah berkata:
"Aku dulu adalah seorang miskin dari kalangan Ahlus Shuffah. Aku sering lapar hingga jatuh pingsan di masjid karena tidak kuat menahan perut. Kadang aku menempelkan batu di perutku untuk menahan rasa lapar."

Meskipun hidup dalam kesulitan, Abu Hurairah tidak meninggalkan majelis Rasulullah ﷺ. Beliau lebih memilih mendengarkan setiap sabda Nabi daripada mencari pekerjaan tetap, karena cintanya kepada ilmu. Hingga akhirnya, beliau menjadi salah satu sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits—sekitar 5374 hadits.

Apa yang beliau perjuangkan dengan lapar, sabar, dan kesungguhan, kini kita rasakan sebagai warisan ilmu yang mulia.

---

🌿 Pelajaran dari kisah ini:

1. Ilmu membutuhkan pengorbanan, bahkan terkadang menahan lapar dan lelah.

2. Kesabaran dan keikhlasan dalam menuntut ilmu akan Allah abadikan sebagai pahala jariyah.

3. Jangan khawatir jika manusia tidak menghargai—lihatlah, hingga hari ini Abu Hurairah dihormati jutaan orang karena ilmu yang beliau wariskan.




Senin, 18 Agustus 2025

BIOGRAFI MARIAHYUFA _UNTUKSEBUAHHATI

Biografi Mariah Yufa – Untuk Sebuah Hati

Nama Lengkap             : Mariah Ulfah Al-Qibtiyah

Nama Pena                   : Mariah Yufa

Tempat, Tanggal Lahir : Jakarta, 29 Maret 1983

Pendidikan:
Sarjana (S1) Bahasa dan Sastra, Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA) Jakarta.

Karier & Pengalaman:
Pernah menjadi pengajar di SMA dan SMK 2 PKP Jakarta Islamic School.

Mentor bimbingan belajar Primagama.

Aktif di dunia organisasi sejak remaja, di antaranya sebagai Koordinator Ekstrakurikuler Teater OSIS MAN 2 Jakarta.

Pembina Pramuka, Paskibra , Majalah Greast, Kajian Akhwat, Staf Kesiswaan di SMA PKP Jakarta Islamic School.

Karya & Aktivitas:
Mariah Yufa dikenal sebagai penulis dan konten kreator Islami dengan tema “Untuk Sebuah Hati”. Melalui tulisan, kajian, dan konten digital, ia berfokus pada:

Renungan hati dan ketenangan jiwa.

Motivasi Islami tentang kesabaran, ikhlas, dan cinta kepada Allah.

Dakwah literasi melalui media sosial, blog, dan kajian-kajian majelis taklim.

Karyanya banyak mengangkat pesan sederhana namun penuh makna—sebuah ruang untuk siapa saja yang ingin menenangkan hati, menemukan kekuatan dalam doa, serta menguatkan diri di tengah perjalanan hidup.

Peran dalam Masyarakat:
Selain aktif menulis, ia juga menjadi pembina Majelis Taklim dan pembicara dalam kajian Islami. Melalui karya bertema “Untuk Sebuah Hati”, Mariah Yufa berupaya menghadirkan cahaya nasihat dan inspirasi agar hati-hati yang gelisah menemukan ketenangan.

BIOGRAFI MARIAH YUFA (MARIAH ULFAH AL QIBTIYAH)

📖 Biografi Mariah Yufa

"Untuk Sebuah Hati"

---

Bab 1 – Awal Kehidupan

Mariah Ulfah Al-Qibtiyah, yang akrab disapa Mariah Yufa, lahir di Jakarta pada 29 Maret 1983. Ia merupakan anak kedua dari tiga bersaudara, tumbuh dalam keluarga yang sederhana namun sarat dengan nilai religius. Sejak kecil, Mariah dikenal sebagai sosok yang tenang, gemar membaca, dan memiliki kepekaan pada dunia perasaan serta kata-kata.

---

Bab 2 – Pendidikan dan Organisasi

Ketertarikannya pada bahasa dan sastra membawa Mariah menempuh pendidikan di Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA), jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Saat remaja, ia aktif dalam berbagai kegiatan organisasi, di antaranya:

OSIS MAN 2 Jakarta (Koordinator Ekstrakurikuler Teater)

Pembina Pramuka, Paskibra, Majalah Greast, Kajian Akhwat SMA PKP Jakarta Islamic School.

Kecintaannya pada seni, sastra, dan kepemimpinan membentuk karakter disiplin sekaligus peka terhadap lingkungan sekitar.

---

Bab 3 – Mengabdi di Dunia Pendidikan

Setelah menyelesaikan pendidikan, Mariah menekuni dunia mengajar.

Guru di SMA dan SMK 2 PKP Jakarta Islamic School

Mentor di Bimbel Primagama

Pembina kegiatan ekstrakurikuler dan kepanitiaan.

Baginya, profesi guru adalah jalan dakwah. Ia tidak hanya mengajarkan ilmu, tetapi juga menanamkan nilai, adab, dan keteladanan.

---

Bab 4 – Lahirnya Untuk Sebuah Hati

Perjalanan hidup tidak selalu mudah. Dalam banyak episode, Mariah merasakan bagaimana hati manusia bisa rapuh. Dari refleksi pribadi, doa, dan pengalaman hidup itulah lahir sebuah karya dakwah personal bernama “Untuk Sebuah Hati”.

Melalui ruang ini, ia menulis dengan bahasa yang sederhana namun penuh makna. Pesan yang dibawa adalah keteguhan iman, kesabaran dalam ujian, serta pengingat bahwa hati harus selalu kembali kepada Allah.

---

Bab 5 – Dakwah dan Literasi

Selain menulis, Mariah juga aktif memberikan kajian di berbagai majelis, termasuk sebagai pembina Majelis Taklim Al-Qibtiyah. Ia menggabungkan pendekatan sastra dengan pesan keislaman, menjadikan tulisannya lembut sekaligus menyentuh sisi terdalam pembaca.

Karya-karyanya dalam Untuk Sebuah Hati menjadi cermin perjalanan spiritual, juga penguat bagi mereka yang tengah mencari ketenangan.

---

Bab 6 – Filosofi Hidup

Filosofi yang dipegang Mariah Yufa adalah:

“Setiap hati punya luka dan rapuhnya masing-masing. Tetapi justru dari situlah kekuatan terbesar muncul, bila hati disandarkan hanya kepada Allah, Sang Pemilik Hati.”

---

Penutup

Bagi Mariah Yufa, Untuk Sebuah Hati bukan sekadar nama, melainkan amanah. Ia ingin terus menjaga agar setiap kata yang ia tulis menjadi pengingat, bahwa hati—seberapapun lemah—selalu bisa menemukan kekuatannya ketika dekat dengan Allah.

Penulis : Nakula Sadewa

Minggu, 17 Agustus 2025

AUTOBIOGRAFI MARIAHYUFA (MARIAH ULFAH AL QIBTIYAH)

Aku adalah Mariah Yufa, seorang anak manusia yang lahir di Jakarta, 29 Maret 1983. Anak kedua dari tiga bersaudara, yang tumbuh bersama doa-doa orang tua dan hangatnya kasih keluarga.

Bahasa adalah duniaku, hingga aku menempuh jalan itu di Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka. Dari bahasa aku belajar menyusun kata, dan dari kata aku belajar menyentuh hati.

Aku menapaki jejak sebagai guru, pembina, mentor, sekaligus sahabat bagi banyak pelajar di SMA dan SMK PKP Jakarta Islamic School. Aku pernah memandu Pramuka, Paskibra, kajian akhwat, majalah sekolah, hingga karya sastra. Pernah menjadi MC, moderator, ketua,  sekretaris, bendahara, bahkan panitia acara. Semua peran itu mengajarkanku: bahwa pengabdian tak selalu besar, tapi setiap detail adalah ladang amal.

Kini aku berdiri di tengah masyarakat sebagai Wakil Ketua FKMT Kelurahan Cibubur, Ketua Majelis Ta’lim Al Kamal, dan Pembina Majelis Ta’lim Al Qibtiyah. Dari ruang-ruang ilmu, aku menemukan cahaya: bahwa hati yang ikhlas selalu akan Allah jaga.

Tahun 2012, aku mulai menulis. Dari luka, dari doa, dari perjalanan hidup. Aku menamainya “Untuk Sebuah Hati”—sebuah persembahan kecil, agar ada hati yang merasa ditemani, ada jiwa yang kembali pada Rabbnya.

Harapanku sederhana: semoga aku bisa terus menulis, terus berbagi, terus berjuang, hingga setiap kata menjadi amal, dan setiap amal menjadi jalan menuju ridha Allah SWT.

Senin, 11 Agustus 2025

Kisah Sayidah Maryam Dalam Diam

Kisah Maryam dalam Sunyi
Untuk Sebuah Hati yang Sedang Menunggu Jawaban Langit

Di sepertiga malam, ketika dunia tenggelam dalam diam,
Ada satu jiwa suci yang pernah mengandung keajaiban dalam kesendirian:
Dialah Maryam.
Perempuan yang tak disebut oleh manusia, tapi diagungkan oleh Tuhan.

Ia tak meminta disanjung.
Ia tak mengejar cinta makhluk.
Ia tak menuntut dunia mengerti.
Yang ia tahu: tugasnya adalah taat.
Tunduk.
Diam.
Dan percaya.

"Maka dia mengasingkan diri dari keluarganya ke tempat di sebelah timur..."
(QS Maryam: 16)

🌿 Tafsir Ibnu Katsir:
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Maryam menjauh ke tempat sunyi karena ingin menyendiri dalam ibadah kepada Allah. Bukan karena dosa, tapi karena kerinduan pada kehampaan dunia. Ia memilih kesendirian sebagai bentuk khusyuk yang tulus.

"I’tazalat min ahliha li ibadatillah."
(Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, Ibnu Katsir, QS Maryam:16)

Bayangkan:
Sendiri, muda, suci,
lalu dititipkan amanah yang membuat langit membisu dan bumi berguncang:
seorang anak tanpa seorang ayah.

Maryam tidak melawan takdir.
Ia hanya menangis — kepada Tuhan.
Ia tidak menjelaskan ke manusia.
Ia hanya bersandar pada janji Ilahi.

"Dan makanan itu datang dari mana, wahai Maryam?"
"Ini dari Allah."
(QS Ali 'Imran: 37)

📖 Kata Imam Al-Qurthubi:
"Sesungguhnya karamah itu datang kepada orang yang istiqamah. Dan Maryam adalah wanita suci yang istiqamah di jalan Rabb-nya."
(Tafsir al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an, Al-Qurthubi, QS Ali ‘Imran: 37)

Sunyinya adalah ruang paling suci.
Tangisnya adalah zikir paling murni.
Dan kesepiannya adalah taman rindu menuju ridha-Nya.

🕊️ Untukmu, wahai hati…
Jika saat ini engkau sendiri,
dipinggirkan, disalahpahami, atau bahkan dituduh karena niat baikmu—
ingatlah Maryam.
Yang menjawab tuduhan dengan bayinya yang bicara.
Karena Allah-lah yang menjelaskan saat dunia tak mengerti.

"Maka dia menunjuk kepada bayinya…"
(QS Maryam: 29)

🌙 Nasihat dari Syaikh Ibnu ‘Ajibah (Tafsir Isyari):
"Maryam adalah simbol orang yang menanggung beban takdir, tapi tetap berserah pada keagungan Yang Maha Mengetahui. Dan dari rahim ujian itulah, lahir cahaya."

🌸 Penutup
Sunyi bukan berarti sepi.
Sendiri bukan berarti tertinggal.
Jika kau sedang berada di ruang yang penuh tanya,
mungkin Allah sedang menulismu dalam kisah suci-Nya.
Seperti Maryam.
Yang dibimbing-Nya dalam sunyi…
untuk menghadirkan mukjizat.

Selasa, 05 Agustus 2025

video motivasi

https://youtube.com/shorts/rXDk-UgBQsY?si=IYxVHdmbrJKQz8ES

https://youtube.com/shorts/FMppTBqD25g?si=-EfTT83S9vAmUoiK

https://youtube.com/shorts/bVeOryjWj40?si=UGETGr0bm_y5BcCA

https://youtube.com/shorts/-Jz8sm5HNzE?si=DBRPesyqhfhzh35T

https://vt.tiktok.com/ZSSnu698L/
https://vt.tiktok.com/ZSSnu2kTg/
https://vt.tiktok.com/ZSSnuYu8j/




Sabtu, 02 Agustus 2025

Untuk Sebuah Hati

Untuk Sebuah Hati 

Untuk sebuah hati yang terlalu banyak berpura-pura kuat...
beristirahatlah.
Tak apa menangis, selama itu membuatmu kembali pada-Nya."

"Ada doa yang tak pernah kau lafazkan,
tapi Allah sudah tahu isinya.
Sebab tangismu lebih jujur dari sekadar kata-kata."

 "Jangan takut kehilangan arah.
Selama engkau masih ingin pulang,
Allah akan selalu sediakan cahaya."

"Hati yang rapuh tak butuh banyak janji,
hanya butuh dipeluk oleh doa dan dikuatkan oleh iman."

 "Bukan karena kamu tak cukup baik,
tapi karena Allah sedang ingin kamu hanya bergantung pada-Nya."

mariahyufa - untuk sebuah hati 

Kamis, 30 Januari 2025

Hak-Hak Suami Istri

HAK-HAK SUAMI ISTRI 

Kitab UQUUDU LUJAIN FII BAYAANI  HUQUUQUZ ZAUJAINI 

menguraikan hubungan antara suami dan isteri dan berbagai hak keduanya. Buku ini sangat cocok untuk dijadikan pedoman hidup menuju keluarga sakinah, mawaddah. warahmah.

"Sakinah, Mawaddah, Warahmah" (سَكِينَة مَوَدَّة رَحْمَة) adalah ungkapan dalam Islam yang sering digunakan untuk mendoakan rumah tangga agar menjadi keluarga ideal menurut ajaran Islam. Berikut arti dari masing-masing kata:

1. Sakinah (سَكِينَة)
Artinya: ketenangan, kedamaian, dan rasa tentram
→ Merujuk pada suasana hati dan rumah tangga yang tenang dan damai.

2. Mawaddah (مَوَدَّة)
Artinya: cinta kasih yang dalam dan penuh gairah
→ Cinta yang tumbuh dengan kelembutan, perhatian, dan ketulusan antara suami dan istri.

3. Warahmah (رَحْمَة)
Artinya: kasih sayang dan rahmat Allah
→ Kebaikan dan kelembutan yang terus-menerus, termasuk saling memaafkan dan menolong dalam kebaikan.

Ungkapan ini berasal dari Al-Qur’an, surat Ar-Rum ayat 21:

وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةًۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ ۝٢١

> "Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih sayang dan rahmat..."

💠 Jadi, sakinah, mawaddah, warahmah adalah doa dan harapan agar rumah tangga dipenuhi ketentraman, cinta kasih, dan rahmat Allah.

Pada pembahasan yang pertama kitab ini menjelaskan hak-hak istri. Di antaranya, suami harus memenuhi kebutuhan sandang pangan kepadanya, sebagaimana dia (suami) memenuhi kebutuhan logistiknya, larangan melakukan kekerasan fisik seperti menampar wajah, serta tidak menjelek-jelekkannya.

Hendaknya seorang suami selalu memperhatikan nafkahnya sesuai dengan kesanggupannya. Hendaknya suami selalu bersabar jika menerima cercaan isterinya, atau perlakuan-perlakuan tidak baik lainnya. Hendaknya suami mengasihani isterinya, yaitu dengan bentuk memberi pendidikan secara baik, Barang siapa bersabar atas keburukan perilaku istrinya maka Allah S.W.T akan memberi pahala kepadanya seperti pahala yang pernah diberikan Allah S.W.T kepada Nabi Ayyub AS atas cobaan yang diterimanya. Dan barang siapa bersabar atas keburukan kelakuan suaminya maka Allah S.W.T memberi pahala kepadanya seperti pahala yang pernah diberikan kepada Asiyah istri Fir’aun.
وَبَشِّرْ الصَّابِرِينَ
Maksudnya: “ Dan berilah khabar gembira kepada mereka yang sabar

Dan pada pembahasan ini juga disebutkan pengajaran yang harus didapat sang istri dari suaminya. Hendaknya seorang suami selalu menuntun isterinya pada jalan yang baik. Memberi pendidikan kepadanya berupa pengetahuan agama (Islam), meliputi hukum-hukum bersuci (thaharah) dari hadats besar. Misalnya tentang haid dan nifas, juga dalam masalah ibadah. Meliputi ibadan fardhu (wajib) dan sunnahnya. Pengetahuan tentang shalat, zakat, puasa dan haji, dan sebagainya.

Pada pembahasan yang kedua kitab ini menguraiakan hak hak suami dengan uraian sebagai berikut: Sebaik-baik istri adalah apabila dipandang oleh suaminya menyenangkan, mentaatinya, juga kalau suaminya pergi dia menjaga hartanya. Bagaimana jika seorang isteri berakhlak buruk kepada suaminya? Menurut Syekh Nawawi al-Bantani, penulis kitab ini, hal tersebut bagaikan orangtua renta yang memikul beban berat. Sedang isteri yang menyenangkan suami dan menimbulkan ketenangan di hatinya, maka itu ibarat mahkota yang dilapisi emas.

Selain itu, Syekh Nawawi al-Bantani juga menyertakan kewajiban isteri terhadap suami, antara lain:

Memiliki sikap pemalu di hadapan suami sepanjang waktu.
Merendahkan pandangannya di hadapan suami.
Mentaati apa yang diperintah suami.
Menyongsong kedatangan suami dan mengantarkannya ketika keluar rumah.
Menampakkan rasa cinta dan bergembira di hadapannya.
Menyerahkan dirinya secara penuh di sisi suaminya ketika di tempat tidur.
Memperhatikan kebersihan mulutnya dan menggunakan wewangian.
Berpenampilan menarik di hadapan suami dan tidak berhias jika suami sedang pergi.
Selain itu, penulis kitab ini juga menyertakan warning: seandainya seorang istri waktu malam beribadah kepada Allah SWT dan siangnya selalu berpuasa, sementara suaminya mengajak dia tidur bersama (jima’) tetapi dia terlambat memenuhi panggilan (ajakannya), maka kelak di hari kiamat ia datang dalam keadaan terantai dan terbelenggu, serta ia dikumpulkan bersama setan di neraka yang paling bawah. Bilamana seorang isteri yang diajak suaminya bersetubuh, lalu dia mengulur-ngulur waktu hingga suaminya tertidur, maka dia terlaknat. Apabila seorang istri bermuka masam di hadapan suaminya maka ia berada dalam kemurkaan Allah hingga ia tersenyum kembali dan berusaha meminta keridhoannya. Dan mana saja isteri yang keluar rumahnya tanpa mendapat restu suaminya maka ia dilaknati para malaikat hingga kembali. Dan, apabila seorang istri berkata pada suaminya : “Sama sekali aku belum pernah melihat engkau berbuat baik”, maka Allah SWT memutuskan rahmat baginya kelak di hari kiamat. Apabila seorang istri yang menuntut cerai suaminya tanpa ada perkara yang memperbolehkan (alasan yang jelas), maka haram baginya menikmati bau harumnya surga.(Para Ulama mengatakan hadis ini doif, namun di hadist-hadist yang sahih intinya adalah wajibnya seorang istri untuk taat kepada suaminya).

*Kesimpulannya terletak pada hadist berikut:*
“Jika seorang perempuan selalu menjaga sholat lima waktu juga berpuasa sebulan pada Ramadhan, serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina), dan benar-benar taat kepada suaminya maka dikatakan pada perempuan yang memiliki sifat mulia ini: “Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau sukai.” (HR. Ahmad)

Adapun pada bagian yang ketiga, kitab ini menjelaskan tanggung jawab suami istri dengan uraian bahwa, pertama kali yang tanyakan pada isteri di hari kiamat adalah tentang shalatnya dan suaminya. Begitu juga bagi suami, kelak yang ditanyakan pertama kali mengenai shalatnya, kemudian tentang istrinya dan perkara-perkara yang yang lain. Dengan demikian, masing-masing memiliki tanggungjawab berat sebagai pribadi yang kelak semua perbuatannya dipertanggungjawabkan di hadapan Allah S.W.T.

Di sisi lain, penulis kitab juga menyertakan empat kriteria wanita yang masuk surga, yaitu:

Istri yang memelihara kesucian (kehormatan dirinya).
Menaati suaminya, banyak anaknya, penyabar, menerima apa adanya.
Mempunyai rasa malu.
Kalau suaminya sedang pergi dia memelihara dirinya dan harta suaminya

Sedangkan empat macam wanita yang masuk neraka:
Istri yang berlisan buruk pada suaminya.
Kalau suaminya sedang pergi ia tidak menjaga kehormatan dirinya.
Istri yang berani pada suami.
Isteri yang membebani suaminya dengan beban yang tidak sanggup dipikulnya.

Pada bagian ini juga dibahas tentang berbagai pahala istri sebagaimana berikut: Apabila seorang istri sedang hamil, maka para malaikat memohonkan ampunan untuknya, dan setiap harinya dicatat memperoleh seribu kebajikan dan seribu keburukannya dihapus. Apabila telah mencapai rasa sakit (menjelang melahirkan) maka Allah SWT mencatat pahala baginya seperti pahala orang orang yang berjihad di jalan Allah SWT. Apabila telah melahirkan, maka dibebaskan dari segala dosa. Apabila seorang istri yang tidur bersama suaminya dengan sepenuh hati, sesungguhnya Allah telah mengampuni dosa-dosanya yang telah berlalu dan yang akan datang. Ketika seorang istri mencucikan pakaian suaminya, maka Allah mencatat untuknya memperoleh seribu kebajikan dan mengampuni seribu keburukannya, meninggikan seribu kali derajat untuknya dan semua makhluk yang berada di bawah sinar mentari memohonkan ampun untuknya. Dalam bab ini, Syekh Nawawi juga menyertakan ulasan siksa bagi kaum wanita yang durhaka.

Pengarang kitab juga menyertakan beberapa hal yang harus dilakukan seorang istri, yaitu:

Mudah menerima keadaan (qana’ah), berbakti dan mentaati suami.
Hendaknya seorang istri menjadi sebagai perempuan yang selalu didambakan dan dirindukan lantaran tatapan mata dan ciumannya.
Ketika bercumbu mesra dengan suaminya dalam selalu keadaan harum melekat dalam dirinya.
Hendaknya seorang istri selalu memperhatikan waktu makan dan tidur suaminya.
Hendaknya seorang istri pandai pandai memelihara harta dan rahasia keluarga suami yang dapat mempermalukan dirinya.
Hendaknya seorang istri jangan menentang perintahnya, dan jangan suka menyebarkan rahasia suami.
Sedangkan pada bab kelima, pengarang membahas tentang yang relasi antara laki laki dan perempuan. Diharamkan bagi kaum lelaki memandang kaum wanita yang bukan mahramnya, begitu juga kaum wanita melihat kaum lelaki yang bukan mahramnya. Juga dibahas aturan relasi pria-wanita dan jebakan-jebakan setan yang rawan muncul dari keduanya.

Sedangkan pada bagian yang keenam dibahas cara membentuk rumah tangga islami. Dalam Islam pernikahan itu mempunyai nilai yang sangat suci, agung dan sakral. Suami sebagai qawwam (pemimpin) dan istri sebagai ribatul bait (pengatur) rumahtangga. Setelah Ijab kabul selesai diucapkan, maka konsekwensinya:

Yang awalnya haram menjadi halal.
Terjadilah pemindahan tanggung jawab seorang wanita dari orang tua/wali ke suaminya.
Keikhlasan seorang wanita dipimpin oleh suami dan taat pada suami.
Pada bagian ini juga dibahas tentang rumah tangga yang Islami dan tipenya:

1. RUMAH TANGGA BISNIS

Pada awal dibinanya rumah tangga ini telah dihitung-hitung berapa keuntungan materi yang akan diperoleh. Bila aku menikah dengan si fulan, tabunganku akan bertambah saat dan setelah menikah. Apa pasanganku nanti dapat menambah hartaku atau malah akan mengurangi. Dan bila kami nanti punya anak, berapa anak yang kira-kira dapat menguntungkan usaha yang kami jalankan saat ini.

2. RUMAH TANGGA “BARAK”

Yang terdengar dari rumah tangga ini hanya perintah-perintah atau komando-  layaknya jendral kepada kopralnya. Bila si kopral tidak melaksanakan atau lalai menjalankan tugas, maka konsekwensinya adalah hukuman.

3. RUMAH TANGGA “ARENA TINJU”

Bila suami dan istri merasa memiliki derajat, kekuatan dan posisi yang setara serta pendapatnya. Bila ada perbedaan atau salah faham, maka dimulailah “pertandingan” yang cekcok, baku hantam atau baku UFO (piring terbang). Masing-masing berusaha mencari kemenangan dengan berbagai cara. Tidak ada kata damai sebelum salah satunya menyerah.

5. RUMAH TANGGA ISLAMI

Di dalamnya ditegakkan adab-adab Islam,. Mereka saling mencintai karena Allah, saling menasehati. Setiap anggota betah tinggal di dalamnya karena ada suasana sakinah, mawaddah dan rahmah. Keluarga ini bagaikan surga dunia, sesuai dengan sabda Rasulullah SAW: baiti jannatii artinya Rumahku adalah Surgaku. Karena di dalamnya penuh dengan kedamaian yang sejati.dan didasarkan pada nilai-nilai Islami.